Guru dan Penulis

23 Oktober 2013 Solusi Pendidikan   |    Jajang Suhendi


Sesuai dengan pendapat sebagian orang zaman dahulu yang mengatakan bahwa guru adalah orang yang digugu dan ditiru, maksudnya orang yang diteladani. Terkandung di balik kata tersebut makna orang yang berkepribadian lebih terpuji dibandingkan dengan orang lain pada umumnya. Digugu artinya setiap kata-kata yang diucapkannya dipercaya karena kata-kata memang benar-benar baik. Ditiru artinya segala perilakunya diteladani karena menurut pandangan orang lain berkepribadian yang baik.

Sekarang kata-kata tersebut hilang dari keberadaanya karena pengaruh zaman. Memang zaman sangat mempengaruhi orang-orang. Banyak orang bergeser kepribadiannya karena pengaruh buruk dari internet. Padahal media internet sangat banyak pengaruh baiknya, kehidupan semakin efektif, praktis, dan serba mudah. Termasuk para guru yang tidak bisa menyikapi pengaruh buruk dari internet itu, tetapi hanya memperhatikan pengaruh baiknya saja.

Dari awal aktivitas kita harus sudah bisa menentukan mana hal yang baik dan mana hal yang tidak baik. Apabila ditentukan, maka semua aktivitas diawali dengan ketidak pastian. Terkadang di tengah perjalalanan banyak hambatan, seperti tampilan internet yang buruk-buruk diterimanya dengan sembarangan tanpa berani memilih dan memutuskan mana hal terbaik. Walaupun godaan terus-menerus mengganggu tanpa mau kompromi. Namun mereka hanya mengikuti hati nuraninya yang tidak mau kompromi untuk melakukan semua keburukan.

Tidak ada waktu bagi kita untuk melakukan hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Penulis mengetengahkan kepada pembaca tentang salah satu hal yang termasuk baik dalam mengimbangi pengaruh negatif internet. Kegiatan menuliskan apa yang kita baca, apa yang kita lihat, apa yang kita renungi, apa yang kita rasakan atau apa yang kita pikirkan. Daripada kita bergunjing, memaki-maki pihak lain, dan sibuk-sibuk membicarakan kekurangan orang lain, maka lebih baik kita gunakan kemampuan menulis kita dengan sebaik-baiknya. Awali dengan kata setuju dulu sebelum Anda meneruskan bacaan ini agar ada hubungan timbal balik bagi kita dam upaya mengatasi masalah pengaruh negatif internet itu.

Profesi Anda sebagai guru harus profesional dalam melaksanakan tugasnya, termasuk orang yang bukan profesi sebagai guru tetap harus memiliki jiwa dan pikiran. Di sekolah dan di rumahnya harus menyempatkan diri untuk melaksanakan tugas sebagai pembimbing anak-anak. Kita tidak bisa melepaskan tanggung jawab mengajar dan mendidik anak-anak di rumah. Tetap anak-anak kita bantu pendidikannya, tugas guru-guru di sekolah tidak akan berhasil tanpa bantuan orang tua dalam mengajar dan mendidik mereka. Walaupun sebagian orang tua siswa tidak peduli terhadap perkembangan jiwa anak-anaknya.

Anak-anak tidak cukup hanya dengan materi saja, harus ada bantuan moril dan spiritual terhadap anak-anak. Jadikanlah anak-anak kita yang memilik kepribadian utuh, yaitu memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan kinestik, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan finansialnya setelah semuanya ada pada diri siswa. Dalam pelaksanaan tugas profesi sebagai guru, maka setiap guru sebenarnya harus memiliki keahlian dan kebiasaan menulis. Kegiatan menulis merupakan kegiatan yang sangat berarti dalam membantu siswa dalam menghadapi arus globalisasi ini. Anak-anak diajak menuliskan apa saja yang merupakan solusi masalah tersebut.

Panggilan guru adalah orang yang patut digugu dan ditiru agar bisa berlaku lagi pada saat ini harus dengan perilaku guru itu sendiri membiasakan diri menuliskan berbagai penyelesaian masalah. Sebagai guru harus mampu menuliskan solusi dari masalah yang dihadapi siswa sebagai generasi penerus bangsa. Ajaklah mereka membaca dan menuliskan hal-hal dalam hubungannya dengan masalah-masalah yang dihadapinya. Tidak ada salahnya sebagai guru untuk menambah kemampuan dan kebiasaan menulis. Seorang harus melakukan tugas rangkap sebagai guru dan sebagai penulis, khususnya menulis materi bidang pendidikan. Kita akan jauh ketinggalan oleh bangsa lain yang sudah menjadikan membaca dan menulis sebagai budayanya.

Namun kegiatan menulis yang dibarengi dengan kegiatan membaca. Membaca dan menulis merupakan dua kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan bagaikan dua mata uang. Guru termasuk salah satu bagian dari kaum intelektual. Menulis merupakan ciri khas kaum intelektual. Pekerjaan kaum intelektual tidak bisa meninggalkan dua kegiatan tersebut. Apalagi sekarang guru telah diberi penghargaan tunjangan profesi dengan nama sertifikasi. Pangilannya juga sekarang sebagai guru profesional bisa mengimbangi para dosen atau guru besar. Dulu menjadi guru SD kita merasa malu mengatakannya apabila ditanya teman lama yang bekerja sebagai dokter misalnya, termasuk diri penulis sendiri.

Sekarang sudah lain dan tidak perlu merasa malu lagi dipanggil sebagai guru SD. Namun kita harus merasa malu apabila sebagai guru SD atau guru sekolah lainnya yang telah diberi penghargaan sebagai guru profesional dengan uang sertifikasinya tetapi tidak mampu dan tidak biasa menulis dan membaca. Mari kita berupaya mengejar formalitas dengan kualitas. Kita harus menyeimbangkan antara ijazah yang telah kita miliki dengan kemampuan sesuai dengan ijazah tersebut. Mari kita rintis kemampuan profesionalitas kita dengan ciri-ciri banyak membaca dan menulis.

Kita tidak mungkin bisa menulis tentang ilmu pengetahuan tanpa kita tidak banyak membaca buku. Membaca buku sebanyak-banyaknya, yaitu buku yang kita miliki sendiri sebagian besarnya. Biasanya kita lebih banyak membelikan baju atau barang-barang lainnya yang bagus dan mahal-mahal, tetapi sedikit sekali atau tidak sama sekali untuk membelikan buku-buku kepada anak-anaknya. Diharapkan seorang guru di rumahnya mempunyai perpustakaan pribadi. Buku-buku bergizi yang bisa menyehatkan badan, perasaan, dan pikiran harus kita miliki sebisa mungkin. Barang-barang mewah dulu bisa kita beli, mengapa buku tidak dibelinya.

Setelah kita mempunyai banyak buku, maka langkah selanjutnya kita memikirkan bagaimana cara membacanya agar lebih efektif. Tidak banyak waktu terbuang hanya sekedar membaca kata demi kata. Membaca seorang guru harus sudah berbeda dengan membacanya siswa SD. Apalagi guru bersertifikasi membaca buku harus melebihi guru yang belum bersertifikasi. Membaca buku banyak cara atau metodenya. Terpenting kita harus tertarik dengan buku-buku tersebut. Melihat buku banyak di toko-toko buku harus seperti melihat makanan yang sangat lezat dan bergizi.

Mengapa membaca dan menulis sangat penulis tekankan kepada guru? Alasannya sangat sederhana, karena kegiatan membaca dan menulis merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh guru tersebut. Guru termasuk salah satu bagian dari kaum intelektual yang harus bergelut dengan kegiatan membaca dan menulis tersebut. Apa kata dunia seorang intelektual tidak bisa dan tidak biasa kegiatan yang merupakan ciri khasnya. Siapa yang malu? Tanyakan pada rumput yang bergoyang saja. Mau kapan lagi memulai membaca dan menulis Pak Guru dan Bu Guru? Jawabannya sangat mudah tetapi pelaksanaannya sangatlah susah. Mari kita niatkan bahwa Saya harus membaca dan menulis sekarang juga.

Penulis adalah seorang guru di Cijedal-Pandeglang-Banten)

Blog: http://js-ruangberbagi.blogspot.com/