Chronic Absenteeism: Bagaimana Mengatasi Murid yang Suka Bolos?

5 September 2016 Solusi Pendidikan   |    Feliciany H T


Anda para guru pernahkah memiliki anak didik yang sering absen? Tenang, tidak hanya Anda yang memiliki masalah ini. Di Amerika, 1 dari 8 anak memiliki chronic absenteeism atau absen kronis. Masalah ini tidak bisa disepelakan, karena akan berpengaruh pada guru dan lingkungan pergaulan anak.

Apa itu chronic absenteeism?

Siswa yang melewatkan kelas atau absen selama 10% dari jumlah hari satu tahun pembelajran, kira - kira sekitar 15 - 20 hari, tergantung dari sekolah itu sendiri. Itulah yang disebut chronic absenteeism. Baik absen tersebut beralasan atau hanya bolos, melewatkan 15 hari bisa menjadi indicator besar bagi anak untuk drop out atau dikeluarkan dari sekolah.

Besar dampak yang didapat jika absen terlalu banyak. Anak dengan chronic absenteeism akan tertinggal dari teman - temannya, kesulitan untuk mengikuti pelajaran, tidak lolos ujian, tidak naik kelas, dan yang lebih buruknya drop out.

Chronic absenteeism juga bisa mempengaruhi pengetahuan emosi dan sosialnya, seperti konflik, pemecahan masalah, dan kerja sama yang tentunya sangat penting saat di lingkungan kerja dan kuliah nanti.

Banyak alasan yang membuat anak melewatkan sekolah. Sakit, kesulitan transportasi, atau bisa juga menghindari pembullyan, kejadian buruk di kelas, atau kekerasan bisa menjadi alasannya. Untuk itu, pihak sekolah dan orang tua jangan anggap sepele masalah chronic absenteeism ini.

Apa yang harus dilakukan guru?

Memiliki siswa dengan chronic absenteeism tentu menyulitkan bagi guru, terutama untuk bidang matematika. Ada beberapa cara yang guru bisa lakukan, salah satunya mewaspadai dan memantau. Perhatikan anak yang mulai absen beberapa selang hari. Guru harus ingat bahwa kehadiran siswa menjadi indikator siswa lulus.

Dengan guru memperhatikan anak yang mulai mengalami chronic absenteeism, ia bisa dengan cepat mencari akar masalah dan berdiskusi dengan administrasi sekolah dan orang tua.

Untuk anak yang sudah mengalami chronic absenteeism, ada cara untuk menghadapinya. Simpelnya adalah memanggil orang tua si anak dan menjelaskan bahwa kehadiran kelas sangat penting untuk kelulusannya dan untuk masa depannya nanti. Selain itu, ciptakan lingkungan kelas yang baik, buat patokan kehadiran menjadi penting di kelas, atau bertanya pada administrasi alasann si anak absen.

Apa yang harus dilakukan administrasi sekolah?

Di beberapa sekolah, chronic absenteeism atau keterlambatan dapat berujung ke suspense atau penahanan. Namun jika hal ini diteruskan ke hukum, maka akan besar lagi masalahnya. Hal ini bisa mengarah ke hukuman pada orang tua karena tidak mendidik anak dengan baik. Lantas bagaimanakah cara yang baik?


Tidak semua chronic absenteeism disebabkan oleh orang tua. Untuk itu, jangan fokus mendesak orang tua untuk membujuk anaknya bersekolah. Datangi dan berdiskusi dengan orang tua, dan bekerja sama untuk membujuk anak untuk ke sekolah.

Apa yang harus dilakukan orang tua?

Satu hal yang dipertanyakan bisa anak mengalami chronic absenteeism adalah orang tuanya. Maka dari itu, orang tua perlu sadar bahwa kehilangan 10% hari dari tahun pembelajaran itu sangat merugikan bagi anak. Komunakasi dengan sekolah yang baik juga bisa mencegah anak yang absen tanpa sebab.

(Disadur dari edudemic.com)