Tips Agar Anak Tidak Takut Saat Lihat Banjir

1 Februari 2014 Artikel Pendidikan


Rasa takut sebenarnya merupakan hal wajar dan alamiah. Emosi dasar yang bersifat universal ini akan selalu ditemui pada setiap orang dan sudah ada sejak lahir karena diperlukan untuk kewaspadaan diri dan dapat membantu individu melindungi diri dari bahaya. Misalnya banjir yang kini tengah melanda Jakarta dan sekitarnya bukan hanya menjadi perhatian orang dewasa tapi juga anak-anak. Pemberitaan mengenai banjir atau bahkan merasakan langsung bagaimana dampak banjir bisa membuat anak, terutama yang berusia balita, menjadi takut dan khawatir.

Di sinilah Anda sebagai orangtua berperan dalam memberikan anak pengertian mengenai banjir atau bencana alam lainnya. "Meskipun ini akan menjadi obrolan yang sulit, ini penting dan tidak ada cara yang benar atau salah saat bicara dengan anak-anak mengenai hal yang mengerikan atau tragis," ujar David Fassler, M.D., profesor klinis bidang psikiatri di Universitas Vermont.

Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua saat mengajak anak-anak berusia balita bicara soal bencana banjir:

1. Sebaiknya Anda jangan menunjukkan kekhawatiran atau ketakutan di depan anak saat melihat banjir yang terjadi baik ketika melihatnya secara langsung atau melalui pemberitaan di televisi. Ketika Anda stres atau takut ini akan mempengaruhi anak. Dia bisa merasakan hal yang sama seperti Anda. Tetap terlihat tenang atau 'cool' adalah kuncinya. Kalaupun Anda memberikan reaksi pada berita tersebut, usahakan bentuknya positif seperti memberitahukan penyebab banjir ini salah satunya akibat kebiasaan membuang sampah sembarangan.

2. Saat anak mulai berusia 7-8 tahun, anak sudah bisa mengerti kalau apa yang ditontonnya di televisi itu kejadian nyata. Untuk anak-anak yang masih berusia cukup muda, seperti usia balita, berita-berita yang cukup sensasional, seperti bencana banjir, bisa membuat mereka merasa, peristiwa tersebut juga dapat terjadi pada mereka. Anak yang melihat berita sebuah rumah rusak karena kebanjiran dapat tidak bisa tidur karena memikirkan apakah rumahnya aman dan tidak akan terkena bencana serupa. Oleh karena itu berikan anak pemahaman kalau bencana alam bukanlah peristiwa bukanlah hal yang bisa dialami setiap hari dan kemungkinan peristiwa itu terjadi sangat-sangat kecil.

3. Orangtua juga perlu memerhatikan tontonan anak. Jangan sampai mereka terpapar berita mengerikan terlalu sering. Kalaupun memang anak 'terpaksa' menonton televisi yang menyiarkan bencana atau hal buruk, pastikan Anda ada di bersamanya untuk menjawab keingintahuan dari apa yang dilihatnya.

4. Untuk menenangkan anak dari rasa kekhawatirannya setelah menonton berita, orangtua harus bersiap diri menyampaikan hal yang sejujurnya. Namun kenyataan yang disampaikan itu sebaiknya sebatas yang anak memang perlu ketahui. Kuncinya adalah jujur dan membantu anak merasa aman. Orangtua tidak perlu sampai terlalu detail melebihi apa yang menjadi ketertarikan dan pemahaman anak.

5. Orangtua sebaiknya juga membantu anak untuk mengungkapkan apa saja yang menjadi kekhawatirannya. Bantu mereka untuk mengatasi kekhawatiran tersebut. Dengan menjadi pendengarnya, itu sudah bisa menjadi cara yang ampuh untuk membuatnya lebih tenang.

Dari pengalaman yang didapat anak akan mempunyai bukti bahwa apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Rasa berani yang tumbuh berdasarkan bukti tersebut bisa ditularkan pada situasi dan kondisi lain yang berbeda.

Oleh: Iman S
(Dikutip dari berbagai sumber)