Artikel Pendidikan
6 Agustus 2009

Potensi Anak Cerdas Telantar

JAKARTA, KOMPAS.com Kurangnya pelayanan pendidikan yang tepat bagi anak cerdas dan berbakat istimewa berarti penelantaran terhadap potensi individu. Padahal, anak cerdas dan berbakat istimewa mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan sesuai kebutuhan mereka.

Hal itu dikemukakan oleh Dekan Fakultas Psikologis Universitas Muhammadiyah Tulus Winarsunu, Jumat (31/7). Kalau tidak tersedia penanganan yang tepat, sekolah bisa menelantarkan potensi individu, ujarnya.

Anak cerdas dan berbakat istimewa yang tak mendapatkan pendampingan yang tepat dapat berujung pada perilaku negatif. Dia tetap pintar, cuma produknya yang berubah. Anak cerdas penggemar program komputer, misalnya, malah iseng menciptakan virus pengganggu, ujarnya.

Mekanistik terjadwal

Saat ini, sekolah umum kesulitan mendampingi mereka karena sistem yang terlalu mekanistik, terjadwal, bersistem kelas besar, dan berorientasi menyelesaikan materi.

Di tengah kondisi demikian, minimal sekolah harus berupaya mengadakan penilaian terhadap anak cerdas dan berbakat istimewa tersebut serta memberikan pengayaan.

Psikolog dari Universitas Surabaya yang aktif meneliti tentang anak cerdas dan berbakat istimewa, Evy Tjahjono, mengatakan, perkembangan khas anak adalah kemampuan kognitif (ditandai IQ di atas 130).

Mereka mampu menangkap informasi dan menyerap pelajaran jauh lebih cepat. Kecerdasan dan keberbakatan itu merata di berbagai aspek, ujarnya.

Label negatif

Tidak sekadar berintelektual tinggi, mereka antara lain juga mempunyai kreativitas, kemampuan psikomotorik, dan serta kepekaan emosi yang tinggi.

Kalau orang tidak paham, sering anak cerdas justru dipandang sebagai hiperaktif, padahal itu hanya kondisi yang berbeda, ujarnya.

Dengan kemampuan yang biasanya disertai karakter ikutan khas, mereka membutuhkan simulasi belajar yang berbeda (lebih abstrak), bervariasi, dan mendalam.

Kalau di kelas biasa, dia rawan mengalami kebosanan, demotivasi, dan merasa jenuh. Dengan kondisi seperti itu, potensi mereka bisa tidak berkembang. Terkadang sekolah salah pengamatan dan memberikan label negatif, seperti bandel, tukang protes, atau malas. Pelabelan itu membuat anak mempunyai konsep diri negatif, ujarnya.

Sumber: Kompas.Com

Artikel Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Karir Iklan Baris