Suami Isteri Berhenti Bertengkar: Apakah Bisa? (Bagian:1)

13 Juni 2014 Artikel Pendidikan   |    dra. Catherine DML. Martosudarmo, M.Sc


Benarkah bahwa pasangan suami isteri tetap mencintai satu sama lain, walaupun sering bertengkar? Benarkah pertengkaran merupakan bumbu dalam perkawinan? Jika pertengkaran itu bumbu, seharusnya perkawinan itu menjadi lebih nyaman pasca pertengkaran; lebih enak, seperti makanan yang lebih lezat setelah diberi bumbu. Setujukah Anda? Bagaimana kenyataan yang dialami oleh banyak pasangan yang sering bertengkar?

Mengapa banyak pasangan yang ingin berpisah, karena merasa tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan pasangannya, alias selalu bertengkar? Pasangan tersebut atau salah satu dari pasangan itu merasa kecapaian dan ingin menyerah alias ingin keluar dari perkawinan dan tidak mau lagi hidup sebagai suami isteri. Untuk pasangan yang selalu bertengkar dan datang kepada saya untuk berhenti bertengkar, saya seringkali bertanya: "Benarkah Anda ingin berhenti bertengkar, karena saya khawatir Anda akan berhenti berkomunikasi nantinya?"

Adakah cara berkomunikasi yang TIDAK sama dengan bertengkar? Banyak pasangan yang sudah kehilangan ide akan cara berkomunikasi yang sehat tanpa bertengkar, sehingga berbicara tentang topik apa pun, senantiasa bertengkar. "Topik ringan atau pun berat selalu saja bertengkar", kata Ani yang ingin membebaskan diri dari situasi menyesakkan ini. Ada individu yang harus berbicara dengan nada tinggi atau berteriak dahulu, baru pasangannya bereaksi. "Hati rasanya dibuat panas dahulu, sebelum mulai bicara topik tertentu", keluh seorang isteri.

Tulisan berikut ini hendak memaparkan beberapa teknik yang semoga dapat membantu pasangan suami isteri dalam mengubah pola komunikasi yang selama ini kurang efektif atau mengakibatkan pertengkaran yang tak kunjung reda, menjadi relasi yang hangat dan penuh berkat.

Mengapa Bertengkar?

Dalam memulai sebuah perkawinan, laki-laki dan perempuan berjanji kepada Allah di hadapan satu sama lain untuk setia dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit, dan seterusnya........ Bahkan secara hukum pun, janji tersebut dikuatkan oleh negara dalam bentuk surat kawin.

Pada waktu memasuki sebuah perkawinan, secara umum ada tiga macam janji terkandung di dalam diri pasangan suami isteri, yaitu: secara eksplisit, implisit, dan secara "private"/pribadi/unik. Jika dalam perjalanan pernikahan, janji ini tidak dipenuhi oleh salah satu atau kedua individu dari pasangan yang menikah itu, maka akan menimbulkan kekecewaan. Semakin mendalam arti janji itu bagi individu yang dikecewakan, semakin dalam kekecewaannya, semakin sulit pula pemulihannya.

Yang pertama adalah janji yang sifatnya secara eksplisit, artinya secara terbuka mereka berjanji untuk melakukan beberapa hal yang sudah disepakati bersama, baik itu secara umum, di hadapan banyak orang, atau pun di antara mereka berdua. Untuk beberapa pasangan modern, mereka telah membuat daftar janji eksplisit ini, sehingga jelas bagi masing-masing individu, dapat dilihat dan dibaca setiap saat.

Pada banyak pasangan, janji yang secara implisit, lebih mendominasi warna perkawinan mereka; artinya "tahu sama tahu" atau "sudah wajar dan seharusnya (taken for granted)". Janji yang secara implisit ini tidak diucapkan atau ditulis, namun tinggal di dalam hati, seperti "saya akan melakukan beberapa hal tertentu dan sebaliknya saya berharap kamu melakukan beberapa hal juga sebagai balasannya". Seorang suami berkata: "Tidak perlu diucapkan atau ditulis, karena seharusnya dia mengerti". Inilah yang sering dikatakan oleh individu yang merasa harapannya tidak dipenuhi oleh pasangannya. Dia merasa telah memberikan apa yang dia janjikan, tetapi dia tidak mendapat balasan yang setimpal (menurut ukurannya sendiri). Janji secara implisit ini dapat dari yang sangat agung, seperti "saya mencintai dan setia kepadanya demikian juga dia mencintai dan setia kepada saya", sampai yang sangat duniawi, seperti "saya bertanggung jawab untuk mencari nafkah dan dia bertanggung jawab membereskan keperluan rumah tangga"; "saya tidak mengeluh capai bekerja di luar rumah, dan dia juga tidak mengeluh capai bekerja di dalam rumah". Ketika harapan tidak menjadi kenyataan, pertengkaran pun terjadi.

Janji yang ketiga adalah janji yang sifatnya"private" atau janji pribadi terhadap diri sendiri, biasanya tersembunyi, sehingga sering disebut "hidden agenda". Semua dari kita membawa janji pribadi ini ketika masuk dalam perkawinan, baik secara sadar mau pun tidak disadari. Suatu hari, Arti dan Arto yang sudah menikah 2 tahun datang ke konseling karena Arto meminta Arti berhenti bekerja. Sejak pacaran, Arto tidak pernah keberatan Arti bekerja di sebuah kantor akuntan publik bahkan tampak mendukung dengan mengantar dan menjemput setiap hari. Akan tetapi sejak anak pertama lahir, Arto meminta Arti untuk berhenti bekerja dan merawat anak penuh waktu di rumah. Arti merasa keberatan, karena itu tidak dibicarakan sebelumnya. Arti ingin berkarir di bidangnya dan dia merasa dapat membagi waktu. Pertengkaran pun memuncak dan merambah ke masalah-masalah lain, sehingga Arti menyerah dan bermaksud meninggalkan perkawinan ini. "Saya pikir, kamu bangga saya bekerja di dalam profesi saya", kata Arti. "Ya tentu saja saya bangga waktu itu, tetapi seharusnya kamu tahu bahwa setelah anak lahir, isteri itu tinggal di rumah", balas Arto.

Janji pribadi/agenda tersembunyi ini dapat sangat unik untuk setiap orang dan biasanya sangat dipengaruhi oleh latar belakang keluarga. Di lain pihak, Tina berkata bahwa dia sering bingung melihat suaminya yang tidak punya rencana harian mau pun mingguan untuk waktu bersama keluarga. Tina dibesarkan dari keluarga yang selalu punya agenda acara keluarga di hari Sabtu dan Minggu. Tina sangat menikmati dan menghargai rutinitas keluarga asalnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa kelak ia ingin menerapkan kebiasaan yang sama dalam keluarga yang akan dibinanya. Namun demikian, hal itu tak dapat menjadi kenyataan. Tina menahan kekecewaan ini dan menunggu perubahan selama delapan tahun. Ditambah dengan kekecewaan pada aspek lain, Tina sudah tidak mau memberi kesempatan lagi kepada Tono karena menurutnya delapan tahun cukuplah sudah ia menanti perubahan itu. Menurut Tina, ia sudah pernah memberitahu suaminya dengan berbagai cara tetapi tidak ada perubahan, maka habislah sudah kesabarannya. Tina menganggap delapan tahun adalah waktu yang sudah terlalu lama. Tina sudah menyusun rencana apa saja yang akan ia lakukan jika ia menyudahi perkawinan ini. Semua rencana itu sudah disusunnya secara rapi sehingga ia tampak siap keluar dari perkawinan ini. Suami Tina sangat terkejut sambil berkata: "separah inikah perkawinan kami?" (Bersambung)

Bagaimanakah cara suami isteri berhenti bertengkar? Nantikan artikel saya berikutnya...

(Penulis adalah psikolog, terapis perkawinan & keluarga)