Abadi (Part 3)

17 November 2016 Pojok Cerita   |    Ervine Chastine Marind


UNTUK PERTAMA KALINYA

Cerita milik Hasan

Ayah ku bilang segala hal yang dilakukan ‘pertama kali’ itu sangat berkesan, entah kesan baik atau buruk. Sampai-sampai lupa bahwa sebenarnya ‘pertama kali’ itu jugaberkah tak ternilai harganya dari Tuhan.

Aku menyadari nya bahwa itu benar.

Dulu, saat pertama kali masuk SMA, aku berpikir, "Aku tak mau buru-buru kelas 3!"

Nyatanya, waktu berjalan cepat.

Suka atau tidak suka, tahun ini, 2008 aku menginjak kelas 3 SMA. Masa stress sekaligus masa berkesan dalam lika liku SMA. Musim dimana semua hal bisa memicu kejenuhan sewaktu-waktu. Dan kejenuhan itu pernah diisi oleh seseorang yang tak aku sangka.

******

Jakarta, 10 Juni 2008. Perumahan Puri Cempaka.

Sejak kecil aku tak suka ulang tahun. Memang tidak seperti anak lain kebanyakan. Menurutku ulang tahun hanya pergantian umur saja. Tidak ada yang spesial. Makanya dari dulu Bunda selalu pusing memutar cara agar aku mau meniup lilin kue ulang tahun. Sampai sekarang, Bunda selalu menemukan cara jitu. Contohnya aja ulang tahun ku bulan lalu, dan perlu dicatat kalo aku-sudah-kelas-tiga-sma-sekarang.

"Hasan Mahendra sayang, kue mu itu mau ‘Nda bagiin ke tetangga di kampung sebelah. Mereka nungguin kamu niup lilin dulu."

"Bun..... Hasan gak mau niup lilin."

"Tetanggamu nanti enggak makan kue mu."

Percayalah, Bunda ku bukan lagi membujuk lewat kata, namun dari hati. Aku sangat rapuh terhadap bujukan ini. Ingin ku jawab tidak, tapi, "Iya Bunda. Hasan niup lilin nya."

Sejak kecil, semua hal memicu sensor penasaranku.

‘Mengapa ulang tahun selalu niup lilin?’

Bunda orang yang realistik dan jujur. Ia sosok Bunda yang tidak mau mengarang cerita demi menutup sensor penasaranku, makanya Bunda bilang, "Gak tahu. Dulu pas Bunda ulang tahun juga tiup lilin, Nak. Tapi semakin bunda dewasa, Bunda punya kamu. Bunda sadar. Kita juga belajar kehidupan dari lilin. Kenapa? Soalnya lilin walaupun badannya habis terbakar ia tetap menerangi sekitar. Dan lilin membawa kebahagiaan bagi orang banyak. Contohnya orang yang tingal di kampung sebelah. Yang lampu di rumahnya kadang-kadang mati. Terus yang nerangin rumahnya? Lilin kan, Hasan?"

Jawaban Bunda ketika aku berumur 10 tahun.

Hari ini, 10 Juni 2008. Faris datang ke rumah. Biasanya kalo Faris datang ke rumah, Bunda akan selalu tahu. Bunda akan buat martabak keju yang rasanya paling lezat di seantero dunia ini. Dan, memang iya. Bunda mengetuk kamarku, hanya kepalanya saja yang menjulur ke dalam, "Hasan, ada Faris di luar. Sekalian ambil martabak nya ya di dapur. Bunda mau ke luar dulu."

"Oke ‘Nda."

Tak lama kemudian, Faris sudah duduk kalem di karpet kamarku (dengan martabak keju di tangan).

"Ris, ntar malem jadi?"

Faris masih fokus pada martabak Bunda yang paling lezat di seantero dunia.

"FAREEESSSS!!" setengah teriak. Untung Bunda udah ke luar.

Yang dipanggil cuma menatapku kalem, "Iya, Jadi." lalu memakan martabak nya (lagi).

Faris berhenti mengunyah martabak keju lezat itu, "Loh, ntar malem emang nya mau kemana?"

Aku yang sedari tadi mengerjakan soal latihan Ujian Nasional refleks berhenti menulis. Aku lupa aku belum memberi tahu Faris kalau kemarin secara diam-diam aku menemui Bintang. Menanyakan apakah aku boleh datang ke acara ulang tahunnya bersama Faris. Bintang mengiyakan.

"Ulang tahun Bintang." Jawabku pelan.

"Bintang? Sepupu gue?"

"Iya, siapa lagi? Ada Bintang lain?"

"Lo tau dia dari mana?"

Faris terus menatapku menagih jawaban. Aku berusaha terlihat sekalem mungkin, menghindarkan Faris yang sekarang sudah mulai kritis. Faris pelan pelan menyingkirkan martabak keju dari hadapannya, dan sekarang dia berada di sebelahku. Menagih jawaban.

"Hasan. Lo tau dia darimana? Gue kira lo gak mau ngomong sama lawan jenis karena lo capek dikejar kejar cewek seangkatan."

Aku melotot kearahnya. Menahan diri agar tidak menusuk pensil ke tangannya yang semakin hari semakin kurus saja.

"Lo tau Bintang darimana? Sepupu gue gak pernah cerita dia ngundang lo."

"Emang harus cerita?"

"Yah kan.... gue sepupu nya. Tinggal satu rumah sama dia."

"Satu rumah?!" intonasi suara ku meninggi. Faris mengerutkan dahi. Oh, ini bahaya. Faris sudah kritis. Itu berarti aku harus siap membongkar semua nya.

"Hasan?" intonasi Faris kini jauh lebih lembut. Bukan dalam artian lembut secara harfiah, tetapi lembut dalam artian mengancam.

******

Tulisan ini dipersembahkan oleh: Ervine Chastine Marind (ipinervine@tumblr.com)