3 Cara Ajarkan Anak untuk Berpikir Kritis Terhadap Video Games

13 Februari 2015 Solusi Pendidikan   |    Feliciany H T


Media sekarang ini cenderung lebih menentang dari tujuan mendidik anak - anak. Bila kita ingin membangun generasi konsumen media yang berpikir kritis terhadap media yang mereka nikmati, kita juga perlu untuk terus - menerus mengajari anak kita berpikir kritis dengan berkelanjutan dan sistematis.

Kita bisa mendorong pemikiran kritis anak tentang media dengan berbicara tentang video game yang anak sukai. Tapi tidak cukup hanya berbicara tentang game, kita juga harus mendorong perilaku yang menumbuhkan kesadaran kritis pada media dan video games. Berikut ini tiga cara yang dapat Anda lakukan:

Main tanpa Controller

Secara sederhana, permainan terdiri dari mekanik dan narasi. Mekanisme adalah aturan permainan dan tantangan yang harus diselesaikan oleh pemain. Narasi adalah cerita yang membuat permainan menjadi lebih menarik. Penting bagi anak untuk mulai berpikir tentang komponen narasi dan salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan membuat mereka berpikir tentang karakterdiluar control mereka, di luar alat controller. Dorong mereka untuk menggambar karakter favorit mereka. Ajak mereka untuk menulis cerita tentang karakter favorit mereka, membayangkan karakter tersebut di luar skenario game.

Dengan membayangkan si karakter berperilaku berbeda dalam berbagai skenario, atau karakter lain dalam skenario yang sama, sang anak mulai melihat bahwa permainan mereka biasa mainkan adalah salah satu dari kemungkinan dari berbagai narasi. Hal ini dapat membuka pikiran mereka akan pesan tertentu dari sebuah narasi dan mengajarkan mereka pesan komersial atau mainstream tidak selalu benar.

Buat game sendiri

Ajarkan anak untuk membuat game sendiri! Ada banyak platforms atau software ditujukan untuk mengajarkan anak - anak membuat game sendiri, contohnya Gamestar Mechanic dan Scratch. Gamestar Mechanic merupakan platform cukup simple dengan drag and drop interface sehingga anak bisa merakit skenarionya sendiri. Scratch berfokus pada pengajaran dasar coding melalui drag and drop interface.

Kedua dari web based platform ini memungkinkan anak untuk membangun media interaktif mereka sendiri. Ketika mereka membangun dunia interaktif mereka sendiri, mereka mulai memahami cara mekanik dan interaksi dari elemen naratif untuk membuat game.Mereka juga menjadi kritis karena mereka sudah mengetahui apayang dibutuhkan untuk membangun game yang mereka mainkan.

Hal ini mungkin tidak mengajarkan mereka untuk berpikir tentang konsekuensi politik, sosial, dan budaya dari game yang mereka mainkan.

(Disadur dari forbes.com)