Homeostatis Otak dan Hati

16 Maret 2016 Pojok Cerita   |    Ervine Chastine Marind


Aku mengerutkan dahi. Melihat kertas ulangan fisika, yang menurutku sangat-tidak-pantas-untuk-mendapatkan-nilai-60.

Semua ombak kecewa berkecamuk dahsyat dalam diriku. Pasalnya, sehari sebelum ulangan fisika aku rela datang ke sekolah jam 05.30 pagi (biasanya sih, selalu datang jam 06.15).
Kalau bukan karena aku sedang berada di tengah-tengah kelas XI MIA D yang ramai, rasanya ingin sekali aku menangis keras kepada dunia saat itu juga.

Hanya karena kesalahan konyol salah memasukkan rumus omega dan salah perhitungan pada energi gerak rotasi dan konsep dari perhitungan bola menggelinding yang belum selesai karena kehabisan waktu dan satu cara yang terlewat dari pertanyaan katrol bidang licin...... menghancurkan semangat ku pada fisika.

Amir, temanku yang bisa dikatakan adalah saingan baru ku bilang, "Gapapa pin. Itu proses."

Hum. Proses.

Belum pernah merasakan stress nya remedial ya, Mir?

Aku bertanya, "Proses darimana?" sedikit skeptis, memang. Sedikit galak juga. Tetapi air suaraku mengatakan sebaliknya. Suaraku bergetar parah.

Amir, yang saat itu sedang makan sari roti rasa cokelat terdiam. Berhenti mengunyah, menatapku bingung. Amir tahu, kalau seperti ini aku sedang dalam keadaan baper, kalau kata anak muda zaman sekarang sih begitu.

"Iya, proses belajar. Bener kan?"

Aku membalikkan badan. Tidak mau melanjutkan pembicaraan.

Wah. Wah. Aku benar benar butuh kemampuan teleportasi ke rumah. Pulang. Menangis sejadi-jadinya. Otakku kacau. Hatiku mengambil alih semua rasa kecewa. Mekanisme kerja tubuh yang kurang baik, memang.

Lupakan Fisika. Sekarang waktunya Matematika. 4 jam matematika rupanya tidak berhasil membuatku move on dari konyolnya nilai Ulangan Fisika. Selalu menari nari di otak. Seakan memperingatkan aku tak boleh lupa kalau akan menghadapi remedial.

"Ngerjain apaan Pin?"

Aku melihat Haikal, teman satu praktikum biologi, tiba-tiba duduk di satu bangku depan. Kami menjadi berhadap-hadapan. Haikal lalu melanjutkan mengerjakan soal peluang matematika dengan asik.

"Hm"

Haikal berhenti memukul meja, yang biasa dilakukannya ketika ia sedang pusing mengerjakan soal-soal, "Yaampun. Ditanya begitu doang gue udah dikasih muka pedes."

"Maksudnya apaan Kal?"

Haikal mengantisipasi semburan baper ku dengan cengar cengir gak jelas, "Hm ya gitu. Aaaah yaudah deh Pin maaf ya maaf." Haikal meminta maaf tanpa tahu apa kesalahan ia sendiri.

Kadang, hidupku selucu ini.

Aku merasa sudah cukup asupan rohani dan jasmani. Dan sudah cukup percaya diri dengan mentalku yang mandiri. Tetapi kenyataannya? SALAH.

Aku kalah dengan peluru bahaya kehidupan bernama ‘Kecewa dan Baper’. Otakku tak berhasil memerintah hatiku untuk melepas energi negatif itu. Alhasil, hatiku dengan leluasa menguasai otak untuk memperbolehkan rasa kekecewaan dan baper itu duduk manis di dalamnya.

Hati-hati dengan Hati.

Lawan limit kenyamanan dirimu. Tembus limit keterbatasan dirimu. Hingga kamu mencapai kepuasan dirimu sendiri, kamu baru berhasil.

Ingat! Kamu yang pegang kendali mekanisme homeostatis tubuhmu sendiri. Saraf-saraf di tubuhmu hanya menerima rangsangan yang didapat olehmu, bukan rangsangan yang orang lain dapat.

Keseimbangan yang sesungguhnya adalah ketika berhasil menyingkirkan semua rasa yang berkecamuk hebat dan menjadikannya menjadi rasa yang mengalir indah dalam diri. Tanpa mengandai andai pelangi akan turun tanpa hujan.

Kunci homeostatis tubuhmu, itu kamu. Pastikan otak dan hatimu bekerja sama dengan baik agar mereka mampu melepaskan energi positif kepada dirimu.

Semoga kehidupan kita semua, Anak Indonesia dan seluruh dunia selalu dihiasi oleh Homeostatis Otak dan Hati yang positif. Yang tak akan luntur untuk selepas lepasnya.

Tulisan ini dipersembahkan oleh: Ervine Chastine Marind (ipinervine@tumblr.com)