Peran Guru dalam Memotivasi Siswa

27 Februari 2017 Artikel Pendidikan   |    Agus Sampurno


Siswa yang tidak siap untuk mengikuti proses pembelajaran tidak akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Motivasi adalah cara yang dapat dilakukan guru untuk menyiapkan siswa agar siap mengikuti proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Jadi, sulitkah memotivasi siswa? Bagi guru yang professional dan memiliki wawasan pendidikan yang luas tentu tidak kesulitan untuk memotivasi siwa. Tapi bagaimana dengan guru yang kurang wawasan? Sebenarnya bagi guru yang kurang wawasan, memotivasi siswa itu sangat mudah dilakukan, semudah membalikkan telapak tangan. Masalahnya, apakah siswa termotivasi?

Perlu diketahui bahwa perkembangan seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor (menurut para ahli) yaitu: faktor bawaan, faktor lingkungan, dan faktor bawaan & lingkungan. Kuanggap kita sepakat karena kebanyakan para ahli pendidikanpun sependapat bahwa perkembangan seseorang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan. Jika peran faktor bawaan sebesar 50% maka faktor lingkungan yang 50 % itu dibagi menjadi tiga lagi yaitu

Faktor lingkungan keluarga, adalah lingkungan utama yang paling mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan siswa. Suatu keluarga perlu menciptakan lingkungan yang baik untuk menciptakan suasana belajar yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan tidak terjadi penyimpangan.

Faktor lingkungan sekolah, adalah lingkungan siswa tempatnya menimba ilmu melalui sosok yang disebut guru. Di lingkungan ini sebenarnya siswa hanya punya satu tujuan yaitu belajar (berguru) . Jika suasana di lingkungan sekolah tidak kondusif, maka akan sangat sulit untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan oleh guru.

Faktor lingkungan masyarakat, adalah lingkungan tempat siswa berinteraksi sosial dengan dunianya di luar lingkungan keluarga. Lingkungan masyarakat ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak.

Siswa dimotivasi oleh guru ketika sedang belajar dan berada di lingkungan sekolah. Seberapa besar pengaruh motivasi guru tersebut jika dibandingkan dengan motivasi yang didapat dari lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya? Kalau boleh berandai paling tidak hanya 30% dari 50% (faktor lingkungan) pengaruhnya. Nah bagaimana jika motivasi yang diberikan guru tidak cukup kuat mempengaruhinya? Tentu faktor lingkungan keluarga dan masyarakat akan sangat dominan mempengaruhi diri siswa. Di sinilah diperlukan keahlian seorang guru yang benar-benar profesional. Guru yang mampu memotivasi sehingga dapat memberikan pengaruh yang dominan bagi diri siswa.

Di sisi lain, guru sebagai ujung tombak pendidikan biasanya menjadi kambing hitam di masyarakat (bukan pemerintah) jika siswa yang belajar di sekolah dalam rangka pendidikan tidak berhasil mencapai kompetensi yang diharapkan. Padahal di sekolahpun ada faktor-faktor lain termasuk sarana/prasarana sekolah dan pemerintah yang perannya dalam memotivasi siswa tidak kalah penting. Sayangnya faktor-faktor tersebut kurang diperhitungkan oleh masyarakat.

(Penulis adalah Kepala sekolah di Ananda Islamic School Jakarta Barat, penggiat penggunaan Sosial Media dan teknologi di sekolah.
Tulisan lainnya bisa dilihat di sini)