Tak Percaya Diri Karena Ditakut-Takuti

19 April 2010 Artikel Pendidikan


Samuel Benipasius, 5 tahun, sekarang terlihat lebih pendiam dibanding teman-teman sebayanya. Padahal saat umur 2-3 tahun, bocah itu dikenal sebagai anak periang, bahkan cenderung hiperaktif. Dia kerap berlari ke sana ke mari. Samuel biasa bermain sendiri meski ditinggal orang tuanya saat menjaga toko mereka.

"Sekarang dia jadi agak penakut," kata Doris Marina, 34 tahun, ibu kandung Samuel saat ditemui di rumah mereka di kawasan Kreo, Jakarta Selatan, Selasa lalu. Doris mengeluhkan sikap penakut putranya itu karena amat mengganggu dia ketika meladeni pelanggan. Rumah mereka yang berada di belakang toko sepi saat siang hari. "Saya terpaksa menjaga toko sambil menemani Samuel," kata Doris.

Bocah berkulit cokelat itu tidak berani lagi ditinggal sendirian di kamar. Ia juga gampang takut dengan hewan-hewan yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti tikus. Bahkan Samuel ketakutan melihat tante atau ibunya sendiri yang menutup muka dengan handuk setelah mandi dan menggunakan masker wajah sebelum tidur.

Samuel belum bersekolah. Sehari-hari ia hanya bermain di dalam rumah. Ia tidak punya banyak teman karena tetangga orang tuanya tidak lagi punya anak yang sebaya dengannya. Karena itu, ia sering mengajak orang tuanya sebagai mitra bermain. Namun Doris melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak baik kepada anak, yaitu menegur Samuel dengan cara menakuti-nakutinya.

Rumah mereka terdiri atas dua lantai. Lantai atas lebih banyak difungsikan sebagai gudang, Doris melarang Samuel untuk ke atas sendirian. "Di sana ada setannya, nanti gangguin kamu," kata Doris menirukan ucapannya kepada Samuel. Begitu juga saat bermain di dapur, Doris melarangnya. "Di situ ada tikus yang suka gigit anak kecil," kata Doris.

Banyak kalimat lain yang digunakan Doris, yang intinya menakut-nakuti Samuel. Ia menilai cara ini ampuh membuat anak semata wayangnya itu patuh. "Dia tidak akan melanjutkan niatnya saat dibilang begitu," kata Doris. Hingga kini, perempuan keturunan Sumatera itu masih melakukan hal itu kepada Samuel.

Efriyanti Djuwita, psikolog anak, menyayangkan kebiasaan orang tua yang suka menakut-nakuti anaknya. Kebiasaan ini akan membuat anak tumbuh dengan tidak memiliki rasa percaya diri yang besar. Dan cenderung takut menghadapi dunia luar. "Ia akan menganggap lingkungannya berbahaya," katanya.

Ketika sang anak merasa berbahaya, ia akan merasa takut untuk mencoba. Padahal usia 3-5 tahun adalah masa pada saat anak punya rasa ingin tahu yang sangat besar. Rasa ingin tahu ini akan digunakan anak untuk belajar menggunakan semua pancaindranya. "Karakter anak akan terhambat bila ia enggan belajar," kata Efriyanti.

Hal ini pula yang dialami Samuel. Doris menyebut anaknya itu lebih suka menonton televisi ketimbang bermain. Ia juga tampak larut dengan dunianya sendiri saat bermain video game. Doris mengaku sering membelikan mainan sesuai dengan usianya, tapi si anak tidak mau bermain di rumah sendirian.

Efriyanti menyebut saat ini belum terlambat bagi orang tua untuk kembali mendidik anak dengan cara tidak menakut-nakutinya. Kebiasaan itu, katanya, mesti diubah dengan menggunakan kalimat-kalimat sederhana yang mudah diterima logika anak. "Anak usia 5 tahun sebenarnya sudah sadar norma bila diajarkan," katanya.

Misalnya dengan memberikan sanksi dan penghargaan kepada anak, saat menunjukkan kepada mereka mana yang salah dan mana yang benar. Jangan gunakan kalimat abstrak. Karena anak akan melakukan kegiatan yang sama karena merasa tidak diberi jawaban yang memuaskan.

Misalnya, pentingnya menggunakan sabuk pengaman saat berada di dalam mobil. "Jelaskan bila tidak mengenakan sabuk nanti bisa terjatuh dan luka, bukan karena dimarahi polisi," katanya.

Bila mereka sudah patuh, berikan penghargaan lewat pujian, bukan hanya penghargaan materi. Bila mereka salah, berikan sanksi yang mendidik. Contohnya, tidak akan diajak jalan-jalan lagi. "Hindari sanksi yang berbentuk fisik," kata Efriyanti.

Lama-kelamaan, anak akan sadar dengan sendirinya mana yang salah dan benar tanpa harus ditakut-takuti. "Menggunakan kalimat tegas hanya digunakan untuk sesuatu yang membahayakan jiwa anak," katanya.

Menuntun tanpa Menakuti
Pahami setiap perilaku anak. Karakter tiap anak cenderung berbeda. Karena itu, orang tua harus selalu terus mendampingi dan mengawasi agar sang anak merasa aman.Berikan pengertian yang masuk akal kepada si anak. Anak-anak saat ini sudah lebih cepat menyerap norma dan kebiasaan lingkungan sekitar. Ia akan menolak jawaban dari orang lain bila dianggap tak lazim.Orang tua harus konsisten mengarahkan mana yang benar dan yang salah. Bila tidak konsisten, anak akan merasa ambigu, dengan mengulang kenakalan yang sama.Berikan penghargaan lewat pujian. Anak akan terpacu melakukan tindakan yang diperintahkan orang tuanya, karena mereka layaknya orang dewasa yang senang dipuji. (Mustafa Silalahi)Sumber: Suaramerdeka.Com