Khayzis 5 Definetely Destiny (Part 1)

18 April 2016 Pojok Cerita   |    Ervine Chastine Marind


‘Khayzi’ here is just a pseudonym. The short stories here will tell you few of lessons but it doesn’t mean that Khayzi is a perfect person. Through Khayzi, I want everyone always try the best of themselves in every action.Okay, here are the 5 stories. Enjoy!

*Since I feel more comfortable with Bahasa. I think I’ll just tell the story in Bahasa. Sometimes mix with the English. J

First Story

Biasanya, setiap organisasi di sekolah mempunya program kerja. Ada yang sudah berjalan dari tahun ke tahun ataupun program kerja yang baru berjalan. Kebetulan, angkatan Khayzi waktu itu mencanangkan program kerja baru di organisasi. Well, tolakan awalnya terdengar dimana-mana. Alasannya klise.

"Jangan muluk-muluk deh. Program Kerja tahun ke tahun aja kita masih kelabakan." friend of Khayzi said. Khayzi rolled her eyes and answer,

"Justru itu. Kalau di pikiran kita semuanya udah jelek, pasti hasilnya jelek. Toh, 2 program kerja yang dari tahun ke tahun kita udah jalanin. Plus, itu semua berhasil bahkan lebih bagus dari tahun lalu. Sorry if it sounds arrogant, but its true. Kenapa gak kita coba program baru?" Khayzi said while she’s writing on her booknotes. Write her what to-do-list like she usually does.

"Terserah deh, Zi. You’re a coordinator lead here. It’s on you." As friend of Khayzi left her in headache.

Akhirnya program baru yang dicanangkan Khayzi turned out into a big success. Bisa dikatakan sepanjang sejarah organisasi sekolah itu berdiri, itu acara tersukses.

Setelah evaluasi acara itu selesai, a friend of Khayzi hugged her from behind, "Khayzi I aplogise for what I did. Sorry I didn’t trust you back then."

"Hey its okay. Ketidakpercayaanmu kepadaku waktu itu justru malah membuat semangatku menjadi menggebu-gebu. Justru aku ingin membuktikan sebenarnya kita itu lebih dari mampu."

"You’re a great friend of mine. Bangga punya teman se-optimis kamu, Zi."

"Jangan takut kita gagal melakukan sesuatu. Justru kita harus takut akan kesempatan yang tak pernah kita ambil untuk melakukan sesuatu itu." Khayzi smiled. She was relieved that she managed to believe in herself and her friend.

Second Story

"Suka sama lawan jenis itu wajar. Tapi gak usah berlebihan juga."

Itulah yang selalu diucapkan Khayzi ketika teman-temannya curhat kepadanya tentang pujaan hati yang mereka sukai diam-diam.

"I tried. Biasa aja Zi depan dia, tapi gak bisa."

"Itu karena udah terlanjur baper. Ckckck"

"Okay then! What should I do?"

"Why you ask me? Sebenernya simple. Masalahnya itu karena kita terlalu baper, padahal dia suka sama kita aja suatu hal yang belum tentu bener."

"Jadi? I hope your best advice for this, Zi."

"Gini. Buat apa baper untuk suatu hal yang belum pasti. Sekarang, percaya aja kalau orang yang kamu suka itu adalah yang terbaik. Dengan begitu kamu akan selalu mencoba yang terbaik dari dirimu sendiri. Karena, If something is destined for you, never in million years it’ll be for somebody else."

Third Story

Hidup Khayzi sebagai anak SMA bisa dikatakan biasa biasa saja. Belajar, les, ikut organisasi, hang out bersama teman-temannya. Tidak ada yang istimewa. Tetapi Khayzi sangat bersyukur tentang hidup yang ia miliki saat ini. Sampai suatu saat, satu hal yang sangat berarti bagi hidup Khayzi terjadi. It was her friend’s story but somehow have a big influence to Khayzi herself.

"Khay, mau curhat deh." ucap Alifah, her bestfriend sejak kelas 10. Cuma dia satu-satunya teman yang memanggil dirinya ‘Khay’.

Khayzi menghentikan aktivitas nya mengerjakan soal Matematika, "Yup. Kenapa, Fah?"

"Tau Amir kan?"

Seketika Khayzi menoleh ke tempat duduk samping dirinya. Yup, bener sekali! Amir duduk di seberang kiri samping dirinya.

"Iya, tuh duduk di samping kiri seberang gue. Emang kenapa?"

"Mumpung dia lagi gak ada, gue curhat nya sekarang aja deh."

"Oh mau curhat tentang dia rupanya. Buruaan! Dia biasanya ke kantin cuma sebentar." Khayzi tak sabar mendengar curhatan Alifah.

"Akhir-akhir ini banyak yang bilang kalau Gue sama Amir tuh beda. Gak ngerti juga beda nya dimana. Tapi, gue rasa gue biasa biasa aja."

Khayzi mengerutkan dahi, "Beda gimana?"

"Yah lo tau, dulu pas kelas 10 gue digosipin sama dia. Karena dia bales chat yang fast response ke gue aja. Dan banyak berinteraksi dengan gue dibanding teman-temannya dia yang lain. Sampai sekarang orang-orang pasti mikirnya kalau ada gue itu udah pasti Amir. Kalau ada Amir pasti ada Alifah."

"Terus, apa yang menganggu pikiran lo, wahai Alifah?" Khayzi sedikit menggoda Alifah. Biar makin rilex curhat nya.

"Gaenak sama Amir nya. Dia kan ketua Rohis. Masa di gosipin nya kayak begini."

"Oh iya gue paham." Khayzi diam sejenak memikirkan kalimat yang pas. Menurutnya, Alifah sudah melakukan yang terbaik dalam menjaga jarak dengan lawan jenis. Khayzi sangat tau Alifah. Alifah benar-benar tipe perempuan idaman deh.

"Khay? Jadi gue harus gimana? Gue harus menghindar dari Amir atau gimana?"

"Alifah, menurut gue gak perlu sampai menghindar juga."

"Terus gimana?"

"Gak perlu sampai menghindar apalagi memutuskan komunikasi. Lagian, gossip seperti yang orang orang bilang itu gak bener kan? Gue tau lo kok, Alifah. Jadi gak perlu merubah kondisi yang sekarang. Tetep aja main sama Amir dan lainnya. Orang-orang bilang begitu karena mereka ngeliat dari luarnya aja."

"Jadi iya kan gue gak perlu menghindar dari Amir?"

"Iya. Dan ohya! Gak perlu juga merasa gak enak. Kalau yang orang-orang bilang itu salah ngapain kita repot-repot pusing. Toh, Amir nya dari yang gue liat sehari-hari biasa aja. Hmm... gini deh. Kalau kita yakin kita sudah melakukan yang terbaik untuk diri kita dan sekitar. Sesuai dengan peraturan yang berlaku, dalam artian tidak melanggar etika, ngapain juga kita harus merubah sikap kita hanya karena orang lain bilang itu ‘gak kita banget’? Ngerti gak apa maksudku, Fah?"

"Ngerti. Terus?"

"Karena kita hidup untuk diri kita sendiri. Bukan orang lain yang mengontrol diri kita. "

(Tulisan ini dipersembahkan oleh: Ervine Chastine Marind (ipinervine@tumblr.com))