Khayzis 5 Definetely Destiny (Part 2)

25 April 2016 Pojok Cerita   |    Ervine Chastine Marind


Fourth Story

Setiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Biar seimbang, bukan?

Begitu juga dengan Khayzi. Khayzi dikenal sebagai gadis yang cantik dimata teman-temannya. Dengan kerudung yang menutup rambutnya. Kulit putih, bibir kemerahan, tubuh kurus dengan tinggi ideal. Dan juga otak yang pintar. Banyak orang-orang yang memuji Khayzi. Khayzi selalu berusaha untuk rendah hati. Bahaya kalau tinggi hati. Bisa-bisa kalau jatuh, sakit nya itu yang dikhawatirkan Khayzi takkan hilang.

Khayzi saat itu sedang berada di toilet. Mencuci muka, lalu merapikan kerudungnya yang berantakan. Nisa, teman sekelas Khayzi dulu ketika kelas 10, menyapa nya dari belakang, "Hai Zi!"

"Hallo Nisa."

"Zi, biasanya lo make up-an gak sih?"

"Iya, kalo kondangan doang."

"Ke sekolah gak make-up an juga?"

"Enggak lah, paling cuma pake bedak biasa."

"Bibir lo kok bisa merah banget gitu? Gue mau deh punya bibir merah kayak lo. Badan bagus ideal kayak lo Zi. Gue udah diet sebulan. Tapi tetep aja gini-gini juga."

"Nis, lo cantik kok. Beneran, bukan cuma basa-basi."

"Enggak. Muka gue tembem gini. Pantes gak ada cowok yang ngelirik gue satupun." Nisa mulai sedih. Well.... Khayzi sering banget dihadapkan teman-temannya seperti ini. Khayzi mengajak Nisa ke kantin lantai atas, daripada harus ngobrol di toilet yang ramai.

"Sa, listen to me. Bersyukur dengan keadaan kita. Terima apa adanya kita. Gak galau lagi cuma karena masalah penampilan. Itu ampuh banget buat hidup kita bahagia. Karena, menurut gue, hidup orang yang sering ngeluh itu karena mereka banyak galau. Emang, pada dasarnya manusia selalu menuntut lebih. Gue juga ngerasa gue banyak kekurangan. Contohnya aja gue yang lemah di pelajaran olahraga. Lo tau kan? Gue paling cepet banget pucat kalo Olahraga."

"But, gue pengen kayak lo. Cantik dan dipuji banyak orang."

"Dipuji banyak orang itu bahaya lo Sa. Bahaya akan penyakit tinggi hati." Khayzi pun melanjutkan,

"Buat apa kita melihat orang lain. Kita pintar melihat kelebihan orang lain. Tetapi kita tidak mampu melihat kelebihan diri sendiri. Itu percuma, menurut gue. Pemberian Allah itu melebihi apa yang dipikirkan hambaNya. Masalahnya hanya kita yang tak pandai menyikapi cara bersyukur dari pemberian Allah tersebut. You’re and your life is a beauty."

Fifth Story

Di SMP atau SD pasti kita terbiasa dengan soal-soal yang mudah. Tantangan belum kelihatan saat itu. As time goes by, ada saatnya kita memasuki ranah SMA. SMA adalah tempat dimana kita ingin menjadikannya tempat bersenang-senang atau tempat untuk menatap menuju masa depan. Tantangan hidup mulai terlihat di jenjang SMA ini. For example, remedial. Well.... remedial itu sering banget deh terdengar di koridor.

"Gue remedial lagi masa!!" a friend of Khayzi, Hasan berteriak di depannya, "Zi, remedial gak?!"

"Alhamdulillah enggak. Dapet 80."

"Ckck percuma gue belajar." Hasan duduk di bangku depan Khayzi, "Kadang gue gak percaya apa yang namanya usaha keras dan takdir. Gue belajar abis abisan malah cuma dapet 71."

"Kenapa?"

"Apanya?"

"You said just then, Kamu gak percaya sama usaha keras, Has. Terus kalau kamu gak usaha keras, aku yakin kamu pasti gak bisa masuk ke SMA unggulan ini."

Hasan merupakan teman SMP Khayzi. Mereka biasa menggunakan aku-kamu. Bukan karena hubungan spesial. Well, bukan hubungan Khayzi-Hasan yang akan dibahas disini.

Hasan terdiam seperti memikirkan sesuatu, "Bener juga. Tapi itu kan dulu pas ujian masuk SMA Unggulan ini di test nya pake soal SMP."

"Tapi kamu belajar mati-matian kan dulu?"

"Iyasih, bener juga. Ah tapi intinya aku sekarang gak bisa ngikutin deh. I’m so done of this." Hasan meremas kertas ulangan kimia nya. Muak dengan tulisan-tulisan di dalamnya.

"Aku lagi kesel banget, Zi."

Khayzi tahu kalau sedang seperti ini berarti Hasan sangat dalam kondisi desperate. Desperate karena remedial. Memang, Hasan jarang remedial. Sekalinya remedial malah begini.

"Has, denger ya. Usaha keras itu tak akan pernah mengkhianati hasil. Sesuatu itu diulang karena hendak diganti menjadi yang lebih utama dan baik. Misalnya remedial kamu itu. Jangan pernah berpikir kalau usaha keras itu tak ada artinya. Kamu belajar untuk dirimu sendiri, bukan untuk ujian agar tak remedial."

"Well.... but.."

"Dengerin dulu Has. Aku belum selesai. I believe that you did your best in our exam last week. Masalah remedial, Allah punya rencana sendiri dalam mengatur takdir seseorang. Bisa jadi kamu hendak dikasih kado pelangi indah sehabis ini, Has. Jangan pernah capek karena jatuh. Bangun lagi. Kamu harus terus bergerak dan melawan semua rintangan. Buktikan kalau kamu kuat. Dan, seandainya jika ikhitiarmu sudah di garis batas. Biarkan do’a dan takdir bertarung di langit."

"Hahaha, it’s your favourite quote! Thanks Zi."

Tulisan ini dipersembahkan oleh: Ervine Chastine Marind (ipinervine@tumblr.com)