Yuk Jadikan Keluarga sebagai Jalur Pendidikan Anak

23 Oktober 2018 Artikel Pendidikan


Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi manusia karena manusia pertama kalinya memperoleh pendidikan di lingkungan ini sebelum mengenal lingkungan pendidikan yang lain. Disebut sebagai lingkungan pendidikan yang pertama karena pada umumnya manusia itu dilahirkan dan kemudian dibesarkan dalam dilingkungan keluarga. Dimaksud sebagai lingkungan pendidikan yang utama karena penentu keberhasilan pendidikan seorang anak itu saat anak berada pada usia dini yang nantinya akan menentukan masa depan pendidikan anak.

Peranan lembaga ini sangat mutlak dalam pembentukan sifat dan karakter anak. Sebab, anak tumbuh dan berkembang diawali di lingkungan keluarga. Pondasi dan strategi pendidikan karakter yang memadai di lingkungan keluarga akan membuat tugas pendidikan di lembaga formal menjadi tidak semakin rumit. Sebaliknya keluhan pihak sekolah dan masyarakat terhadap karakter anak sekarang ini, menjadi indikator bahwa lembaga sekolah kesulitan dalam mengembangkan pendidikan karakter anak. Bagaimana mau mengembangkan sifat dan karakter anak secara optimal, kalau pondasinya saja tidak kokoh dan utuh dibentuk di lingkungan keluarga sejak awal?

Pendidikan karakter idealnya telah diperkokoh dalam lingkungan keluarga. Guru yang paling utama hanyalah orang tua. Masa-masa emas anak diawali bersama orang tua. Contoh dan suri tauladan orang tua sangat mudah merasuk ke dalam jiwa anak. Ada yang spesifik dari pendidikan anak di lingkungan keluarga. Proses pendidikan berjalan tanpa batas waktu. Selagi anak masih bersama orang tua, selama itu pulalah berlangsungnya proses pendidikan karakter. Itu bukan berarti proses pendidikan keluarga akan berhenti ketika anak memasuki bangku sekolah.

Pendidikan karakter anak di lingkungan keluarga menyangkut sikap dan moral, budi pekerti dan akhlak mulia. Orang tua sebagai pendidik utama menjadi acuan bagi anak. Bagaimana sikap dan karakter orang tua, akan menjadi contoh yang baik dan mudah diikuti oleh anak.

Bagaimana jika lingkungan keluarga bukan menjadi pendidikan utama? Misalnya, anak diserahkan lebih cepat ke pihak kedua. Mungkin karena kesibukan menjalani tugas rutin mencari penghidupan. Anak diserahkan ke sekolah sebelum waktunya meskipun dalam perundang-undangan dibolehkan. Mungkin pada tahap-tahap awal anak akan menjadi jauh lebih pintar dan memiliki karakter positif. Namun pada waktunya, besar kemungkinan anak akan menjalani kejenuhan dalam hidup. Anak pada masa emas, yang diasuh oleh orang atau lembaga lebih berpeluang untuk menunjukkan sikap mengkritik dan memprotes orang tua.

Sebab, metode pendidikan karakter yang diterima anak berbeda dengan model yang diterapkan oleh pihak kedua. Jangan heran jika suatu saat anakberani membangkang pada orang tua. Jadi, pendidikan karakter pada anak dalam usia emas seyogyanya bertumpu pada pendidikan di lingkungan keluarga.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)