Play is Back - Bagian 1

6 Juli 2012 Artikel Pendidikan   |    Hanlie Muliani, M. Psi, Psikolog


Tidak heran orangtua dan pendidik jaman sekarang merasa lelah. Kita terperangkap dalam asumsi yang keliru. Kita diberitahu bahwa "lebih cepat itu lebih baik" dalam membesarkan dan mendidik anak. Kita harus mendorong anak untuk terus belajar seperti sedang berada dalam sebuah arena kompetisi yang tak pernah usai. Kita diberitahu bahwa setiap menit dari kehidupan anak harus diisi oleh hal-hal yang "bermakna", seperti, memberikan musik klasik pada bayi dalam kandungan, memberikan flash cards kepada anak usia belum genap satu tahun, membelikan mainan edukasi semata enggan memberikan mainan sungguhan. Semua dilakukan orangtua agar anaknya memiliki kemampuan intelektual hebat, juga cepat. Anak ibarat kertas kosong yang harus dilukis indah oleh orangtua untuk kehidupan mereka kelak.

Banyak keluarga saat ini, terutama di kota besar seperti Jakarta, kedua orangtua bekerja. Banyak waktu habis di luar rumah. Kondisi ini memunculkan rasa bersalah orangtua. Orangtua ingin memastikan anak berada dalam pengasuhan terbaik. Orangtua juga didorong oleh rasa takut menghadapi masa depan yang tidak pasti. Orangtua membekali anak dengan senjata lengkap untuk menghadapi hari esok dan mengantisipasi kegagalan. Waktu anak diisi dengan banyak kegiatan terbaik menurut orangtua. Anak dijejali dengan beragam les setiap harinya. Akhirnya, anak hanya memiliki waktu luang di hari libur. Fenomena yang sudah "biasa" pada jaman ini sekaligus mengenaskan bagi anak kita.

Rasa takut, rasa bersalah menciptakan orangtua dan pendidik yang panik. Kepanikan terus menjalar dan menular sehingga membentuk asumsi yang keliru mengenai bagaimana membesarkan dan mendidik anak.

Pemujaan terhadap prestasi dan hilangnya masa kanak-kanak
Kegiatan sekolah dan jadwal les yang padat membuat anak terbeban. Anak menderita dengan tuntutan jaman. Anak Playgroup sudah dituntut untuk bisa membaca huruf dan angka. Sementara Anak Taman Kanak-kanak sudah dituntut bisa menjumlah dan membaca kalimat.

Tidak heran, banyak anak mengalami cemas, stres dan depresi. Beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan kecemasan pada anak. Ini terjadi mungkin karena peningkatan jumlah tes akademis. Di sisi lain, harapan orangtua pada nilai akademis anak begitu tinggi. Kecemasan ini mengganggu proses belajar dan kinerja anak. Hal lain yang mencemaskan adalah kurangnya frekuensi interaksi anak dengan orangtuanya. Padahal anak merasa aman dan nyaman saat berada di dekat orangtua dan di tengah keluarga. Diduga, ini menyebabkan meningkatnya tingkat kenakalan, kriminalitas, perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga.

Masalah lain yang timbul karena pemujaan terhadap prestasi adalah menurunnya kuatitas kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi ini meliputi kemampuan pengendalian diri, keuletan, ketekunan, kemampuan memotivasi diri dan orang lain, welas asih serta empati. Itulah esensi dari karakter seseorang.

Apa yang terjadi dengan bermain? Tahun 1981, anak-anak usia sekolah memiliki 40% waktu bermain. Tahun 1997, waktu bermain menurun hingga tinggal 25%.

Bahaya kurang bermain
Apakah waktu bermain yang sedikit bermasalah bagi anak? Beberapa ahli berpendapat, kurangnya bermain menimbulkan depresi dan sikap bermusuhan dalam diri anak. Coba saja kita bayangkan, apa yang kita rasakan kalau kerja terus tanpa cuti dan liburan? Kita akan mengalami depresi juga, bukan? Anak kita juga butuh istirahat untuk mengasimilasi hal-hal yang telah dipelajari, juga untuk sekedar bersenang-senang.

Data terbaik diperoleh dari penelitian dengan sejumlah hewan. Jaak Panksepp, profesor dari Bowling Green University di Ohio menggunakan seekor tikus yang diberi dua buah perlakuan. Pertama, tikus tersebut dikondisikan kurang bermain. Apa yang terjadi pada tikus ini? Tampak terlihat efek negatif pada otak di bagian lobus frontal. Bagian otak ini adalah pusat pengendalian diri terletak. Selanjutnya, tikus tadi dibiarkan bermain. Terjadi perbaikan pada otak dengan sendirinya pada tikus yang bermain. Jadi, perkembangan otak akan menjadi lebih baik dengan bermain.

Pentingnya bermain
Umumnya orangtua memahami makna bermain meskipun terdapat fakta adanya penurunan waktu bermain yang diberikan orangtua pada anak sejak tahun 1980. Survey oleh Harvard University tahun 2000, ada 87% orangtua dari anak berusia tiga sampai lima tahun menganggap bermain adalah penting untuk perkembangan sehat pribadi anak. Orangtua bahkan tahu jenis-jenis permainan yang terbaik bagi anak.

Orangtua paham apa yang harus dilakukan, namun tidak dapat melakukannya. Orangtua takut jika mempercayai naluri membiarkan anak bermain, anak akan kehilangan waktu untuk belajar. Seorang ibu mengatakan, "Kalau anak saya biarkan hanya bermain, dia akan kehilangan waktu berharga untuk belajar. Apa rasanya kalau anak saya tertinggal dari anak-anak yang lain?"

Bermain sama saja membuang waktu adalah mitos salah yang sudah meresap dalam lingkungan berorientasi pada prestasi dan mengagungkan intelektual semata. Para peneliti di dunia sependapat, bahwa bermain menjadi pondasi yang kokoh bagi perkembangan intelektual, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, serta sebagai esensi perkembangan emosi dan kemampuan sosial. Bermain memegang kunci dalam pemenuhan hidup yang sehat bagi anak. Bermain adalah kunci kebahagiaan dan kecerdasan anak.

Jenis permainan berbeda untuk tiap usia. Orang dewasa sudah tidak bermain air di bathtub dengan bola warna warni. Begitupun anak belum mampu bermain Scrabble yang justru menarik bagi kita orang dewasa. Permainan memiliki tingkat kompleksitas yang berbeda antar usia. Permainan adalah cermin perkembangan pikiran anak yang semakin kompleks seiring bertambahnya usia.

Einstein tidak pernah menggunakan flash cards
Pelajaran apa yang bisa kita lihat dari masa kanak-kanak Einstein? Sederhana, Einstein memilih jalannya sendiri. Masa kecilnya banyak dihabiskan untuk bermain. Orangtua dan keluarga memberi perhatian pada minat Einstein dan mendukungnya dengan pelajaran, mainan, buku, juga kebebasan melakukan apa yang dia sukai. Einstein punya kebebasan menjadi dirinya sendiri, kebebasan menelusuri masalah yang menarik baginya. Jika orangtua Einstein tidak pernah memberikan flash cards, mengapa orangtua jaman modern punya keyakinan mereka harus mengajar anak membaca sebelum usia tiga tahun?

Bersambung ke bagian 2 ...

Penulis adalah Direktur Golden Life Institute (Lembaga Pengembangan Karakter Anak dan Remaja), Center Serpong, Founder Sahabat Orang Tua dan Anak (Parenting & Children Development Consultant)

Adaptasi dari buku: Einstein Never Used Flash Card