Kepemimpinan Pembelajaran - Bagian 1

4 Desember 2013 Solusi Pendidikan   |    Jajang Suhendi


Saya mengikuti Diklat di Hotel Marbella Anyer dari tanggal 27 sampai 30 September 2010. Peserta dari kecamatan Cikedal sebanyak delapan orang yang terdiri dari tiga orang Pengawas TK/SD dan lima orang Kepala SD. Saya sangat senang menerima materi yang paling baru tentang Kepemimpinan Pembelajaran, Evaluasi Diri Sekolah, Supervisi Akademik, Penelitian Tindakan Sekolah, dan Kewirausahaan. Semua materi Diklat terdapat di dalam CD, sehingga bagi peserta yang tidak membawa laptop atau hanya membawa netbook tidak optimal dalam mengikuti pembicaraan para Widyaswara.

Apabila peserta hanya mengandalkan kemampuan pendengaran dan penglihatan saja, seperti saya mengalami kesulitan dalam mengikuti arah pembicaraan Widyswara. Sebenarnya apabila kita membawa dan mampu menggunakan laptop mengikuti pembicaraan lebih efektif. Di tempat penginapan materi bisa dipelajari dulu atau sambil mengikuti pembahasan kita memperhatikan materi dengan sebaik-baiknya.

Upaya saya hanya memberikan flashdisk kepada Widyaswara setelah selesai menjelaskan materi tesebut. Semakin terasa bagi saya bahwa mengikuti diklat dan sejenisnya harus mempunyai alat atau media elektronik seperti laptop yang bisa menggunakan flashdisk dan CD.
Menjadi peserta diklat pada zaman sekarang harus kreatif dengan memiliki kemampuan menggunakan alat-alat atau media elektronik tersebut. Sungguh tidak bisa ditinggalkan alat elektronik tersebut dalam upaya mengikuti perkembangan zaman. Termasuk saya pada waktu mengikuti diklat tersebut tidak optimal, karena hanya membawa netbook saja yang tidak bisa menggunakan CD. Namun saya tidak merasa pesimis dalam mengikuti acara demi acara.

Semangat karena saya bisa terbawa untuk mengikuti diklat tersebut. Dan semoga kami semua mampu menyampaikan kepada seluruh rekan kepala sekolah dan guru setelah mengikuti diklat itu selesai.

Pada kesempatan ini saya akan mencoba membuat ringkasan materi diklat tentang materi kepemimpinan pembelajaran kepada para pembaca yang sama-sama sebagai kepala sekolah dan guru yang berada di Kabupaten Pandeglang. Walaupun saya tetap merasa masih banyak kekurangan dalam kebahasaan dan dalam pemaparan isinya, akan tetap menulis dan terpenting bagi saya telah mampu menyampaikan pengalaman kepada rekan-rekan pembaca sudah merupakan kebahagiaan yang tidak ada bandingannya. Berarti saya sudah berbagi kepada sesama lewat tulisan.

Pada kesempatan ini saya tidak takut salah dalam menuliskannya, karena saya masih dalam taraf belajar dan termasuk penulis pemula yang masih jauh dari sempurna. Tujuan saya menulis agar kita bisa sharing dengan rekan-rekan. Dan semoga rekan-rekan mau menemukan kekurangan apa yang saya tuliskan dan mengomentarinya dengan cermat apa yang saya tuliskan tersebut, baik dari segi kebahasaan maupun dari segi isi pembahasannya.

Kritik dan saran semua rekan akan saya jadikan pelajaran. Oleh karena itu, bagi pembaca artikel ini agar bisa mengomentarinya lewat media ini juga supaya saya bisa memperhatikan langsung apa yang telah saya tulis.

Materi diklat tentang kepemimpinan pembelajaran akan saya sampaikan secara garis besarnya saja. Walaupun demikian semoga bermanfaat bagi rekan-rekan pembaca.

Kepemimpinan merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah, dari mulai kepala SD sampai kepala SMU dan sederajat. Menurut Widyaswara dan buku tentang kepemimpinan pembelajaran yang disusun oleh Direktorat Tenaga Kependidikan dan Dirjen PMPTK Tahun 2010, maka kepemimpinan pembelajaran merupakan kepemimpinan yang paling sesuai di sekolah-sekolah.

Dengan kepemimpinan pembelajaran yang baik oleh kepala sekolah, maka kegiatan pembelajaran di sekolah akan menghasilkan prestasi belajar siswa. Namun kenyataannya di sekolah-sekolah belum melaksanakan prinsip kepemimpinan pembelajaran dengan baik. Hasil penelitian Stronge (1988) dalam buku Kepemimpinan Pembelajaran Dirjen PMPTK (2010: 1) mengatakan bahwa dari seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kepala sekolah, hanya 10 persen yang dialokasikan untuk kepemimpinan pembelajaran. Hal itu akibat dari kurangnya pelatihan tentang kepemimpinan pembelajaran.

Pada saat ini masih beranggapan peran kepala sekolah sebagai manajer sekolah yang lebih utama, tetapi kenyataannya kepemimpinan pembelajaranlah yang lebih mengutamakan prestasi siswa. Banyaknya kegiatan administrasi yang harus dilaksanakan dan tugas-tugas lain kepala sekolah yang tidak langsung mempengaruhi tentang kemajuan belajar siswa dan kemajuan mengajar atau mendidik para guru. Apalagi masih banyak tugas mengelola masalah rehabilitasi atau pembangunan sekolah. Seharusnya kepala sekolah fokus pada kepemimpinan di sekolah yang langsung pada peningkatan prestasi dan kualitas pembelajaran siswa. (bersambung ke bagian 2)

Bagian 2: http: //www.kesekolah.com/solusi-pendidikan/kepemimpinan-pembelajaran-bagian-2.html

(Penulis adalah seorang guru di Cijedal-Pandeglang-Banten)
Blog: http://js-ruangberbagi.blogspot.com/