Abadi (Part 5)

14 Desember 2016 Pojok Cerita   |    Ervine Chastine Marind


Pertama

Langit bulan November tahun 2008 di kota sudah mulai mendung setiap hari. Hampir tiap pagi matahari seakan menolak untuk keluar dari singgasana nya. Hamparan luas horison angkasa lebih memilih awan gelap untuk ditampilkan. Hari ini adalah pagi kesekian setelah Hasan dilahirkan. Pagi kesekian ini merupakan hari yang kembali normal. Hasan mulai masuk sekolah setelah 1 bulan di Australia melakukan program pertukaran pelajar. Mulai masuk sekolah sebagai murid kelas 3 SMA yang artinya ia harus fokus pada tes seleksi perguruan tinggi negeri. Kantung matanya mulai menghitam, tiap malam ia hanya tidur selama 3 jam. Sisanya digunakan untuk belajar habis-habisan, mengejar materi 1 bulan yang tertinggal selama ia di Australia. Hasan lebih sering terdiam ketika mau berangkat sekolah. Lebih memilih membaca buku novel bahasa inggris. Membaca buku tiap pagi selama 10 menit sebelum Faris, sahabat sejak mereka kelas 6 SD, menjemputnya menggunakan sepeda. Mungkin sekarang memang bukan era nya ke-sekolah-memakai-sepeda.

"Bagian dari penghematan." begitu jawab Faris dan Hasan setiap semua orang menanyai mereka tentang hal itu.

Hasan bersiul pelan sambil membaca buku novel karangan Alice Sebold, The Lovely Bones. Awalnya diajak nonton film The Lovely Bones sama Faris waktu mereka iseng ke markas club movie di sekolahnya. Siapa sih yang gak jatuh cinta sama Saoirse Ronan pada pandangan pertama? Mungkin cuma Hasan diantara anak anak club movie yang nonton The Lovely Bones, siang itu, yang pada akhir film bilang, "Susie Salmon is a goddess, really. Which place in our city I can meet her? Haha" sambil ketawa Hasan bilang ke Faris. Dan, Faris saat itu cuma bilang, "Is she a goddess atau tatapan matanya yang goddess?"

Skakmat.

Faris melihat Hasan dengan penuh kemenangan.

******

Obrolan Faris sama Hasan siang itu normal. Dua sahabat yang terkenal di seantero sekolah karena keduanya memiliki prestasi segudang. Hasan yang dulu menjabat sebagai ketua book club dan lumbung juara turnamen Bulutangkis ditambah his good-looking face yang selalu sukses membuat cerita SMA lebih berwarna. Dan, ada Faris, yang dikenal satu sekolah sebagai ‘kloningan nya Hasan’, karena orang-orang menganggap mereka seperti anak yang di lem, tak pernah lepas. Faris yang ketua club taekwondo dan the school’s treasure karena juara olimpiade Matematika setiap tahun. Mungkin jalan cerita ini merupakan jalan cerita klasik anak SMA. Dimana ada dua orang laki-laki dengan latar belakang ‘pintar’. Tetapi, bukankah setiap manusia selalu dianugerahi kelebihan dan kekurangan oleh Tuhan?

"San, abis ini mau kuliah kemana?"

"Guess it. Clue nya: Cita-cita gue dari TK gak berubah sampe sekarang."

"Astronot?"

"Eh, itu cerita darimana gue pengen jadi astronot, Ris?" jawab Hasan kaget.

Faris mengambil pulpen dari saku, memutar-mutar dengan jarinya, "Pas lo masih kecil, kata Bunda lo sih ya. Lo pengen jadi Astronot soalnya mau terbang-terbang di ruang angkasa gelap sana. Ada-ada aja sih sih, San." jawab Faris sambil menepuk pundak Hasan, lalu pergi meninggalkan Hasan.

"Eh mau kemana lo?" suara Hasan terdengar keras di lorong koridor sekolah yang sore itu sepi. Maklum, hari ini hari sabtu. Hanya anak-anak ekskul saja yang masih betah ada di sekolah.

"Markas club movie."

"Masih ada orang emangnya? Terakhir gue liat Pio pulang tuh."

"Masih kok, mau ikut gak?"

"Sure. Daripada gue sendirian gak jelas di koridor ini."

Markas club movie dijadikan tempat favorit kesekian Hasan setelah ia kejadian nonton bareng Film The Lovely Bones. Bagi Hasan yang penakut banget, itu sudah merupakan suatu kemajuan. Bagi Faris yang merupakan teman dari kecil Hasan, yang notabene sudah tau bagaimana Hasan luar dalam, itu juga kemajuan. Dulu ketika mereka masih kecil, Hasan pernah trauma gelap gara-gara Faris ninggalin dia di rumah hantu taman bermain. Sejak saat itulah, Hasan sangat amat takut gelap. Tapi aneh ya, cita-cita nya Hasan dulu mau jadi astronot? Well, karakter orang merupakan rahasia misteri yang sulit dipecahkan.

Untuk ‘The Lovely Bones thing yang membuat Hasan jatuh cinta pada markas club movie club’ ini membuat Faris sangat berterima kasih. Karena Hasan sudah asik kalo diajak ke markas club movie, walaupun hanya sekedar main. Jadi, seenggaknya Faris gak sendirian disana.

"Lo ke markas club movie cuma buat deketin Ambi kan." gumam Hasan. Seketika juga Faris menoleh ke arah Hasan.

"Ternyata lo punya karakter skakmat juga ya, San." Faris mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Padahal suara gue pelan banget loh Ris."

Hasan tertawa puas melihat muka panik temannya. Jarang-jarang Faris di skakmat begini. Biasanya Hasan yang selalu rela membeberkan seluruh rahasia nya karena jurus skakmat Faris selalu buat Hasan mati gaya.

"Yah, artinya indera pendengaran gue masih jernih." Faris melirik jutek. Yang dilirik, malah tertawa puas. Hasan merasa puas hari itu.

Markas club movie sore itu lebih terlihat seperti gudang rusak. Sangat amat berantakan. Kertas print-out dimana mana. Anak-anak club movie yang tampak kusut. Maklum, persiapan pameran movie tinggal seminggu lagi. Yang berarti anak club movie harus ekstra bekerja keras demi kelancaran acara besar mereka itu.

"Yah, kalo gini caranya mana bisa numpang nonton.." gumam Faris lesu.

"Eh ada kalian. Ris, San! Belom pulang?" Ambi menghampiri mereka berdua dengan setumpukan kertas print-out di tangan. Penampilannya sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, tadi ketika Faris dan Hasan datang ke sekolah jam 9 pagi, Ambi sudah nongkrong di markas. Tampang Ambi yang capek pun kelihatan sekali dari kantong mata panda nya itu.

"Faris mau numpang nonton, Mbi. Tapi kayaknya gak bisa ya?" Hasan yang menjawab dan langsung mengambil print-out Ambi untuk dibawa ke ruang cetak, "Gue bantu ya."

Belum sempat Ambi menjawab, Hasan sudah meninggalkan Faris dan Ambi di lorong depan markas movie club. Diluar sudah mulai gelap. Anak-anak pun sudah ramai menyalakan motor, siap untuk pulang. Hanya markas club movie yang masih menyisakan terang lampu. Faris dan Ambi dilanda suasana canggung. Hanya latar suara teriakan anak-anak movie club yang sibuk mengurus ini-itu.

Suara Ambi pun memecah kecanggungan itu, "Mau numpang nonton?"

"Tadinya." Faris menjawab dingin. Mengontrol suara agar tidak terdengar terlalu kecewa.

Ambi tersenyum simpul, kantung mata panda nya mengisyaratkan kelelahan yang amat sangat, "Maaf Ris. Kayaknya gak bisa deh. Kita juga udah siap-siap mau pulang." Ambi kemudian menuju ruang cetak, "San, sini gue aja yang masukin kertas nya ke laci. Thank you bantuannya."

Hasan mengangguk, "Sama-sama."

Ambi pun meninggalkan Hasan di ruang cetak, kembali sibuk merapikan markas club movie. Kemudian muncul sesosok perempuan di belakang Hasan, "Kak... Hasan?"

Hasan menoleh, tampang nya kaget setengah mati.

Perempuan itu buru-buru menjawab, "Saya Bintang." Mukanya pucat. Matanya memancarkan kelelahan yang amat sangat. Senyum nya lemah.

"Oh.. iya. Kamu ngapain disini?"

"Saya anggota club movie ini."

"Print-out itu mau dibawa kemana?" mata Hasan tertuju pada tumpukan print-out poster yang dibawa Bintang. Tangan Bintang yang kurus membuat Hasan ingin buru-buru mengangkat tumpukan poster tersebut, "Aku bantu sini. Kamu siap-siap pulang aja. Udah malem."

Perempuan itu menatap mata Hasan, lama. "Kamu ngapain natap mata saya gitu?" Sungguh, Hasan sangat risih.

Bintang buru-buru menunduk, mengambil poster itu kembali, "Biar saya aja kak. Terima Kasih tawarannya." Lalu pergi meninggalkan Hasan sendiri di ruang cetak. Saat Bintang melewati Hasan, Hasan merasakan suatu kesesakan. Kesesakan yang mengingatkan ia pada suatu kejadian. Hasan menarik baju Bintng dengan cepat, membuat Bintang kaget. "Nanti ketemu saya dulu di depan sekolah."

Bintang mengangguk.

Hasan kebingungan setengah mati. Bagaimana mungkin perempuan itu tiba-tiba ada di belakang nya? Hasan yakin dia belum pantas dibilang pikun, tapi ia berani sumpah. Saat ia masuk ke ruang cetak ini, tak ada siapapun. Hasan menepuk kepala nya pelan, mungkin ini karena efek lelah saja. Ia yakin itu. Hasan mencoba menghilangkan perasaan tak normal yang lagi-lagi hinggap di dirinya.

Tulisan ini dipersembahkan oleh: Ervine Chastine Marind (ipinervine@tumblr.com)