Seri Kimia: Yuk Ketahui Pemisahan Komponen Kimia dalam Campuran

25 April 2016 Artikel Pendidikan   |    Gigih Kurniawan


Ketika Anda memiliki sebuah larutan dimana larutan tersebut mengandung senyawa A dan senyawa B. Kemudian Anda ingin mendapatkan senyawa A, tetapi di pasaran senyawa A tersebut stoknya habis. Saat itu Anda sangat membutuhkan sekali senyawa A tersebut untuk penelitan yang sudah dikejar deadline. Kemudian apa yang seharusnya Anda lakukan?

Pengenalan Teknik Kromatografi

Paragraf pertama tersebut adalah sebuah pengantar untuk mempermudah pembahasan kita pada materi ini. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita pastinya harus belajar ilmu kimia tentang pemisahan yaitu yang lebih dikenal dengan nama Kromatografi. Kromatografi merupakan metode fisika-kimia untuk memisahkan komponen kimia dalam suatu campuran, baik itu cair maupun gas. Metode ini banyak diterapkan pada banyak campuran heterogen atau dalam bentuk padat yang dapat dilarutkan dalam pelarut yang sesuai.


Untuk penjelasan lebih mudah tantang kromatografi, kita gunakan gambar 1. Pada gambar 1 dijelaskan bagaimana mekanisme pemisahan pada ilmu kromatografi. Berikut penjelasannya:

  • Sebelum memulai percobaan tentang kromatografi, telah disiapkan beberapa bahan, antara lain: Sampel, MP=Mobile Phase (Fase Gerak), SP=Stationary Phase (Fase Diam), dan C=Kolom Kromatografi.
  • Material sebagai fase gerak dimasukkan ke dalam kolom kromatrografi dan selanjutnya diikuti oleh sampel. Sampel berupa larutan tersebut sekarang telah berada dalam kolom.
  • Larutan yang akan kita pisahkan menjadi komponen-komponen penyusunnya telah siap untuk dipisahkan. Kemudian larutan sebagai fase gerak kita masukkan ke dalam kolom. Karena efek gravitasi, maka larutan gase gerak tersebut akan turun.
  • Larutan fase gerak tersebut akan turun dengan membawa komponen penyusun larutan yang disebut dengan proses elusi. Saat fase gerak mengalir ke bawah, maka komponen-komponen penyusun larutan campuran tersebut akan bermigrasi dengan perbedaan kecepatan masing-masing. Perbedaan kecepatan inilah yang akan memisahkan komponen-komponen tersebut satu sama lainnya. Komponen yang mudah larut pada fase gerak akan lebih cepat melewati kolom, sedangkan komponen yang lebih kuat ikatannya dengan fase diam, maka lebih lama larutnya. Pada gambar contoh tersebut terdapat 3 komponen penyusun dan ketiganya ditampung pada wadah masing-masing setelah proses elusi. Komponen tersebut masih mengandung senyawa pembawa (fase gerak) sehingga perlu dimurnikan untuk mendapatkan komponen tersebut.


Setelah proses pemurnian akhirnya kita telah mendapatkan senyawa komponen penyusun larutan campuran tersebut. Apabila kita ingin mengetahui apakah senyawa yang kita dapatkan tersebut merupakan yang kita inginkan, kita bisa melihat retention timesenyawa tersebut saat proses elusi tadi. Waktu retensi komponen tersebut kita bandingan dengan referensi.

Manfaat Kromatografi

Teknik kromatografi digunakan secara luas pada proses analisa fisika kimia terutama yang berkaitan dengan proses pemisahan. Teknik kromatografi banyak digunakan untuk analisa kuantitatif maupun kualitatif. Pada analisa kuantitatif biasanya teknik kromatografi ini digunakan untuk mengetahui kadar suatu senyawa X pada suatu larutan campuran, sedangkan pada analisa kualitatif biasanya untuk mengidentifikasi kandungan atau komponen apa saja yang terkandung pada suatu campuran. Misalnya untuk pengujian urin, mengandung senyawa apa saja urin tersebut. Apakah terdapat obat-obatan yang dilarang atau tidak, bisa kita ketahui dengan teknik kromatografi ini (uji kualitatif). Jika ada, maka berapa kandungan komponen obat-obatan terlarang pada urin tersebut (uji kuantitatif).

Macam-macam Teknik Kromatografi

Teknik kromatografi mempunyai berbagai macam tipe. Tipe teknik kromatografi antara lain: Liquid Chromatography (LC), LC merupakan teknik kromatografi yang menggunakan liquid sebagai fase geraknya; Gas Chromatography (GC), pada GC fase gerak yang digunakan adalah gas inert; Supercritical Fluid Chromatography (SFC), fase gerak pada SFC adalah fluid dalam bentuk supercriticalnya seperti CO2 pada temperature 500C dan tekanan >150 bar (15 MPa), sedangkan fase diamnya dapat berupa padat atau cair.

(Penulis merupakan Alumni Kimia dari Universitas Brawijaya Malang. Tulisan Gigih Kurniawan bisa Anda lihat di sini gigihkurnia.wordpress.com)