Perlunya Memahami Anak Saat Memasuki Usia Remaja

26 November 2017 Artikel Pendidikan


Memiliki anak yang mulai beranjak dewasa bukan berarti tanggung jawab orang tua makin ringan. Begitu anak beranjak dewasa memiliki konsekuensi dan tanggung jawab atas dirinya sendiri dan orang tua tak boleh lepas tangan dari segala sepak terjang anak.

Tetap dalam pengawasan secara bijaksana dan melakukan komunikasi sesering mungkin. Terlebih saat ini, tantangan yang dihadapi anak dalam masa tumbuh kembangnya luar biasa berat. Tak hanya dari lingkungan pergaulan, juga pengaruh media masa dan teknologi informasi global. Jelas, butuh perhatian ekstra bagi orang tua dalam membimbing dalam mengawasi tumbuh kembangnya mereka.

Saat masih kanak-kanak, anak-anak menghujani orangtua dengan banyak pertanyaan. Begitu mulai menginjak usia remaja sepertinya anak menjaga jarak dengan orang tua. Orang tua bertanya, dijawab singkat oleh mereka. Hari-hari pun terlewati tanpa komunikasi antara anak dan orangtua dan hanya sekedarnya untuk ajak berbicara atau bertukar pikiran / berdiskusi. Tanpa komunikasi, orang tua menjadi tidak tahu apa saja yang sudah tertanam di benak anak-anak kita yang beranjak ke usia remaja. Apa saja yang dipikirkan anak, bagaimana si anak menilai dirinya dan memandang masa depan, apa saja sepak terjang si anak selama jauh dari orang tua,siapa saja teman-teman si anak, dan seterusnya.

Dalam membangun komunikasi efektif antara orang tua dengan anak sangat penting. Caranya sebagai berikut:
1. Agresif memulai percakapan.

Tentunya tidak dengan nada interogasi, tapi pancing anak supaya mau berbagi cerita. Ciptakan suasana di mana anak merasa nyaman dan senang berbagi (sharing) dengan orang tua. Gunakan gaya bahasa seperti kita tempatkan diri kita sebagai teman mereka. Tak hanya saat bertemu, saat berpisah - misal orang tua kerja dan anak sekolah tetaplah berkomunikasi untuk mengetahui kabar si anak. Tentunya tidak pada jam pelajaran dan juga tidak terlalu sering agar anak tidak merasa selalu diawasi orangtua.

2. Jadi pendengar yang baik.
Terkadang anak malas berdiskusi dan berbagi waktu dengan orang tua karena kurang didengar. Saat anak bercerita hanya ditanggapi sambil lalu. Sebagai contoh dalam kehidupan rumah tangga, ibu sambil memasak, ayah sambil baca koran. Hal ini akan tertanam di benak anak, bahwa orang tua tidak butuh ceritanya. Karena itu, berhentilah sejenak, tataplah matanya dan dengarkan anak bicara. Mungkin saja pada saat itu adalah waktu emasnya mereka untuk bercurhat atas segala kepenatan, kebosanan dan kebuntuan pada kehidupan mereka.

3. Menyesuaikan diri
Selama beberapa tahun, metode pengasuhan Anda terhadap anak ibarat jalan tol mulus. Namun saat anak beranjak dewasa, jalan itu seolah berbelok tajam. Orang tua pun harus 'banting setir' dengan menyesuaikan teknik mendidik anak sesuai dengan usia mereka. Menyesuaikan diri kita sebagai orang tua dengan anak kita sangat perlu untuk memberikan respon positif terhadap mereka bahwa orang tuanya tetap mengikuti perkembangan jaman dan pergaulan anak. Gunanya adalah untuk information gathering yaitu mengumpulkan sebuah informasi dan pengalaman mereka untuk kita ketahui dengan secara bijaksana.

4. Buatlah acara keluarga bersama
Berbagi waktu bersama keluarga sangat penting. Acara keluarga ini bisa dijadikan kesempatan untuk makin mendekatkan mengeratkan hubungan antara anak dan orang tua. Dengan begitu anak merasa nyaman dan percaya segala hal pada orang tuanya tanpa ada jarak. Sempatkan waktu untuk saling berbagi cerita untuk masing-masing anggota keluarga untuk saling memberi masukan dan saling mendukung baik di rumah maupun di luar rumah di waktu-waktu tertentu.

5. Mengikuti perkembangan aktivitas anak
Sekali waktu sempatkan untuk ikut ke acara aktifitas mereka, dan tebarkan pesona positif dan berikan support ke mereka atas pencapaian aktifitas positif mereka. Seperti mendatangi aktifitas perlombaan mereka, mendukung aksi panggung grup musik mereka saat mereka manggung dan masih banyak sejumlah acara remaja yang menarik untuk keikut sertaan orang tua untuk terlibat pada aktifitas mereka. Secara tidak langsung kita sebagai orang tua mengenal lingkungan dan pergaulan mereka, setidaknya ikut mengetahui perkembangan usia mereka. Siapa teman-teman mereka, seperti apa perkembangan pergaulan mereka di lingkungan sekolah maupun diluar sekolah mereka.

Orang tua tetaplah berkomunikasi pada anak. Sesibuk apapun kita bekerja, prioritaskan pada anak-anak kita dalam jam-jam tertentu diluar rumah. Karena keberhasilan dan kesuksesan kita sebagai orang tua berkunci pada bagaimana mengawali sebuah komunikasi secara rutin dan bijak. Jadi mari kita bangun komunikasi yang baik dan hangat berlandaskan cinta, sehingga kita akan menjadi jaring pengaman emosi bagi anak-anak remaja. Keberhasilan mereka mengatasi gejolak emosinya di masa remaja akan membentuk karakter mereka kelak di masa depan.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)