Perkawinan Antar Bangsa: Masalah dan Solusinya

8 Desember 2014 Artikel Pendidikan   |    dra. Catherine DML. Martosudarmo, M.Sc


Perkawinan antar bangsa di seluruh belahan dunia meningkat drastis sesudah perang dunia kedua, lebih-lebih ketika banyaknya perjumpaan individu dari berbagai bangsa. Di masa penjajahan dan perang, perkawinan antar bangsa lebih disebabkan karena perjumpaan para tentara dengan wanita setempat, tetapi di jaman modern seperti sekarang ini, perjumpaan lebih karena pertemuan di tempat kerja, di sekolah, di organisasi, kegiatan sosial dan tidak dapat dipungkiri pula karena perjumpaan di tempat hiburan.

Pembahasan mengenai perkawinan antar bangsa sudah banyak diteliti dan ditulis di berbagai literatur dari berbagai negara. Banyak sekali hasil penelitian yang menarik dan dapat menjadi permenungan kita. Agar pembahasan dalam tulisan ini dapat menjadi lebih fokus dan mendasarkan diri pada pengalaman saya menangani kasus-kasus perkawinan, maka pemaparan kali ini akan membahas perkawinan antar bangsa yang lebih khusus, yaitu antara perempuan Indonesia dan pria dari negara barat. Saya tidak bermaksud mengesampingkan yang lain, hanya agar pembaca dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya.

Oleh karena mereka yang datang kepada saya adalah mereka yang sedang mempunyai masalah, maka saya akan berangkat dari masalah-masalah yang ada, lalu bagaimana kita dapat melihat solusi dan kiat sukses, serta pencegahannya sehingga terasa lebih realistis.

Pada kesempatan ini, saya akan menyajikan contoh kasus Yanti dan Tom (bukan nama sebenarnya) yang datang kepada saya karena merasa putus asa tidak lagi dapat mengkomunikasikan pemikiran dan harapan yang ada. Keduanya mengeluh "seperti berbicara dalam bahasa masing-masing atau berbicara dengan tembok," kata Yanti. "Padahal pada waktu pacaran selama 4 tahun semua berjalan enak dan menyenangkan. Hal itulah yang menyebabkan kami berpikir lebih baik menikah sehingga dapat merencanakan masa depan bersama, tetapi setelah menikah selama 2 tahun, kok jadi seperti ini?" tambah Tom. Yanti (32 tahun, perempuan Indonesia) berpendidikan sarjana bertemu dengan Tom (40 tahun, berkebangsaan Eropa) bekerja sebagai pilot pesawat jet pribadi dari salah satu konglomerat. Mereka berjumpa dalam suatu proyek penelitian yang dilakukan oleh perusahaan tempat Yanti bekerja. Keduanya tidak pernah menikah sebelumnya dan sudah hidup mandiri sejak lulus sarjana. Yanti adalah seorang penderita suatu jenis kanker ganas sejak 5 tahun yang lalu dan merasa dapat bertahan hidup karena keinginan yang tinggi untuk hidup dan mempunyai banyak cita-cita membangun kampung halamannya. Hal ini yang membuat Tom kagum dan ingin membantu mewujudkan cita-cita Yanti. Yanti banyak mengerjakan pekerjaan administrasi Tom, mengurus harta kekayaannya di Eropa seperti membayar cicilan rumah, membayar pajak, membereskan perjanjian kredit dengan bank, dll. Yanti tidak pernah meminta bagian, tetapi ia mengetahui persis berapa kekayaan Tom di Eropa. Setelah menikah (sekarang usia perkawinan = 2 tahun), penyakit Yanti bertambah parah sehingga membutuhkan biaya yang banyak. Kadang-kadang ia perlu menunda transfusi darah dan kemoterapi karena uang yang tidak cukup. Tom membantu 50% dari gajinya, tetapi baru-baru ini Tom kehilangan pekerjaannya, sehingga tidak ada uang masuk. Dalam kondisi sakit parah, Yanti tetap mengerjakan pekerjaan lepas dari rumah dan tugas mengurus administrasi keuangan Tom tetap dilaksanakannya. Sempat terbersit dalam pikiran Yanti: "Mengapa Tom tidak menjual sebagian assetnya di Eropa untuk membiayai Yanti? Bukankah sekarang saya sudah menjadi istrinya?" Ia pernah mencoba memancing pembicaraan ke arah topik itu, tetapi Tom tidak terpikir sama sekali untuk menjual asset nya yang berada di Eropa untuk pengobatan Yanti, karena semua itu diperolehnya sebelum menikah dengan Yanti. Tak pernah terbersit di pikiran Tom untuk mengorbankan asset nya untuk pengobatan isteri.

Sebenarnya adanya harapan tertentu setelah menikah merupakan hal yang wajar. Ada dua macam harapan: yang dinyatakan secara terbuka dan yang tetap tertutup rapi dan disimpan di dalam hati. Harapan yang dinyatakan terbuka biasanya menyangkut hal-hal yang umum seperti akan saling setia; akan menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anak-anak; akan menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga, dst, dst. Biasanya dalam masing-masing agama dinyatakan sebagai janji perkawinan dan sudah ada aturan yang baku. Akan tetapi di balik semua harapan umum itu, banyak sekali harapan tersembunyi (hidden agenda) yang tidak pernah diucapkan dan tetap tinggal di dalam hati dan pikiran masing-masing individu. Biasanya "hidden agenda" sangat berkaitan dengan latar belakang keluarga dan model/contoh yang dialami masing-masing individu ketika ia dibesarkan di dalam keluarga asalnya yang kemudian menjadi "value" yang dianut oleh seseorang.

Sebagai contoh, jika ia dibesarkan dalam keluarga yang sang ayah tidak pernah selingkuh dan tidak pernah memukul sang ibu, tidak pernah membentak dan berteriak jika sedang marah, itulah gambaran yang ia punya tentang "kesetiaan" hubungan suami isteri. Di balik "kesetiaan" ada banyak hidden agenda yang mewarnainya. Pada kasus Yanti, setia tidak hanya berarti tidak selingkuh, tetapi juga tidak membentak, tidak memukul, selalu ada ketika diperlukan, mengekspresikan cinta walaupun isteri sedang sakit, mengakui isteri di hadapan teman-teman dan keluarga Tom, dst.

Demikian pula "menjadi ayah dan ibu yang baik" bagi anak-anak mengandung unsur hidden agenda yang sangat luas, seperti: bijaksana ketika anak melakukan pelanggaran tertentu, konsisten dan kompak dalam mendidik anak, terutama dalam membentuk kebiasaan anak, dst.

Menjadi "pencari nafkah utama" bagi Yanti, bukan hanya memberikan penghasilan yang cukup untuk keluarga, tetapi juga memberikan rasa aman di waktu sehat mau pun sakit, punya cukup tabungan untuk menyekolahkan anak-anak, punya tabungan cukup untuk hari tua, dapat memberi uang bulanan bagi orangtua, dapat membiayai orangtua yang sakit, menyumbang dan mendukung komunitas miskin yang menjadi keprihatian Yanti, dst.

Semua hidden agenda muncul ke permukaan dan menjadi kekecewaan yang mendalam, terutama ketika sedang ada masalah, sehingga menjadi topik pertengkaran yang tak kunjung habis.

Dalam perkawinan antar bangsa, ketika bahasa dan rasa bahasa pun berbeda, menyampaikan hidden agenda menjadi kesulitan yang sangat besar. Latar belakang budaya seringkali tidak dapat diucapkan tetapi hanya dapat dirasakan. Pola pikir yang terbentuk bertahun-tahun tidak mudah disampaikan kepada orang yang berbeda budaya. Seringkali hal ini menjadi biang kerok frustrasi dan kekecewaan di dalam perkawinan antar bangsa.

Masih banyak lagi persoalan yang dapat menjadi sumber konflik, seperti "life style", makanan dan pola makan, hubungan dengan keluarga besar, kehidupan sosial dengan teman-teman, interpretasi dari bahasa tubuh/mimik, persepsi terhadap tokoh otoritas, standard moral dan lain-lain. Semua hal ini juga terjadi pada perkawinan satu bangsa, akan tetapi tantangan menjadi lebih berat dalam perkawinan antar bangsa.

Mengacu pada kasus Yanti dan Tom, kiat sukses dalam perkawinan antar bangsa adalah (berlaku pula untuk perkawinan satu bangsa, tetapi usaha yang lebih keras dibutuhkan bagi pasangan yang menikah berbeda bangsa):

  1. Akui perbedaan dan jadikan perbedaan itu sebagai asset dalam perkawinan, bukan kelemahan.
  2. Hindarkan prasangka tentang apa pun yang dapat memicu konflik dan sakit hati.
  3. Komunikasikan hal-hal sensitif sesegera mungkin dan perlu kemauan yang keras untuk menerima hal-hal yang tidak dapat dimengerti saat ini untuk dibahas di masa yang akan datang, ketika suasana hati kedua belah pihak lebih stabil.
  4. Milikilah teman bersama yang dapat diterima pasangan, sedapat mungkin pasangan suami isteri juga. Akan lebih baik jika ada pasangan-pasangan yang menikah campur antar bangsa juga. Kehidupan sosial dan pertemanan sangatlah penting untuk mendukung dan memperkuat perkawinan.
  5. Dibutuhkan kemauan yang keras untuk terus memperkaya budaya masing-masing secara terus-menerus.
  6. Diperlukan pihak ketiga yang bijak dan netral untuk membantu menurunkan emosi, sehingga rasio dapat bekerja baik.


Selamat berjuang!