Pentingnya Table Manners untuk Anak

25 Maret 2010 Artikel Pendidikan


Orangtua mana yang tidak bangga jika sejak kecil anak-anaknya sudah bisa berlaku sopan. Baik dalam bertutur, bersikap, dan dalam makan. Makanan disuap tanpa berceceran, mengunyah tanpa bunyi, berbicara setelah menelan makanan.

Tapi ada juga orangtua yang berujar. "Ah... biasa, anak-anak kalau makan berantakan begitu. Nanti juga kalau besar tahu sendiri,"....

Mana yang Anda pilih? Jika Anda menganut paham 'ala bisa karena biasa', tentu mengajarkan makan yang baik dan benar, tidak harus menunggu dewasa. Terlebih sudah ada pakem, mengajarkan hal yang baik kepada anak-anak, semakin dini diajarkan tentulah semakin baik. Termasuk mengajarkan table mannerske anak.

Padahal seperti juga negara lain, Indonesia juga mengenal aturan atau etiket cara makan, atau table manners. Walaupun ada perbedaan di tiap negara.

Seperti juga bahasa yang memiliki bahasa internasional, etiket makan atau table manners juga memiliki table manners internasional. Nah, perlukah, anak kita ajarkan juga table manners yang berlaku internasional. Tidakkah menunggu dewasa saja?.

Gina Adriany Karsana, Presiden Director Highscope Indonesia, berpendapat bahwa table manners hendaknya sudah diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini. Jangan dulu terpaku pada aturan secara internasional dalam table manners nya, tapi banyak hal lain di luar segala aturan tersebut (lihat boks).

Orangtua juga harus menyesuaikan dengan umur anak ketika mengajarkan table manners. "Sejak usia 5 tahun, misalnya sudah bisa diberitahu bagaimana cara mengunyah yang baik, cara makan sup, penggunaan sendok dan garpu," ujar Gina yang ditemui Warta Kota saat pengenalan Table Manners di Playmall, Senayan City, beberapa waktu lalu. Ia menambahkan, table manners skill bukanlah sesuatu yang didapatkan sejak lahir. Anak-anak perlu bimbingan dan arahan yang tepat untuk berlatih etika atau cara makan yang benar dan baik.

Ia menyarankan, table manners akan lebih baik sudah dikenalkan sejak anak menginjak 1,5 tahun. Orangtua di rumah dapat mengajarkan anak diumur ini untuk tidak bermain dengan makanan, seperti melempar makanan atau berlari-lari pada saat makan. Agar ketika berada di luar rumah, anak sudah bisa berlaku sopan ketika makan bersama.

Misalnya ketika anak menginjak usia TK, bahkan pra TK sudah dilakukan kegiatan makan bersama di sekolah. "Pada saat makan bersama di sekolah akan kelihatan mana anak yang sudah terbiasa diajari cara makan yang baik, dan mana anak yang tidak seperti itu. Biarpun masih kecil, makan berceceran ke mana- mana juga sudah tidak enak dilihatnya," katanya lagi.

Gina yang juga menjadi Managing Director My Playmall, arena bermain yang berada di mal Senayan City, Mall of Indonesia, mengatakan bahwa setiap orangtua perlu membekali anaknya pengetahuan mengenai tata cara makan yang sederhana sejak dini misalnya penggunaan sendok garpu, cara duduk yang benar jika makan bersama, dan tidak boleh bicara ketika mulut penuh.

Semakin bertambah usia, anak diajari hal yang lebih lagi mengenai table manners sedikit demi sedikit. Pasalnya pengetahuan mengenai table manners sudah tidak bisa ditawar lagi, mengingat arus globalisasi yang membutuhkan keterampilan beretiket di meja makan.

"Saat makan bisa menjadi alat bersosialisasi. Terbiasa makan bersama tentu tidak bisa seenaknya seperti makan sendiri. Jika sudah dibiasakan sejak kecil, tidak akan canggung lagi. Memori waktu kecil jadi berharga sekali," ujar ibu enam anak ini.

Mencontoh Orangtua

Memberikan contoh lebih baik daripada seribu kata. Psikolog dari Universitas Indonesia, Diennaryati Tjokrosuprihatmo MPsi mengatakan, orangtua akan selalu menjadi contoh anak-anaknya.

"Kalau mau anaknya tidak mengangkat kaki saat makan. Ya orangtuanya jangan mengangkat kaki ketika makan. Anak akan selalu mencontoh apa yang dilakukan orangtuanya," kata Diennaryati beberapa waktu lalu.

Table Manners yang dirasakan begitu rumit akan menjadi biasa jika dilakukan sejak dini. Nah orangtua sekali-sekali perlu juga mengajari makan formal kepada anak-anaknya. "Tidak usah tiap makan, sekali saja. Bisa tiap akhir pekan atau tiap bulan. Terpenting, suasana harus fun sehingga walaupun pakai manners tetap menyenangkan," saran Gina.

Harus Bertahap

Jangan berkecil hati dulu jika kita sebagai orangtua tidak bisa mengajarkan table manners yang berlaku internasional. Jangankan di Indonesia, di negara maju yang cara makannya sudah mengikuti cara internasional pun tidak semua warganya paham mengenai table manners yang baik.

Menurut Gina, peran orangtua sangat besar dalam memberikan pondasi mengenai table manners yang baik. Tidak harus berisi aturan baku mengenai table manners internasional, tapi secara bertahap disesuaikan dengan usia anak.

Jika anak langsung diajarkan bagaimana table manners yang baku, tentu akan bosan. Tapi jika bertahap, misalnya saat usia 4-6 tahun bagaimana mencuci tangan sebelum makan, dan menata meja dengan melipat serbet. Kemudian untuk umur-umur selanjutnya, anak-anak diajarkan untuk memakan hidangan yang lebih rumit, seperti spaghetti.

"Orangtua berperan aktif dalam memberikan dasar-dasar table manners. Jika sudah dari kecil diberi pondasi table manners yang baik, akan terbiasa. Mengenai aturan baku table manners bisa diajari sendiri khusus," kata Gina lagi. Jika ingin menambah keterampilan anak dengan table manners bisa belajar, salah satunya di My Playmall. (Lilis S)

Sumber: Wartakota.Co.Id