Pentingnya Mengoptimalkan Kemampuan Bahasa Anak

19 Januari 2018 Artikel Pendidikan


Salah satu tahapan perkembangan yang penting pada anak adalah bahasa, karena bahasa merupakan faktor awal yang menentukan anak untuk dapat berkomunikasi kepada lingkungannya. Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang luput perhatiannya untuk tahapan perkembangan yang satu ini. Alhasil, tak jarang, orang tua baru akan tersadar ketika anaknya sudah menginjak usia 3-5 tahun.

Hal biasa yang bisa dilakukan oleh anak adalah marah, penyebab dari marah ini sangat beragam. Rasa marah anak bisa diawali karena rasa sensitif yang dimiliki anak. Ketika anak merasa terganggu maka anak akan bisa mengungkapkan luapan emosinya dengan marah. Luapan marah ini kadarnya bisa berbeda pada tiap-tiap anak. Perbedaan ini terjadi bisa jadi dikarenakan kemampuan bahasa yang dimiliki anak berbeda pula. Mengapa kemampuan berbahasa anak bisa mempengaruhi tingkat luapan emosi anak? Benarkah kemampuan berbahasa ini bisa meredam rasa frustasi anak? Dan betulkah rasa sensitif dan perasaan gampang marah pada anak bisa diminimalisir dengan mengoptimalkan kecerdasan berbahasa anak sejak ana kusia dini? Jadi apa pentingnya kemampuan berbahasa anak dalam membangun kecerdasan emosional anak?

Menurut para ahli peneliti dari Pennsylvania State University menyebutkan bahwa kemampuan berbahasa anak bisa mengurangi rasa sensitif anak untuk lebih mudah marah. Bahkan dengan kemampuan berbahasa yang dimiliki anak akan memudahkan anak untuk menjalin komunikasi dan mengungkapkan perasaannya baik itu kepada orang tuanya ataupun kepada gurunya. Dalam penelitian tersebut melibatkan kurang lebih 120 anak dengan usia anak yang paling banyak berkisar antara 1,5 tahun hingga anak usia 4 tahun. Dari 120 anak tersebut kemudian dilakukan uji coba untuk menghadapi bagaimana caranya untuk menyelesaikan rasa frustasi yang mereka alami.

Untuk mengetes rasa frustasi anak maka penelitian yang dilakukan yaitu dengan memberikan hadiah kepada anak dengan syarat anak boleh membuka kado tersebut setelah 8 menit diberikan oleh ibu mereka. Sementara ibu disibukkan dengan kegiatan lain tanpa diketahui oleh si anak. Selama 8 menit tersebut si anak dialihkan perhatiannya dengan cara berhitung dengan suara keras ataupun dibacakan cerita supaya mereka teralihkan dari kado yang dibawa oleh sang ibu.

Setelah dilakukan pengamatan ternyata anak yang memiliki kemampuan berbahasa sejak usia dini lebih mampu untuk menahan marah dan tidak buru-buru dalam meluapkan emosi karena hadiah yang diberikan tidak kunjung dibuka. Anak yang memiliki kemampuan berbahasa rendah akan lebih cepat untuk menyampaikan rasa frustasinya kepada ibunya karena kado yang diterimanya tidak cepat dibuka dan anakpun lebih cepat untuk protes.

Para ahli tersebut menyimpulkan bahwa anak-anak yang memiliki perkembangan bahasa lebih cepat dalam usianya akan lebih mampu untuk meluapkan emosi atau marahnya dan anak akan meminta bantuan dari orang lain khususnya ibunya dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi anak. Sehingga ketika anak sudah beranjak dewasa maka si anak akan lebih dekat dengan orang tuanya baik itu kepada ayahnya ataupun ibunya. Kedekatan anak dengan orang tuanya ini akan bisa bertahan hingga mereka telah berumur.

Mengingat akan pentingnya kemampuan berbahasa kepada anak terhadap perkembangan emosionalnya maka hendaknya para orang tua harus rajin mengajak anaknya berdiskusi agar anak cepat dan pandai berbicara. Tindakan ini dilakukan semakin awal akan semakin baik. Oleh karena itu untuk memperkaya kosa kata anak maka kita bisa banyak menyediakan buku-buku bergambar ataupun membacakan buku cerita kepada anak. Mendongeng memiliki efek positif dalam mengembangkan kecerdasan berbahasa anak.

Selain itu, ada baiknya jika orang tua dapat menstimulasi anak untuk berani bercerita mengenai perasaan atau apa yang dialami. Hal ini juga penting guna meningkatkan kemampuan komunikasi anak. Dengan peran aktif orang tua, perkembangan bahasa anak dapat dipacu dengan optimal sehingga anak tidak hanya dapat berkomunikasi secara verbal namun juga nonverbal dan berekspresi. Dengan demikian, kelainan psikologis dapat segera terdeteksi sejak dini.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)