Siapa Pencari Bakat Terbaik bagi Anak Remaja Kita?

5 April 2016 Artikel Pendidikan   |    dra. Catherine DML. Martosudarmo. M.Sc


Setiap orangtua yang berkonsultasi dengan saya tentang anak remajanya seringkali bertanya: "sebenarnya apa bakat anak saya ini?" Di dalam hati, saya sering berkata: "Lho kok bertanya pada saya; bukankah Bapak dan Ibu adalah orangtuanya? Bukankah Bapak dan Ibu yang hidup bersama dengan anak ini?" Banyak orang berpikir, karena saya psikolog, maka saya dapat langsung mengetahui bakat seseorang.

Apa itu bakat? Bakat adalah potensi yang ada pada seseorang tentang suatu ketrampilan atau keahlian tertentu, yang jika dilatih atau diasah, ditambah dengan minat atau kesukaan dalam mengerjakannya, hasilnya akan tampil luar biasa. Apa itu bakat terpendam? Bakat terpendam artinya potensi yang ada tetap tinggal sebagai potensi pada diri orang yang bersangkutan; tidak tampil dalam prestasi, ketrampilan atau keahlian tertentu. Bakat terpendam tidak ada gunanya, karena tidak bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Siapa pencari bakat yang paling jitu? ORANGTUA

ORANGTUA adalah pencari bakat terhebat bagi anak-anaknya. Orangtua hendaknya menjadi pengamat kelebihan, minat, kekuatan dan kelemahan anak-anaknya. Mungkin ada unsur coba-coba atau "trial and error. Tidak apa-apa, sambil berjalan pengamatan pun dipertajam.

Bagaimana kita mengetahui bakat anak remaja kita?

Masalahnya, masa remaja merupakan masa yang sulit bagi orangtua dan remaja sendiri. Orangtua dan remaja sering berdebat dan salah paham karena memiliki perbedaan harapan/ekspektasi.

Cobalah kita lihat sejenak perkembangan remaja dalam berbagai aspek:

1. Perkembangan kognitif:

Pada usia ini remaja memasuki tahapan kematangan intelek. Ia sudah mampu berpikir jauh melebihi dunia nyata dan melebihi keyakinannya sendiri, ia mampu memasuki dunia ide-ide abstrak. Remaja pun sudah mampu memecahkan masalah secara sistematis, tidak hanya meniru orang lain seperti ketika masih kanak-kanak. Lebih jauh, remaja mampu berpikir reflektif, mengevaluasi pemikiran yang sudah lewat atau pemikiran orang lain dan diri sendiri. Ia mampu berimajinasi hal-hal yang ideal, dan mampu berpikir abstrak.

2. Perkembangan moral-etika:

Pada usia remaja, mereka lebih menghormati orang yang memegang kekuasaan. Sebagai contoh, jika ayah dan ibu tidak kompak dalam mendisiplin, anak remaja akan lebih hormat pada orang yang berpihak kepadanya, biasanya yang enak bagi dirinya. Selain itu, masa remaja adalah masa menaruh minat pada hukum dan disiplin. Pada dasarnya mereka senang menegakkan hukum dan disiplin. Remaja juga gemar memperhatikan kewajiban yang harus dilakukan. Remaja merupakan individu yang mampu memperhatikan tata kehidupan sosial serta mengetahui pentingnya menjaga keamanan diri. Remaja menghormati orang yang memelihara aturan masyarakat dan melakukan apa yang dikatakan (Walk the talk).

3.Perkembangan ego:

Remaja adalah masa ketika individu berada dalam situasi yang ambigu: di satu sisi ingin memiliki identitas pribadi yang jelas, namun di sisi lain mereka ingin memiliki rasa kekaburan identitas. Remaja juga mulai belajar memberikan loyalitas terhadap suatu kelompok yang menjadi bagian identitas (kelompok teman, ideologi, keagamaan, dsb). Adakalanya remaja juga mengevaluasi identitas yang dianggap kuno untuk dipikirkan ulang alias dipertajam.

Adapun Identitas meliputi tiga konsep diri yaitu yang berkaitan dengan orientasi seksual, yang berkaitan dengan pekerjaan / panggilan dan yang menyangkut pada aspek sosial. Remaja ingin tahu siapa dirinya dan kemana hidup diarahkan, mereka menyenangi identitas diri yang unik, maka seringkali kita menyebutnya eksentrik. Pada sisi yang lain, remaja sering mengalami konflik identitas karena ada jarak antara siapa diri yang sebenarnya dan keinginan menjadi pribadi ideal.

4. Perkembangan iman:

Pada usia ini, remaja membentuk sikap terhadap hidup melalui apa yang dipercayai oleh keluarganya sendiri menuju pandangan di luar diri dan keluarga.
Menanamkan iman di masa remaja yang merupakan kelanjutan dari masa kanak-kanak sangatlah penting sebagai bekal hidup selanjutnya.

Melihat perkembangan psikologis remaja di atas, mereka mengalami tarik-menarik yang unik antara usia kanak-kanak dan dewasa. Kebanyakan remaja belum tahu siapa dirinya dan cenderung mudah berubah. Oleh karena itu, komunikasi yang lancar dengan orangtua sangatlah berharga, agar kebingungan anak dapat segera diluruskan.

Bagaimana jika anak kita mampu di banyak bidang atau sering disebut "multi talented"?

Pertama-tama kita harus bersyukur jika mempunyai anak yang "multi talented". Anak mempunyai banyak kelebihan dan biasanya energi nya pun di atas rata-rata anak seusianya. Kita berikan kesempatan untuk mengasah dan meruncingkan minat serta menggunakan energinya untuk meraih berbagai prestasi. Lama-kelamaan bakat yang paling menonjol akan tampak.

Persoalan yang sering ditanyakan orangtua adalah: Apakah mencari bakat anak berarti akan ada banyak pengeluaran?
Bisa jadi ya, bisa jadi tidak juga, tergantung bagaimana strategi orangtuanya. Jika komunikasi baik, anak dapat diajak kompromi.

Oleh karena itu, ketegangan antara remaja dengan orang tua dapat dihindari jika hubungan antara keduanya bersifat terbuka.

Kenali dan pahami perkembangan yang terjadi di sekitar anak daripada langsung melarang, menyuruh, menasihati, dan mengingkari perasaan mereka.

Orangtua dapat mengajarkan anak membicarakan perasaan dengan jelas dan sopan dan menciptakan suasana nyaman sehingga anak tidak merasa dihakimi atau diceramahi. Jangan heran jika kemudian anak kita terlihat menjadi anak yang berbakat.

Selamat berkomunikasi dengan anak remaja kita dan selamat berjuang dalam menemukan bakat - bakat nya.