Abadi (Part I)

1 November 2016 Pojok Cerita   |    Ervine Chastine Marind


DALAM GENGGAMAN MASA LALU

PUTAR BALIK

Cerita milik Bintang

9 Mei2012. Di Jakarta. Lorong Rumah Sakit Jakarta International.

"Kamu bakal balik ke Surabaya lagi?" tanya mu. Tak percaya pada janji yang telah ribuan kali kuucapkan.

"Iya, San. Janji. Di Surabaya cuma buat nyelesain project aja. 2 bulan aja kok, abis itu balik lagi ke Jakarta." Jawabku sekaligus janji yang kuucapkan hari ini.

"Berangkatnya tanggal berapa Ta?"

"Tanggal sepuluh. Besok."

Kamu terdiam menatapku sedih. "Ulang tahunku." katamu pelan.

Aku juga terdiam, memikirkan segala kemungkinan yang masih bisa aku kerjakan. Seandainya... seandainya ada jalan agar tanggal sepuluh tidak berangkat ke Surabaya. Akan ku lakukan itu. Aku menunduk memandangi kaus kaki biru pemberian kamu. Kaki ku terbalut di dalamnya. Aku kedinginan. Kamu pun menatap kaki mungil ku juga. Masih diam.

"Hasan. Listen. Aku cuma 2 bulan di Surabaya. Kamu bisa nengok aku, naik kereta juga bisa."

"Gak segampang yang kamu kira, Bintang ku." senyummu simpul. Masih memandang kaus kaki biru ku. "Ketemu kamu sekarang aja udah keajaiban kan?" katamu sambil memegang kerudung merah jambu yang ku pakai.

Aku melihat kamu asyik memainkan ujung kerudung merah jambu ku. Pemberian dari kamu juga.

"Kamu gak cocok pake warna feminim gini, tapi kayaknya kalo kamu pake kerudung ini, bakal cocok. Kayaknya sih. Inshaa Allah. Yaudah aku beliin." putar balik ketika kamu mengajakku ke tanah abang 2 hari setelah ulang tahunku.

Ketika sedang merenung, pengeras suara memanggil kamu. Dan selanjutnya, kamu harus ke ruang operasi karena panggilan dari pengeras suara rumah sakit itu.. Tak tahu selesainya kapan. Sedangkan waktu akan terus berlalu sampai esok hari. Pertemuan ini memang benar-benar keajaiban, seperti yang kamu bilang.

Besok. Tanggal 10 Mei 2012. Aku ke Surabaya selama 2 bulan. Aku harap kamu masih bisa mengantarku ke stasiun. Kalau tidak bisa, juga tidak apa-apa. Toh, jaman sudah canggih. Kita bisa video call. Iya kan, Hasan?

"Aku harus operasi. Ada kecelakaan. Bintang gapapa kan gak aku anterin sampe gerbang?"

"Iya. Pasien kamu prioritas utama."

"Akan kuusahakan untuk nengok kamu ke Surabaya. I’ll miss you, Ta. Doain ya."

"Aamiin."

Kamu pun memelukku. Untuk pertama kalinya sejak kita pertama kali kenal satu sama lain. Sepertinya kamu tidak lagi peduli dengan aku yang belum menjadi pasangan halalmu. "Aku operasi dulu ya, Ta. Hati-hati di jalan."

*******

Stasiun Gambir selalu menjadi favorit ku dulu ketika aku masih kecil. Dulu, aku paling senang ketika Ibu bilang akan mengajakku ke stasiun Gambir. Itu artinya Ayah kumpul lagi di rumah. Ayah kerja di Yogyakarta. Hanya pulang ke rumah ketika lebaran atau hari besar lainnya. Kalau beruntung, Ayah akan mencuri curi waktu pulang ke Jakarta. Walaupun hanya 1 hari dan harus pulang lagi ke Yogyakarta. Tapi sejak 2008 aku tak lagi mengunjungi Stasiun Gambir. Ayah meninggal karena Leukimia yang diidapnya selama 1 tahun. Sejak saat itulah, aku alergi pergi ke stasiun.

Namun, hari ini tanggal sepuluh bulan Mei 2012. Sudah 4 tahun berlalu, aku menginjakkan kaki lagi di Stasiun Gambir. Kali ini menunggu kereta di peron tidak sama Ibu, melainkan bersama partner project ku selama 2 bulan ke depan, Faris. Faris yang sedari tadi hanya tidur karena semalam harus begadang di kantor. Nyelesain review yang harus dicetak malam itu juga.

"Ris, gak tidur semalem?" tanyaku sambil mengambil gelas kopi kelima yang akan diminum Faris.

Kening Faris berkerut melihatku membuang gelas kopi nya, "Enggak Bin. Loh kopi gue dibuang?"

"Udah gelas kelima. Jangan tidur dulu, Ris. Kereta nya udah mau dateng."

Mata Faris akhirnya dipaksa membuka lebar. Dengan cekatan mengambil 2 koper ku dan koper nya. Dia yang membawa barang-barang kami. Sedangkan aku hanya bertugas membawa 1 tas belanjaan cemilan, ransel Faris (yang kecil banget) dan ransel ku sendiri. Semua abang-abang jasa pengangkut koper di stasiun cemberut melihat Faris. Seakan kesempatan rezeki abang-abang itu hilang.

"Nah, Bin. Mau dipojok atau pinggir?" tanya Faris sambil menyusun koper ke rak bagasi di atas tempat duduk.

"Pojok dong. Thanks ya Ris hehe."

Faris menghempaskan tubuhnya ke bangku. Matanya sudah mulai menutup kembali. Tak peduli kereta saat itu masih berisik penumpang yang sibuk menyusun bawaannya ke rak bagasi, anak kecil yang teriak-teriak di sepanjang lorong kursi, Ibu-ibu yang cerewet mengatur tempat duduk anak-anaknya. Aku mengambil tas ransel Faris di bawah tempat dudukku. Mencari cari andaikan dia punya selimut kecil atau sapu tangan. Untuk menutupi mulutnya yang menganga. Dan, yep! Akhirnya ketemu. Selimut kecil yang mungkin ia sudah persiapkan sendiri. Langsung ku lempar ke muka Faris.

"Thanks Bin." katanya pelan, lalu melanjutkan tidur.

******

Tulisan ini dipersembahkan oleh: Ervine Chastine Marind (ipinervine@tumblr.com)