Abadi (Part 2)

9 November 2016 Pojok Cerita   |    Ervine Chastine Marind


Sebelumnya di Abadi Bab 1

Faris menghempaskan tubuhnya ke bangku. Matanya sudah mulai menutup kembali. Tak peduli kereta saat itu masih berisik penumpang yang sibuk menyusun bawaannya ke rak bagasi, anak kecil yang teriak-teriak di sepanjang lorong kursi, Ibu-ibu yang cerewet mengatur tempat duduk anak-anaknya. Aku mengambil tas ransel Faris di bawah tempat dudukku. Mencari cari andaikan dia punya selimut kecil atau sapu tangan. Untuk menutupi mulutnya yang menganga. Dan, yep! Akhirnya ketemu. Selimut kecil yang mungkin ia sudah persiapkan sendiri. Langsung ku lempar ke muka Faris.

"Thanks Bin." katanya pelan, lalu melanjutkan tidur.

******

Faris baru bangun tidur ketika kereta memasuki stasiun Semarang. Itupun juga karena ibu cerewet yang aku bilang tadi membangunkan dia. Karena kaki Faris yang panjang membuat ibu itu tersandung.

"Maaf bu, maaf." ujar Faris. Mengeluarkan senyum andalannya. Yang menurut Faris 98% perempuan akan terpesona karenanya. Ketika ku tanya 2% nya kemana, ia menjawab "2% itu perempuan tipe lo, Bin. Yang terlalu serius sama pacar sampe gak ngelirik yang lain."

"Oalah maaf to mas ngebangunin. Abisnya kakinya panjang banget to’." Bahasa jawa Ibu itu mengingatkan aku pada Hasan. Hasan yang notabene berasal dari pulau Sumatera, ketika bertemu Bunda bulan Februari lalu tiba-tiba fasih berbahasa Jawa. Fasih dalam notasi nada yang lucu. Sampai-sampai Ibu ku bilang, "Nak Hasan. Gapapa to, Ibu bisa bahasa Indonesia kok. Santai aja jangan kaku begitu."

Ketika Ibu itu sudah lewat, Faris memutar badan ke samping, menghadapku, "Jadi, gue tidur udah lama Bin?"

"Lama. Banget."

"Sampe lupa makan siang. Udah lewat ya troli makanan?"

"Udah. Kalo laper masih ada lontong oncom nih. Yang tadi pagi kita beli depan kantor."

"Gak nafsu ah. Mau ke kantin aja. Disini ya jangan kemana-mana."

"Emang daritadi gue gak bisa kemana-mana." aku menatapnya bete. Ya.. gimana bisa keluar kalau kakinya yang panjang menghalangi jalan?

Kereta berjalan pelan memasuki Halte Semarang. Ketika kereta berhenti, bapak tua yang duduk di depan ku tampaknya ingin turun. Ia kesusahan mengambil tas di rak bagasi.

"Pak, sini saya bantu." kebetulan aku yang lebih tinggi dari Bapak itu langsung mengambil tas si Bapak. Bukan main beratnya. "Pak, saya panggilin jasa angkut aja ya? Berat tas nya Pak. Gapapa?"

"Gapapa to’ mbak. Sayang uangnya dipake itu."

"Sini pak... biar saya yang bantu." tiba-tiba dari belakang ku, seorang lelaki yang sepertinya baru naik ke kereta ini mengambil tas Bapak tua itu dari tanganku. "Mbaknya pasti gak kuat."

Bapak itu menatap lelaki itu dan aku secara bergantian, "Iya mbak, gapapa. Ini tas nya berat, kasihan mbaknya nanti."

"Oh iya. Makasih." jawabanku mungkin terdengar ketus di telinga lelaki ini. Untungnya Bapak tua itu sudah berjalan jauh menuju pintu keluar kereta.

Dan, kalian nanti akan tahu sendiri mengapa aku bersikap seperti itu. Aku pun kembali ke tempat duduk. Membaca buku novel yang sebenarnya tak benar-benar ku baca.

******

"Hei."

Lelaki itu berdiri di sebelah tempat dudukku, tersenyum ke arahku. Tanpa diminta ia langsung duduk di tempat duduk Faris. Aku penasaran bagaimana reaksi Faris saat melihat dia.

"Surabaya?"

Aku enggan untuk menjawab.

"Gue juga ke Surabaya. Kali ini perusahaan Global. 2 bulan disana. Lo?"

Aku menutup novel ku. Melihat ke luar. Kereta kini berjalan lagi meninggalkan halte Semarang, "Iya. Surabaya."

Dan perusahaan yang akan kita datangi sama. Tetapi aku tidak menyuarakan ini. Aku langsung membuang muka melihat hamparan padi yang mulai menguning.

Lelaki itu tersenyum lebar. Mungkin ia senang karena tampaknya aku mengalah kali ini. Langsung menjawab setelah 2 pertanyaan. Tak lama kemudian, lelaki itu menceritakan suatu hal yang sangat menarik.

Cerita yang melibatkan Aku di dalamnya.

******

Ketika orang dewasa dulu berkata, ‘Bahwa semua yang terjadi dalam hidup itu sudah digariskan oleh Tuhan. Takdir namanya. Takdir ada yang bisa di ubah ada yang tidak.’

Aku langsung percaya dan tak meminta penjelasan bersyarat lebih lanjut.

Hasan.... disini aku sangat ingin bercerita bahwa pada 2012, tanggal 10 Mei. Ulang tahunmu. Aku bertemu Okta.

Tentunya kamu masih ingat. Tanpa aku bantu memutar balik memori mu.

Jika kamu berpikir aku akan menceritakan tentang Okta, tidak sepenuhnya benar. Hidup ini penuh kejutan di setiap langkah nya, Hasan. Itu yang aku coba untuk memberitahu mu. Dan aku ingin kamu mengetahui nya.

Semoga perjalanan memori ku kembali ke masa 2012 ini tidak sia-sia. Mengorek memori lama itu nyatanya sulit juga.

Tulisan ini dipersembahkan oleh: Ervine Chastine Marind (ipinervine@tumblr.com)