Remaja 'nge-Geng', Bolehkah?

10 April 2014 Artikel Pendidikan


Pertemanan dengan teman-teman sebaya dalam masa remaja menjadi hal atau pengaruh yang mendominasi dalam proses identifikasi dan pengembangan dirinya dibandingkan lingkungan keluarga. Pertemanan dimulai dengan satu, dua orang dan lambat laun jumlahnya akan semakin bertambah dan memungkinkan terbentuklah suatu kelompok sosial remaja (geng) yang dasarnya dilandasi oleh persamaan hobi, gagasan, gaya hidup dan sebagainya. Di dalam kelompok sosial ini remaja memiliki kesempatan mengaktualisasikan dirinya secara optimal, berbeda jika berada dengan orang-orang dewasa yang selalu membatasi, mengkritik dan menyalahkan dirinya dalam bersikap dan berbuat.

Hal tersebut wajar untuk remaja. Namun, yang tidak wajar adalah nge-geng dengan kegiatan yang meresahkan masyarakat, bertindak kriminal, dan merusak. Seperti geng motor, misalnya. Mulanya bergabung dalam sebuah geng karena memiliki ketertarikan yang sama terhadap motor, sama-sama memiliki motor, hingga akhirnya memiliki keterikatan antar anggota geng. Dalam nge-geng, yang penting kita tahu tujuannya. Jangan sampai kita terjerumus dalam sebuah geng yang tujuannya buruk. Pasalnya, teman-teman satu geng seringkali mengatur tingkah laku sesama. Mulai dari cara berpakaian, hobby, sikap, dan lainnya meskipun tidak ada peraturan tertulis untuk mengaturnya. Tekanan kadang datang ketika kita butuh pengakuan kelompok dan reputasi. Tekanan-tekanan itu kadang muncul dari kesadaran kita. Ada yang menuruti bujukan teman se-gengnya karena ingin mencoba sesuatu yang baru, ada yang ingin disukai dan takut diejek, dan merasa aman jika mendapat persetujuan teman se-geng.

Nah, apakah kita mampu menolak hal yang tidak sesuai? Atau kita akan ikut-ikutan dengan hal-hal yang berbau negatif yang dilakukan teman-se-geng, seperti kriminalitas yang dilakukan oleh geng motor yang sudah ada dipemberitaan media massa?

Untuk itu kita harus mampu membedakan hal positif dan negatifnya. Hal positif contohnya, ketika nilai anjlok, maka teman-teman se-geng mengadakan belajar bareng. Tapi, jika mereka meminta merokok atau nge-drugs agar dianggap anak gaul? Jangan segan-segan untuk menolaknya.

Pandailah memilah dan memilih komunitas/kelompok yang akan menjadi tempat kita bergabung. Jika pandai memilih, akan ada beberapa manfaat yang kita dapatkan. Misalnya, memperluas wawasan di luar keluarga, punya tempat curhat, mempunyai kesempatan untuk lebih mandiri, dan yang paling klise adalah mencari identitas. Identitas ibarat trade mark sebuah produk yang nantinya akan mempengaruhi kita. Membentuk rasa percaya diri karena adanya status dan reputasi yang bagus saat tergabung di suatu geng. Memang, masa remaja adalah saatnya mencari identitas. Sedikit banyak, geng akan berperan besar ketika kita menanyakan ‘siapa saya?’, ‘saya suka apa?’, dan lainnya. Namun, hal itu hanya bermanfaat untuk geng yang berjalan di jalur yang benar.

Biasanya, remaja yang mempunyai harga diri yang tinggi mengetahui dengan jelas batasan-batasannya untuk mengikuti geng-nya. Keunikan dan tampil beda akan menambah kepercayaan diri kita. Tapi, ingat bahwa keunikan yang kita miliki jangan berbentuk sesuatu yang negatif dan melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Semoga bermanfaat!

Oleh: Ariyanti S
(Dikutip dari berbagai sumber)