Abadi (Part 5.1)

20 Desember 2016 Pojok Cerita   |    Ervine Chastine Marind


Sebelumnya di Abadi Part 5

Hasan kebingungan setengah mati. Bagaimana mungkin perempuan itu tiba-tiba ada di belakang nya? Hasan yakin dia belum pantas dibilang pikun, tapi ia berani sumpah. Saat ia masuk ke ruang cetak ini, tak ada siapapun. Hasan menepuk kepala nya pelan, mungkin ini karena efek lelah saja. Ia yakin itu. Hasan mencoba menghilangkan perasaan tak normal yang lagi-lagi hinggap di dirinya.

******

Semuanya tidak normal sejak awal. Walaupun Bintang sangat ingin untuk bersikap normal, setidaknya hanya untuk hari itu. Namun, pekerjaan club movie dari jam 5 pagi sangat banyak. Terpaksa ia memakai kekuatannya. Berharap semua orang tidak menotice. Ia berkeliaran dari ruang satu ke ruang lain menggunakan kekuatan teleportasi. Mungkin ini dibilang mustahil, tetapi dulu, saat ia masih kecil. Ia sangat ingat. Saat itu Bintang sadar, bahwa ia berbeda dari yang lain. Dengan menghentakkan kaki 1 kali ke tanah, ia dapat berteleportasi dari satu tempat ke tempat lain. Tubuhnya berubah menjadi sekilat cahaya yang hancur berkeping-keping. Lalu dalam waktu kurang dari 1 menit, ia sudah ada di ruang lain. Awalnya Bintang selalu mengira itu hanyalah ilusi masa kecil. Sampai lama-kelamaan, hal itu menjadi bagian yang tidak normal dari dirinya. Ia tidak pernah memberitahu siapapun. Tidak akan pernah.

Namun, rahasia besar itu lama-lama akan terkuak dengan sendirinya. Bintang sadar, ia tak sendirian. Ada seseorang yang diam-diam juga terbuat dari dimensi yang sama dengan dirinya.

Ia tak sendirian.

"Bintang, kamu mau pulang sekarang?" Ambi melongokkan kepala di hadapan Bintang. Membuat Bintang kaget, "Duluan aja kak, nanti pulang bareng Kak Faris."

Ambi mengernyitkan dahi. Sebelum Ambi mulai curiga yang tidak-tidak, buru-buru Bintang menjawab. "Dia sepupu ku."

"Oh, serius? Oke, Hati-hati ya. Aku duluan. Nanti kunci markas kamu pegang aja."

Bintang mengangguk dan mengucapkan salam perpisahan dengan Ambi. Ambi memang percaya pada Bintang, anak pindahan dari Kalimantan yang baru masuk di sekolah ini sekitar 3 bulan. Bintang dulu ingat, betapa gilanya ia tiba-tiba datang ke markas club movie. Saat itu, Faris sibuk dengan pelatihan Olimpiade Matematika, sehingga tidak bisa menemani Bintang. Tak ada yang tahu juga bahwa Bintang adalah sepupu Faris.

Sampai suatu saat, seorang perempuan menyebut nama Faris dengan sangat antusias, Bintang menoleh dan matanya bertatapan langsung dengan perempuan itu. Baru ia ketahui namanya adalah Ambi. Mungkin ide gila nya untuk masuk club movie karena Ambi senang pada Faris. Itu alasan yang lumayan tak masuk di akal. Tetapi Bintang melakukannya.

"Hei Bin. Don’t you wanna go home?" Faris mencubit pipi Bintang, puas melihat Bintang cemberut.

"Iya, ini mau pulang. Tapi makan bubur dulu?"

Faris menggeleng, "Tapi Bunda kamu udah masak di rumah."

"Yah, tapi Bintang mau bubur." Bintang tetap keras kepala.

"Ehem..." Hasan tiba-tiba berdiri di Belakang Bintang sambil menunjuk jam di tangannya. Sudah jam 7 malam, "Ris, Kalo lo gak keberatan. Gue mau ngomong sebentar sama dia." Hasan menunjuk Bintang.

"Bintang punya jam malem, San. Sorry."

"10 minutes will be enough." Hasan mencengkeram pundak Faris pelan, matanya memohon, "Gue gak ngapa-ngapain kok."

"Okay. 10 menit ya?"

Hasan tersenyum, "Hehe dasar sepupu protektif. Makasih ya."

Saat itu Faris tak tahu apa yang terjadi antara Bintang dan Hasan. Faris (sangat tumben) tiba-tiba malas mencampuri urusan orang lain, jadi ia langsung keluar markas club dan bersiap mengambil sepeda nya, "Gimana kalo ngomongnya di luar sekolah? Disini udah sepi."

Bintang dan Hasan mengangguk. Bintang merapikan markas club movie dengan teliti dan memeriksa sekali lagi. Lalu keluar dari markas dan mengunci pintu nya.

"Udah kekunci. Yuk." kata Hasan menarik tangan Bintang keluar dari koridor sekolah. Bulan malam ini sedang bersinar terang-terangnya. Di lapangan, beberapa anak dance sedang ada acara pengukuhan untuk anggota baru. Ketika Hasan lewat semua mata tertuju pada nya.

Bintang menunduk, ia sadar bahwa habis ini ia akan menjadi perbincangan hangat di seantero sekolah. Hari senin nanti pasti akan terdengar ocehan ‘Bintang si anak pindahan jalan bareng sama Hasan, si-senior ganteng-malam-malam." Kedengaran berlebihan sih, tapi itu benar adanya. Lihat saja nanti. Berani taruhan?

"Bintang, kita pernah ketemu sebelumnya kan?" Hasan mulai berbicara. Nada suaranya berat. Mata Hasan tetap menatap lurus ke depan. Jalannya sangat cepat sehingga Bintang harus sedikit berlari. Bintang harus melongok ke atas jika ingin berbicara kepada Hasan. Masalah orang yang bertubuh pendek.

Bintang memegangi lehernya supaya tidak pegal, "Iya. 5 bulan lalu?"

Hasan berhenti, menunduk menatap mata Bintang. Cahaya lampu sorot di sekolah itu membuat muka Bintang tampak seperti anak kecil. Hasan saat itu tahu mengapa ia tiba-tiba merasakan kesesakan tak normal saat di dekatnya. Gravitasi yang Bintang miliki tidak main-main. Kekuatannya yang dahsyat selalu menarik Hasan ke celah yang lebih dalam lagi. Hasan dengan seluruh kekuatannya berusaha mengontrol diri, "Waktu itu aku nanya, boleh gak aku dateng ke pesta ulang tahunmu. Iya kan?"

"Iya." Bintang memejamkan mata, silau akan cahaya lampu sorot sekolah.

"Kita masih punya waktu 7 menit." Hasan melirik jam tangannya, "3 menit pertama aku akan ngomong duluan."

Bintang mengangkat alis, "4 menit selanjutnya?"

"Waktumu untuk berfikir menjawab pertanyaanku. Lalu jawab."

"Oke, mulai." nada suara Bintang mantap mengiyakan.

Hasan menghembuskan nafas, "Pertama, Selamat ulang tahun Bintang. Kedua, Aku yakin, sebelum 5 bulan yang lalu, kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Aku yakin kamu sudah menotice hal itu, kan? Ketiga, masih banyak hal yang ingin aku sampaikan ke kamu tanpa dibatasi waktu 10 menit seperti ini. May I have your phone number?"

Bintang mengerjapkan mata beberapa kali, tak percaya apa yang barusan di dengarnya. Waktu Bintang tinggal 2 menit. Hasan menatapnya sabar. Di luar sekolah, Faris sudah menunggu. Bintang mengangguk setuju di tengah sempitnya waktu, "Okay. Kita bicara lagi nanti." Bintang mengeluarkan kertas kecil dari dalam tas, menuliskan nomor telepon.

"Thanks, Bintang." Hasan menerima kertas pink itu dengan tangan yang ia usahakan tidak gemetar. Well, Itu hanya kertas Hasan. Calm down, man.

"Hasan, Bintang!! Ayo pulang!!" teriakan Faris dari luar sangat keras, mungkin bisa-bisa membuat semua burung yang sedang istirahat di pohon berterbangan keluar sarang.

Bintang menoleh ke arah Faris, "Iya! Tunggu Kak!!" lalu menoleh dan memberikan gestur, "Ayo-kita-pulang-sebelum-Faris-mulai-teriak-lagi" ke Hasan.

Hasan tersenyum geli ke arah Bintang.

Bintang tahu kalau ada hal yang serupa antara ia dan Hasan. Bintang menolak menyebutkannya. Memikirkan nya saja sudah seram setengah mati. Biarlah waktu yang mencoba mengurai semua benang ini. Mengurai semua es yang beku diantara dinding pembatas mereka.

Tulisan ini dipersembahkan oleh: Ervine Chastine Marind (ipinervine@tumblr.com)