Strategi Mengasuh Anak Hiperaktif

19 Juli 2018 Artikel Pendidikan


Seringkali orangtua lebih memilih marah dan berteriak saat menghadapi anak yang hiperaktif. Atau mungkin orangtua justru kerap memukul anaknya yang hiperaktif agar lekas tenang. Namun, sadarkah anda bahwa tindakan ini bukanlah solusi yang tepat? Jika anda memiliki anak yang hiperaktif, maka perlu lebih tenang dan sabar dalam menghadapinya. Memiliki anak yang hiperaktif perlu penanganan khusus. Pasalnya penyebab anak menjadi hiperaktif adalah adanya gangguan genetik pada DNA anak yang bersangkutan. Bukan karena akibat lain seperti salah pola pengasuhan terhadap anak.

Di seluruh dunia, dari jumlah anak yang normal, keberadaan anak hiperaktif itu mencapai 3-5 persen. Hiperaktif atau yang disebut juga dengan ADHD (Attention-Deficit and Hyperactivity Disorder) merupakan penyakit genetik dan membuat otak anak berkembang dengan kondisi berbeda dibandingkan dengan anak-anak yang normal. Dalam sebuah penelitian, didapati bahwa otak anak-anak yang menderita ADHD ternyata memiliki potongan kecil DNA yang terhapus maupun terduplikasi yang dikenal sebagai Copy Number Variants (CNVs). Area yang tumpang tindih tersebut berada di area tertentu yang terdiri dari beberapa gen yang berperan dalam perkembangan otak dan terkait dengan gangguan kejiwaan serta schizofrenia.

ADHD akan membuat penderitanya impulsif sehingga melakukan sesuatu tanpa berpikir, merasakan kegelisahan yang berlebihan, mudah merasa terganggu serta biasanya mengalami kesulitan dalam pelajaran. Para ahli membagi ADHD dalam 3 tipe, yaitu tipe yang tidak bisa memusatkan perhatian, tipe yang hiperaktif dan impulsif serta tipe gabungan dari keduanya.

Pada tipe yang pertama, penderitanya tidak mengalami gejala hiperaktif maupun impulsif namun sangat mudah terganggu perhatiannya. Biasanya tipe ini terdapat pada anak-anak perempuan dengan gejalanya berupa sering melamun dan seolah merasa sedang berada di awang-awang.Pada tipe kedua, penderitanya menunjukkan gejala hiperaktif dan impulsif namun masih dapat berkonsentrasi dan memusatkan perhatian pada sesuatu. Biasanya tipe ini dapat ditemukan pada anak-anak kecil.Sementara pada tipe ketiga merupakan yang paling banyak ditemui, anak-anak penderitanya akan sulit memusatkan perhatian serta hiperaktif dan impulsif. Sampai sekarang penyakit ADHD ini masih belum ditemukan obatnya, meski begitu, Anda dapat meminimalisir gejala hiperaktif tersebut dengan cara melakukan terapi perilaku. Berikut tipsnya:

1. Ubah tingkah laku anak yang buruk.
Anak-anak umumnya senang mencari perhatian dari orang tua lewat hal-hal yang dilakukannya. Namun anak-anak yang hiperaktif justru lebih sering mendapat perhatian dari aktivitas-aktivitas buruk yang dilakukannya. Dengan begitu, Anda perlu merubah pola dalam memberikan perhatian kepada buah hati dengan cara yang lebih positif.

2. Buat peraturan dengan si kecil.
Peraturan dibuat untuk menegakan kedisiplian. Biasakanlan untuk menegakan disiplin buat anak yang hiperaktif. Anda bisa menulis peraturan itu dan menempelnya di dinding sehingga semua penghuni bisa membaca dan mematuhinya. Berilah hukuman yang mendidik bila ada anggota keluarga yang melanggarnya.

3. Mengajak anak berolah raga.
Anak hiperaktif memiliki energi yang berlebihan di dalam tubuh. Mereka butuh energi tersebut untuk disalurkan sehingga pikiran mereka pun bisa kembali fokus. Salurkan energi tersebut kepada hobi si anak misalnya bermain basket, les piano dan sebagainya. Disamping membantu menyalurkan energi, dengan melakukan aktivitas olahraga dapat membantu dalam mengelola mood-nya.

4. Menghabiskan waktu bersama.
Menghabiskan rutinitas waktu bersama dengan anak hiperaktif sangat diperlukan. Aktivitas ini bisa dilakukan seperti jalan-jalan bersama, membaca buku cerita, nonton film atau makan bersama. Dengan meluangkan waktu maka akan tercipta hubungan batin yang kuat antara anda dengan si buah hati. Kelebihan dari menghabiskan waktu bersama ini adalah anda dapat mengontrol perilaku anak. Bila kemudian ada yang kurang baik, anda bisa memberitahukannya dan kemudian mencontohkannya kembali.

Ingat, ketika berhubungan dengan anak hiperaktif anda perlu bersabar dan tetap menenangkan diri terlebih dahulu. Jika anda menghabiskan waktu yang berkualitas dengan anak anda, itu akan membantu anda memiliki hubungan yang baik dan sehat dengan anak.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)