Ketika Anak Ingin Jadi Penulis

14 April 2014 Solusi Pendidikan   |    Fita Chakra


Menjadi seorang penulis, merupakan cita-cita yang tak asing lagi kita dengar sekarang. Munculnya buku-buku karya penulis cilik menimbulkan semangat bagi anak-anak untuk mengikuti jejak mereka. Bandingkan dengan masa kecil saya. Saat itu, boleh dikata, penulis cilik hanya bisa ditemukan di kolom khusus anak-anak di media cetak anak.

Oleh karenanya, tak mengherankan jika beberapa orangtua melontarkan pertanyaan seperti ini, "Bagaimana caranya membimbing anak saya yang ingin menjadi penulis?". Umumnya, para orangtua ini mengaku, mereka tidak tahu cara mengarahkan anak-anaknya yang ingin menjadi penulis karena awam dunia tulis menulis.


Sebenarnya tidak terlalu sulit kok. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya coba memberikan beberapa cara yang bisa dilakukan para orang tua.

1. Bangun kebiasaan membaca. Tanamkan pada anak-anak bahwa modal penulis adalah membaca. Banjiri anak-anak dengan buku yang berkualitas, juga bahaslah isi buku-buku itu bersama. Ganti waktu yang terpakai untuk bermain gadget dan menonton tv menjadi waktu membaca. Berikan buku-buku yang sesuai dengan minat anak-anak. Tentu saja, sebelumnya orangtua harus mengecek isinya.

2. Ajak anak menulis secara rutin. Buatlah target kecil-kecilan untuk anak. Misalnya, setelah bepergian minta mereka menuliskan pengalaman mereka. Tidak mengapa jika tulisannya belum sempurna. Yang penting terus semangati supaya rajin berlatih. Kumpulkan hasil tulisannya, kirimkan ke majalah. Jika tulisan tersebut dimuat, pasti mood anak-anak untuk menulis akan meningkat.

3. Memberikan dukungan penuh. Dukungan di sini bukan hanya dukungan moril tetapi juga dukungan fasilitas. Sediakan peralatan yang dibutuhkan, misalnya alat tulis dan komputer, buku-buku yang dibutuhkan si anak, dan sebagainya. Berikan waktu tenang agar anak-anak bisa menulis tanpa terganggu. Beri mereka semangat untuk menyelesaikan tulisan mereka.

4. Bergabung dalam klub, ekskul atau les menulis. Berbeda dengan masa kecil saya, sekarang ini mudah menemukan tempat untuk berlatih menulis dibimbing oleh praktisi yang berkecimpung di bidang kepenulisan. Ajak anak untuk bergabung di klub, ekskul atau les menulis. Dengan demikian selain mendapatkan trik, teori, dan ilmu seputar menulis cerita, anak-anak bertemu teman-teman yang punya minat yang sama dengannya. Bersama teman-teman sebaya, anak-anak akan lebih bersemangat untuk berlomba prestasi. Nilai plus yang lain dari kegiatan seperti ini adalah anak-anak bisa mendapatkan informasi tentang lomba menulis yang bisa diikuti untuk mengasah kemampuan mereka.

5. Pancing imajinasi. Tak jarang, anak-anak merasa "mati ide" sehingga mereka hampir menyerah menulis. Pada saat seperti itu, cobalah pancing imajinasinya dengan pertanyaan. Misalnya, "Bagaimana setelah ini?"; "Apa yang terjadi kalau A dan B bertemu?" dan seterusnya. Hanya saja, ingatlah untuk tidak memaksakan ide orangtua atau malah meneruskan tulisan mereka. Biarkan mereka berusaha mengasah imajinasinya.

6. Bekali dengan etika. Tanamkan nilai-nilai etika pada calon penulis cilik. Jelaskan beda "terinspirasi" dan "plagiat". Tekankan supaya anak-anak tidak menjiplak karya orang lain meski mereka sangat menyukainya. Katakan pula bahwa sesederhana apapun tulisan mereka, akan jauh lebih berharga dibanding menyalin karya orang lain.

Nah, mungkin beberapa tips di atas bisa Anda coba. Siapa tahu, putra dan putri Anda adalah calon penulis generasi mendatang.

(Penulis adalah bunda dari tiga putri. Bekerja sebagai penulis, guru ekskul menulis, dan trainer penulisan.)
Blog: fita-chakra.blogspot.com