Raksasa

6 November 2015 Pojok Cerita   |    DOMBA - Dongeng Mini Banget


DOMBFIKS (Domba Fiksi) bersambung, karya yang ditulis tidak lebih dari 69 kata dan tidak kurang dari 36 kata.

Ada raksasa berjalan dari Samudra Atlantik menuju Laut Jawa. Setiap kakinya melangkah bergetarlah daratan di seluruh dunia. Setelah tiba di Laut Jawa ia teruskan langkahnya menuju Pelabuhan Tanjung Priuk, karena Kota Jakarta lah yang ia tuju. Sesampainya di Pelabuhan Tanjung Priuk diobrak-abrik kapal dan tongkang. Perahu-perahu nelayan ditelannya. Orang-Orang yang melihatnya menjerit saking ketakutan. Lalu berlarian saat raksasa itu melangkah MENUJU DARATAN JAKARTA.
Pengurus Domba

MENUJU DARATAN JAKARTA."Grrrrrrr..."Raksasa terus melangkah sambil menggeram keras sekali. Orang-orang lari kocar-kacir saking takut diterkam oleh raksasa yang sangat menyeramkan itu. "Toloooong ada raksasaaaaa...!" Seorang perempuan penjual ikan menjerit sambil lari menjauh dari raksasa itu. "Buset dah gede banget ntu orang ?" Ujar seorang pria panjual ketoprak dengan Bahasa Betawinya yang kental. "Itu bukan orang bego! Itu raksasa! Cepat lari!" Teriak supir bajay sambil menjalankan kendaraannya DENGAN SANGAT CEPAT.
Yusef W Muldiyana

DENGAN SANGAT CEPAT. Raksasa itu terus melangkah dari Jakarta Utara menuju Jakarta Selatan. Semua orang kalang kabut, panik dan stress. Padahal Raksasa itu tidak memperdulikannya dia terus berjalan sambil tertawa-tawa. Kini ia sudah sampai di Jakarta Pusat. Matanya melotot pada seorang bocah berseragam SD sedang berjalan di dekat patung tani. Tangannya yang besar memungut anak itu lalu didekatkan ke bibirnya. Si anak histeris. Raksasa bertanya pada anak itu "MANA GEDUNG DPR?"
Awang Arifin

"MANA GEDUNG DPR?". Sambil ketakutan dan keringat bercucuran keras bagai air pancuran, anak kecil itu menunjuk ke arah Selatan. "Oh ke sana?" Kata raksasa sambil meletakan lagi si bocah ke tempat semula dan lalu berkata lagi dengan lembut dan sopan "Terimakasih ya nak? Saya ada urusan ke Gedung DPR ." Raksasa melanjutkan perjalanannya. Anak kecil itu hanya bisa melongo. Mobil polisi mulai berdatangan. Para WARTAWAN MULAI BERMUNCULAN.
Surya Sasmita

WARTAWAN MULAI BERMUNCULAN. Berita tentang keberadaan raksasa sudah tersebar bukan hanya di Jakarta tapi di seluruh pelosok tanah air dan bahkan sudah diketahui oleh hampir semua masyarakat di seluruh dunia. Di Gedung DPR para pejabat sudah mengetahui bahwa ada raksasa yang akan berkunjung ke tempat itu. Mereka semua nampak gelisah dan pergi MENINGGALKAN GEDUNG DPR.
Chuchu Hanifah Syahrial

MENINGGALKAN GEDUNG DPR. Di kota lain tepatnya di Surakarta alias Kota Solo, dua sejoli sedang berpacaran di sebuah rumah makan padang Selero Bundo. Yang cewe bernama Nunik yang cowo namanya Daryanto. Tiba-tiba Nunik bicara sambil setengah berteriak sambil mata melotot menatap layar androidnya "Astaga Maaaas!" Daryanto tersentak kaget. "Ada apa toh Nunik?" Tanya Daryanto. "Ada raksasa DI JAKARTA MAS!"
Safna Al Zahra

DI JAKARTA MAS! aduhh bagaimana ini? Kan bapakku berkantor di Jakarta, mata kedua insan itu kini menatap lekat pada layar android nya, ya Allah SELAMATKAN MEREKA SEMUA.
Usie S Koesnadi

SELAMATKAN MEREKA SEMUA, hanya do'a yang bisa dipanjatkan oleh semua warga yang tinggal di luar Jakarta, sementara mereka yang di Jakarta harap-harap cemas dengan keselamatannya, tidak sedikit warga yang bersiap-siap untuk kembali kekampung halaman mereka yang memang perantau sementara warga yang asli jakarta pun siap-siap untuk mengungsi ke daerah lain, raksasa itu kini sudah tepat berada di DEPAN GEDUNG DPR.
Eno Iwat Idowati

DEPAN GEDUNG DPR. Raksasa itu tubuhnya lebih tinggi dari Gedung DPR. Ia angkat tinggi-tinggi gedung itu hingga terlepas dari tanah tapi tak terlihat satu pun batang hidung para pejabat kecuali satpam dan tukang sapu. Tiba-tiba terdengar rentetan senjata dari para tentara yang dipimpin oleh Panglima TNI didampingi oleh Menteri Pertahanan dan keamanan. Peluru-peluru dilesatkan dari senjata tapi tak ada satupun yang dapat menembus badan raksasa. Lihatlah Raksasa itu MALAH TERTAWA-TAWA KEGELIAN.
Awang Arifin

MALAH TERTAWA-TAWA KEGELIAN. "Hahahaaa...! Hihihiiiiii! Huhuhuuuuu...! Heheheheeeee....! Hohohohoooo....! Hahihuhehooooo....!" Begitulah raksasa itu terus tertawa, tertawa dan tertawa sambil membalikan badannya melihat siapakah yang telah berani menembaki dirinya? Oh ternyata para tentara. Dia berhenti tertawa. Ia pandangi saja orang-orang yang menembakinya. Lalu tertawa-tawa lagi dengan suara lebih keras "Hahahaaa...! Hihihiiiiii! Huhuhuuuuu...! Heheheheeeee....! Hohohohoooo....! Hahihuhehooooo....!" Lalu dia melangkah hendak menerkam pasukan. Pasukan pun kabur. Mereka lari ketakutan termasuk PANGLIMA DAN MENHANKAM.
Ki Daus Dua

PANGLIMA DAN MENHANKAM. Melihat para tentara berlarian raksasa itu tersenyum lalu matanya besar memandang ke sekeliling Jakarta. Tak berapa lama kemudian sang raksasa menarik nafas sambil mangap dan apa yang terjadi? Seluruh isi Jakarta berterbangan tersedot oleh tarikan nafasnya dan semuanya masuk ke dalam mulut raksasa. Setelah seluruh isi Jakarta habis termakan kini Jakarta menjadi kosong hanya tersisa Monas, raksasa meneruskan perjalanan kea rah timur MENUJU JAWA BARAT.
Yusef W Muldiyana

MENUJU JAWA BARAT. Setelah yakin Jakarta tak berpenghuni, sang raksasa berjalan ke arah barat. Berdebum langkah kakinya menggetarkan sekitar tempat yang dia lewati. Tak berapa lama dia sampai di Jawa Barat, sejenak dia berhenti. Matanya melotot melihat sekeliling seperti mencari sesuatu. Semua orang sudah menahan nafas. Hingga berhentilah tatapannya disatu titik. Tempat itu ADALAH KERAJAAN DOMBA.
Na Dhien

ADALAH KERAJAAN DOMBA. Alangkah indahnya istana Kerajaan Domba. Raksasa tak sampai hati untuk merusaknya. Malah mulutnya komat-kamit membaca do'a agar Kerajaan Domba rukun dan damai selamanya. Setelah membaca do’a raksasa melanjutkan perjalanannya lebih kearah timur lagi. Dia bermaksud pergi berkunjung ke Kota Bandung. Sasaran utamanya ADALAH GEDUNG SATE.
Surya Sasmita

ADALAH GEDUNG SATE. Dalam perjalanan menuju Bandung, Raksa itu terdiam dipinggiran sungai Citarum yang airnya sudah begitu kotor tak terawat. Raksasa menarik nafas dalam-dalam lalu ia meniup sungai citarum hingga airnya meluap dan mengalir lebih deras dari biasanya. Sungguh ajaib! Sungai Citarum airnya mendadak menjadi jernih sekali KARENA TIUPAN RAKSASA.
Chuchu Hanifah Syahrial

KARENA TIUPAN RAKSASA pula membuat Bandung berangin kencang, dan menghembuskan mega yang tadinya mendung menjadi cerah kembali, kemarau semakin panjang, suhu panas terjadi dimana mana, kebakaran tak terelakan lagi... Tapi raksasa itu tidak puas begitu saja, dia tebarkan tatap matanya di sekililing Bandung yang INDAH DENGAN TAMANNYA,
Usie S Koesnadi

INDAH DENGAN TAMANNYA, rupanya raksasa pun punya rasa lelah, begitu matanya menatap taman yang asri diapun bergegas mencari tempat yang nyaman dan Taman Hutan Jaya Giri Lembang penjadi pilihannya untuk beristirahat, dengan pemandangan yang indah dan hembusan angin sepoi-sepoi akhirnya raksasa itupun tertidur lelap HINGGA MENDENGKUR KERAS.
Eno Iwat Idowati

HINGGA MENDENGKUR KERAS. Sejenak kita tinggalkan raksasa yang sedang tertidur pulas. Di Kota Solo Nunik dan Daryanto sedang memperhatikan acara TV sambil bersantap siang di sebuah rumah makan. Dengan menggebu-gebu seorang reporter wanita sedang memberitakan tentang kedatangan raksasa YANG MENGHEBOHKAN ITU.
Safna Al Zahra

YANG MENGHEBOHKAN ITU. Kita tinggal juga adegan percintaan antara Nunik dan Daryanto yang makan sambil nonton televisi. Sementara kita beralih ke suatu pedesaan terpencil di daerah Sumedang Jawa Barat. Di suatu pesawahan yang dikelilingi indahnya pegunungan, seorang penggembala Insan Kusyandi namanya tampak asik memainkan seruling di punggung kerbau. Dia sama seakli tidak mengetahui berita TENTANG ADANYA RAKSASA.
Awang Arifin

TENTANG ADANYA RAKSASA. Kita kembali pada raksasa yang sedang mendengkur keras di Dago. Saking keras suara dengkurannya sampai-sampai Bandung bergetar. Jalan-jalan pada retak. Gedung-gedung bergoyang seperti terkena gempa. Tentu saja seluruh warga Bandung beserta walikotanya panik bukan kepalang. Lalu raksasa itu terbangun. Ia ingat tetang tujuannya yaitu mendatangi Gedung Sate. Secepat kilat raksasa berdiri lalu melangkah MENUJU GEDUNG SATE.
Yusef Muldiyana

Menuju Gedung Sate sambil hatinya selalu bertanya-tanya "Apakah aku akan kebagian sate?" Begitu tiba di tujuan, hatinya jadi ciut. Dirinya yang selama ini merasa raksasa paling besar, ternyata, menjadi kecil dan kerdil. Gedung Sate nampak besar dan megah. Tinggi menjulang ke angkasa. Ia hanya setinggi pintunya saja. Kemudian ia jadi sadar, di atas langit ADA LANGIT LAGI.
Yusuf S. Martawidénda

ADA LANGIT LAGI. Ada yang lebih tinggi dari siapapun. Raksasa mulutnya komat-kamit seperti membacakan mantra-mantra. Tiba-tiba badannya membesar sepuluh kali lipat Gedung Sate. Tangannya mengambil genteng-genteng gedung itu lalu dimasukannya ke dalam saku. Lalu ia hembuskan nafas sehingga para karyawan berterbangan dan saling terpental satu sama lain lalu dompetnya berjatuhan. Semua dompet ia pungut. Suatu hari terlihat raksasa itu membagi-bagikan dompet PADA FAQIR MISKIN.
Rita Suhartini

PADA FAKIR MISKIN, namun ada satu kakek-kakek yang saat disodorkan dompet ke hadapannya dia tidak mau menerimanya, ini membuat si raksasa heran dan dia pun bertanya, "Kenapa kamu tidak mau menerima dompet ini, kamu tahu isi dompet ini sudah pasti banyak karena ini milik para pejabat" tanya raksasa, si kakek menjawab dengan santainya "Aku memang butuh uang, tapi aku tak sudi makan uang haram dan didapatkan dengan CARA HARAM JUGA"
Eno Iwat Idowati

Dongeng Fiksi bersambung ini dipersembahkan oleh DOMBA-Dongeng Mini Banget
Klik disini