Merasa Cukup

22 Agustus 2016 Pojok Cerita   |    Ervine Chastine Marind


Ambisi: "Keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu."

Ambisi atau yang lebih dikenal di kalangan anak jaman sekarang dengan "Ambis" itu sebenarnya sesuatu yang positif loh. Iya kan? Tetapi percaya atau tidak, di lingkungan gue sesuatu yang "Ambis" itu di cap negatif sama ‘sebagian’ lingkungan sekitar gue.

Apakah ini terjadi di lingkungan gue atau lingkungan kalian juga mengalaminya? Gue bakal sedikit ceritain deh.... suatu cerita yang akan bisa (mudah-mudahan) mengubah konsep hidup kalian #ASIQUE! Simaaak ya!

Temen: "Eh vine, masa nilai bahasa inggris gue cuma dapet 76"

Gue: "Oh itu bagus dong, kan dari seangkatan yang gak remedial lo doang. Kok sedih?"

Temen: "Gapapa sih, tapi semalem gue udah begadang. Seharusnya dapet 100 dong. Katanya usaha tak akan pernah mengkhianati hasil."

Itu merupakan cuplikan percakapan gue dan temen gue. Gue coba menganalisis nih....

1. Dia udah belajar sampai malem

2. Seharusnya dapat 100 bukan hanya 76

3. Dia sedih, sedangkan dari seangkatan hanya dia yang terbebas dari remedial. Seharusnya (menurut gue) gak perlu sedih, karena tugas remedial itu berkali kali ribetnya.

Setelah itu, temen gue nyeletuk, "Lo harus merasa cukup, Has."

"Lo harus merasa cukup"

4 kalimat yang sukses mengubah konsep hidup gue.

"Harus merasa cukup" itu merupakan hadiah pelajaran hidup terbaik yang pernah gue dapet. Well.... coba deh pikirin. Dari awal kalian lahir sampe sekarang masih Alhamdulillah bernafas dengan nikmat, tanpa perlu membayar oksigen nya itu merupakan sesuatu yang priceless.

Kita bernafas.

Kita bisa melihat.

Masih bisa main internet. (kalau gak bisa kalian mustahil ngeliat artikel kece ini dong: p)

Masih bisa sekolah.

Masih bisa menuntut ilmu.

Dan semuaaaa hal yang masih banyak lagi, anugerah dari Tuhan yang diberikan ke kalian itu pasti sesuatu yang baik kan? Kado dari Tuhan yang priceless itulah yang harus membuat kita selalu bersyukur.

Kadang konsep "Harus merasa cukup" ini sering ditutupi oleh "Keambisan mengejar duniawi". Gue ceritain sedikit ya.....

Gue punya teman yang benar benar rajin dan sangat pintar. Dia pintar banget sampai guru guru pun suka sama dia karena sangat aktif dalam proses kbm (kegiatan belajar mengajar). Bahkan dia pernah bilang sama gue kalau dia setiap hari tidur cuma 5 jam. Sisa waktunya dipakai untuk ibadah dan belajar. Dia percaya bahwa "Belajar mendahului orang lain itu membuat tenang." Dan kadang gue ngikutin nih cara belajarnya dia. Gapapa dong copy paste aktivitas yang positif? Ya gak?

Suatu saat, dia pernah remedial ujian. Dia benar benar ngedown. Dia takut nilai di raportnya turun. Dia bilang sama gue,

"Vine, gimana nih. Apa karena gue gak bisa banget kali ya sampai remed begini?"

Disini dia lupa akan satu hal.

"Gak gitu, lo hanya lupa. Lo lupa untuk merasa cukup atas semua usaha lo. Usaha lo cukup besar dan kalau hasilnya tidak berbanding lurus, mungkin ada yang error. Apanya yang error? Mungkin hubungan lo dengan pencipta lo. Pencipta lo siapa tau lagi rindu akan semua kecukupan hati lo dan ingin lo kembali lagi percaya bahwa semuanya akan baik baik aja. Pencipta lo ingin mendengar lo nangis di tengah tengah sembahyang lo lagi."

Dan satu lagi.... ini jawaban gue

"Kalau kita merasa cukup akan semuanya. Literally everything, percaya deh. Lo akan merasa kaya. Lo merasa semuanya gonna be okay. Gak perlu risau akan failure atau apapun. Karena ketika lo merasa cukup, lo udah menyerahkan 100% kepercayaan bahwa Pencipta lo lebih besar dari semua masalah di hidup lo."

p.s: Kalau ambis dalam menuntut ilmu itu termasuk hal yang positif, apalagi kalau ditambah konsep "Harus merasa cukup." Literally, kalian merupakan orang-orang terbaik yang berusaha keras di hidup kalian! Aamiin.

Salam hangat,

Ervine Margo.

Tulisan ini dipersembahkan oleh: Ervine Chastine Marind (ipinervine@tumblr.com)