Tradisi Unik di Hari Waisak: Melepas Burung

11 Mei 2017 Artikel Pendidikan


Setiap tahun, Hari Waisak dirayakan di hari yang tidak tetap. Hari suci agama Buddha ini juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Saga Dawa di Tibet, serta Vesak di Malaysia dan Singapura.

Dalam hari raya Waisak, kaum Buddha memperingati 3 peristiwa, yaitu:

  • Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 S.M.,
  • Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodhgaya) pada usia 35 tahun pada tahun 588 S.M.
  • Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara pada usia 80 tahun pada tahun 543 S.M


Untuk memperingatinya, banyak rangkaian kegiatan. Di Indonesia ada 3 kegiatan pokok, yaitu:

  1. Pengambilan air berkat dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan.
  2. Ritual "Pindapatta", suatu ritual pemberian dana makanan kepada para bhikkhu/bhiksu oleh masyarakat (umat) untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan kebajikan.
  3. Samadhi pada detik-detik puncak bulan purnama. Penentuan bulan purnama ini adalah berdasarkan perhitungan falak, sehingga puncak purnama dapat terjadi pada siang hari.


Selain tiga kegiatan pokok tersebut juga dilakukan pawai serta acara kesenian. Ada juga tradisi unik di hari Waisak, salah satunya melepas burung. Sejumlah burung yang dilepaskan sebagai sarana untuk membuang sial, juga diharapkan membawa keberhasilan dalam pekerjaan.

Bagi para pedagang burung, tradisi ini tentu sangat menguntungkan bagi mereka. Oleh sebab itu, para pedagang selalu menyiapkan persediaan burung lebih banyak di saat hari Waisak tiba. Burung yang dijual merupakan burung yang harganya cukup murah, seperti gelatik, tekukur, merpati, dan burung gereja.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)