Abadi (Part 4)

8 Desember 2016 Pojok Cerita   |    Ervine Chastine Marind


Sebelumnya di part sebelumnya,

"Hasan?" intonasi Faris kini jauh lebih lembut. Bukan dalam artian lembut secara harfiah, tetapi lembut dalam artian mengancam.

########

Lorong rumah sakit yang di cat putih itu tampak ramai. Bunda masih di dalam bersama kakakku yang ketiga. Kakak mengalami demam tinggi sehingga harus dilarikan ke UGD Rumah Sakit secepat kilat. Malam itu, hujan turun deras sekali. 2 kakakku yang lebih tua sedang mengikuti turnamen bulu tangkis di luar negeri. Ayahku dalam perjalanan ke rumah sakit. Bagiku, sendirian di lorong rumah sakit itu tak masalah. Justru kehadiranku tak diperhatikan semua orang. Suster-suster di film biasanya akan menanyakan anak kecil yang duduk sendirian, "Hai nak, kamu sendirian? Ibu dan Ayahmu dimana?". Tetapi tidak dalam situasi ku. Suster sedari tadi sibuk berlarian kesana kemari. Dokter-dokter juga. Mereka sibuk berteriak teriak meminta suster cepat mengambilkan obat atau alat-alat lain. UGD malam itu sangat ramai. Banyak orang sakit di malam itu. Hujan diluar juga semakin deras, membuat semuanya terasa lebih dingin. Aku merapatkan jaket dan bersender di dinding. Tiba tiba dari luar pintu UGD terbuka keras, seorang laki-laki menggendong anak perempuan yang sepertinya lebih muda dariku. Anak perempuan itu terlihat pucat dan lemah. Kaki nya yang kecil memakai kaus kaki bermotif beruang berwarna biru. Terkulai lemah dalam pelukan laki-laki (sepertinya itu Ayah si anak perempuan) yang menggendongnya. Di belakang laki-laki itu, (mungkin) Ibu si Anak perempuan menangis nangis sambil berlari. Berteriak pada suster dan siapapun petugas medis yang berlalu lalang.

"Tenang bu. Anak ibu ditidurkan dulu di tempat tidur ini." Suster itu dengan gesit memindahkan anak perempuan itu dari gendongan Ayahnya ke tempat tidur.

"Anak saya demam tinggi, sus. Badannya panas sekali. Suhu tubuhnya tinggi sekali." Ibu itu berkata sambil menangis. Ayah anak perempuan itu memeluk Istrinya, menenangkan.

Semuanya terjadi begitu saja. Di depan mataku. Aku melihat gadis itu masih dengan mata tertutup, pasrah tubuhnya dipegang oleh dokter. Mukanya yang pucat. Badannya yang kurus masih tetap berjuang. Sesekali dokter yang menangani nya berteriak kepada Suster untuk membawakan alat (yang aku tidak tahu apa) dan dokter itu memasangkan selang-selang ke tubuh Anak perempuan itu. Tubuhnya kini dipenuhi selang.

Aku memerhatikan anak perempuan itu kira-kira selama 1 jam, dengan Ayah dan Ibu nya yang menemaninya dalam cemas, berdiri disampingnya. Sesekali, tanpa aku sadari. Aku memohon pertolongan pada Tuhan agar tidak membawa nya pergi dari bumi ini. Aku memohon dan berdoa pada Tuhan agar anak itu tetap ada di bumi ini. Saat aku sedang menatap anak perempuan itu sambil berdoa, ia membuka mata.

Tanpa ku sadari, aku tersenyum ke arahnya.

Dan, sampai sekarang. Memori rumah sakit itu masih tersimpan utuh di ruang pikiran ku. Sampai sekarang juga, aku tak tahu siapa anak perempuan itu.

******

Faris mengambil kertas soal-soal ku. Menagih jawaban ku dengan sedikit memaksa, "Buruan Hasan."

"Ketemu di ruang editor majalah sekolah." Jawabku pendek.

Radar kritis Faris tak terpuaskan, "Kok tau namanya Bintang?"

"Siapa yang gak kenal Bintang Lathiif? Penulis cerpen romance yang terkenal seantero kota?"

Faris memandangku skeptis, "Gue kira lo gak terlalu peduli dengan hal hal kayak gitu, San?"

"Oh gue peduli kok. Reading is my new hobby. Gue lebih sering browsing ke goodreads dibanding main facebook sekarang."

Faris memandangku sekilas dan langsung beranjak tidur di tempat tidurku. Sebelum tidur ia memanggilku dengan nada yang sedikit..... menyesal.

"Hasan"

"What?"

"Just prepare."

"Prepare for what?" kataku tak mengerti.

"Just prepare. Seriously don’t ask for more. Gue mau tidur."

Aku pun berbalik mengerjakan soal-soal persiapan UN, lalu Faris bilang

"Nanti malem gak jadi, San. Sepupu gue ngebatalin acara ulang tahunnya."

Dan aku tak meminta penjelasan lebih lanjut pada Faris. Aku memutuskan untuk terus mengerjakan soal pertidaksamaan logaritma.

Tulisan ini dipersembahkan oleh: Ervine Chastine Marind (ipinervine@tumblr.com)