Membangun Budaya Menulis: Tantangan dan Harapan

Dalam membangun sebuah bangsa yang besar, pentingnya budaya literasi dan produktivitas dalam menulis tidak boleh diabaikan.

Artikel berjudul “Nyerat atawa Sakarat” karya Prof. A. Chaidar Alwasilah, seorang Guru Besar Bahasa di Universitas Pendidikan Indonesia, menggambarkan kegelisahan akan lemahnya budaya literasi di kalangan akademisi Indonesia.

Pentingnya menulis sebagai bagian dari budaya akademik tergambar dalam kebijakan baru Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang menetapkan persyaratan publikasi karya ilmiah sebagai syarat kelulusan bagi mahasiswa.

Namun, realitas yang dihadapi masih jauh dari harapan. Produktivitas menulis di Indonesia masih rendah, terutama jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia.

Ironisnya, jumlah buku yang terbit di Indonesia jauh lebih sedikit daripada Malaysia, meskipun jumlah penduduknya jauh lebih besar.

Hal ini mencerminkan kurangnya budaya menulis yang produktif di kalangan akademisi dan masyarakat pada umumnya.

Tantangan utama dalam membangun budaya menulis adalah kurangnya kemampuan menulis yang diperlukan, baik di kalangan dosen maupun mahasiswa. Banyak dosen tidak mampu menulis proposal penelitian dengan baik, sementara mahasiswa kesulitan dalam menulis karya ilmiah.

Prof. Alwasilah menyoroti pentingnya pengajaran menulis akademik di perguruan tinggi. Perubahan paradigma dari pengajaran teori bahasa menjadi praktik menulis akademik menjadi kunci dalam mengatasi tantangan ini.

Dosen yang mengajar mata kuliah ini harus tidak hanya ahli dalam bidang spesialisasinya, tetapi juga mampu memberikan inspirasi dan keteladanan melalui produktivitas menulisnya sendiri.

Pengembangan budaya menulis juga harus dimulai dari tingkat skripsi, tesis, dan disertasi. Penulisan karya ilmiah ini tidak hanya sekadar syarat kelulusan, tetapi juga harus memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Meskipun tantangan besar yang dihadapi, ada harapan bahwa dengan upaya yang tepat, budaya menulis yang produktif dapat tumbuh dan berkembang di kalangan akademisi Indonesia.

Melalui peningkatan kemampuan menulis, kita dapat memperkuat fondasi budaya literasi yang akan membawa bangsa ini menuju arah yang lebih baik.

Sebab, seperti yang diungkapkan dalam tulisan tersebut, orang yang terampil membaca dan menulis adalah orang yang sesungguhnya terdidik.

Sumber: Republika

Kunjungi juga:

edwinls

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *