Pentingnya Membangun Citra Diri yang Sehat dalam Mengembangkan Relasi Sosial

30 September 2015 Artikel Pendidikan   |    dra. Catherine DML. Martosudarmo, M.Sc


Citra diri atau "self image", perasaan tentang diri sendiri atau "sense of self", konsep diri atau "self concept" adalah berbagai ungkapan yang mau menggambarkan tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Apakah seseorang memandang dirinya berharga atau tidak, positif atau negatif, bagus atau jelek adalah sebuah proses dalam perjalanan hidup seseorang. Dari mana seseorang mempunyai gambaran tentang dirinya sendiri? Citra diri dibangun sejak manusia berinteraksi dengan orang lain. Manusia termotivasi untuk mengalami diri mereka sebagai seseorang yang berarti, bahkan berpengaruh bagi lingkungannya . Pada dasarnya manusia ingin berperan dalam lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, evaluasi diri kita dipengaruhi oleh bagaimana orang lain melakukan evaluasi terhadap diri kita sendiri. Akan tetapi, sebenarnya yang lebih penting adalah bagaimana kita memandang penilaian orang lain tersebut. Jadi sebenarnya manusia adalah subyek atas dirinya sendiri.

Bagaimana agar kita memiliki citra diri yang sehat? Karena citra diri terbentuk sejak dimulainya interaksi dengan orang lain, berarti sejak ia hidup, bahkan sejak di dalam kandungan karena kehidupan sudah dimulai sejak konsepsi. Ketika lahir, manusia langsung berhubungan dengan orang lain, seperti dokter, bidan, ayah, keluarga, teman-teman ayah dan ibu, dan seterusnya. Walaupun kemampuan bereaksi, melihat, tertawa, memandang berbagai hal itu muncul belakangan, seorang bayi sudah ditempatkan dalam interaksi dengan orang lain. Di saat itulah pembentukan citra diri secara intensif dimulai. Itu berarti citra diri yang positif akan terbentuk dari lingkungan yang positif. Citra diri yang negatif akan terbentuk dari lingkungan yang negatif. Citra diri yang sehat adalah ketika seseorang mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Tidak ada manusia yang sempurna. Mengetahui kelebihannya tanpa harus menjadikan ia sombong, mengetahui kekurangannya tanpa harus menjadikannya rendah diri. Dengan mengenali kelebihan dan kekurangan diri inilah, diharapkan seseorang dapat bekerja sama, bekerja dalam tim untuk saling melengkapi, saling mengisi.

Peranan orangtua, orang yang mengasuh anak, guru, teman, keluarga besar, sangatlah besar. Di dalam perjalanan hidup seseorang, citra diri ini tetap hidup, diperbaiki, dan terus dibentuk. Ada ucapan dari orang bijak; "terbentur-bentur maka terbentuk". Hal ini mau mengatakan bahwa kadang-kadang kita mengalami banyak kesulitan, banyak tantangan dalam hidup, tetapi sebenarnya ketika itulah citra diri kita dibentuk. Seperti seorang pematung yang sedang membuat patung yang indah, ia mengikis, membuang bagian-bagian tertentu yang tidak deperlukan untuk membentuk patung yang bagus. Demikian juga lah kita, menjadi seniman pemahat untuk citra diri kita sendiri. Bagian yang tidak perlu, kita buang dan kikis, sehingga jadilah citra diri yang sehat dan indah.

Selain orangtua, dan orang-orang dekat lainnya, peranan saudara kandung sangatlah penting dalam perkembangan hidup seseorang. Hasil penelitian menunjukkan, seorang anak yang selalu dibandingkan dengan saudara kandung menjadi bermasalah harga dirinya. Jadi, jika kita mau menghancurkan harga diri anak kita, bandingkanlah keburukannya dengan kebaikan saudara kandungnya. Rasa iri hati akan terbentuk cukup kuat dan permanen. Kebiasaan kita sebagai orangtua adalah menunjuk kelemahan, kekurangan anak tertentu dibandingkan dengan kekuatan, kelebihan kakak atau adiknya; ditambah dengan nada keras dan marah. Sebagai contoh: ketika anak itu mendapatkan nilai buruk di sekolah, tanpa sengaja tetapi emosional, orangtua mengatakan "kakakmu tidak pernah lho dapat nilai seperti ini!" Ucapan itu sudah cukup untuk menjadi bekal anak tersebut memandang dirinya yang lebih jelek daripada kakaknya. Bayangkan jika hal itu terjadi terus-menerus, jadilah permanen!

Di lain pihak, banyak orangtua yang berhasil membesarkan anak yang berkebutuhan khusus dan disabilitas, tetapi mereka mempunyai citra diri yang sehat. Ia tidak rendah diri karena kekurangannya, merasa seperti orang normal lainnya. Biasanya anak-anak seperti ini berprestasi dalam bidang-bidang khusus. Sudah banyak contohnya. Ketika orangtuanya ditanya, kebanyakan mereka mengatakan bahwa mereka tidak terpuruk dengan kekurangan yang ada, fokus pada kelebihan dan talenta anak tersebut dan seringkali memandangnya seperti anak normal lainnya. Alangkah sayangnya jika kita membuat anak kita yang "normal’ menjadi "dis-able" karena kita terus-menerus melihat kekurangannya, bukan?

Citra diri sangat penting di dalam membangun relasi dengan orang lain. Seseorang yang takut bertemu orang baru, cemas sekali menghadapi situasi baru yang belum dikenalnya, biasanya bermasalah dengan citra dirinya.

Pada waktu anak kita masih kanak-kanak, hati-hati dengan mengatakan "kepemilikan" seperti kata-kata yang mencerminkan "kepunyaanku". Sebagai contoh, kita sering menyebut "anak ku" apalagi dengan menyebutkan nama anak dan ditambah "ku", misalnya: "Tina ku" atau "Aditya ku". Semua ini mencerminkan kepemilikan, yang tanpa sadar dapat membatasi anak bersosialisasi dan menggiring anak dalam konflik dengan orang lain di lingkungannya. Orangtua semacam ini akan otomatis ikut serta dalam banyak urusan membereskan relasi anak dengan anak lain dan orang lain, karena "milik ku", "kepunyaan ku" diganggu.

Peristiwa-peristiwa traumatik sangat berpengaruh dalam pembentukan citra diri. "Bullying" adalah salah satu yang merusak citra diri. Sudah sejak lama para ahli psikologi mengamati hal ini, seperti Turner (1968) mengatakan bahwa seringkali perasaan tentang diri sendiri ("sense of self") tidak ditemukan dalam situasi sendirian dan tenang, tetapi dalam perjalanan hidup berelasi dengan orang lain; bahkan terutama ketika dalam persaingan dengan orang lain. Sebenarnya para ahli pendidikan Indonesia telah menghapus adanya "ranking" sejak tahun 1998, akan tetapi kurikulum yang baru tahun 2013 lebih menekankan lagi bahwa murid tidak hanya dinilai dari sisi akademis dan kognitif saja. Sikap menjadi komponen yang sangat penting dalam proses penilaian. Hal ini hendak menekankan bahwa tiap individu adalah unik, tiap individu pasti mempunyai kelebihan tertentu. Di sisi yang lain, seperti dipaparkan di atas, "sense of self" bertumbuh sehubungan dengan usaha aktif seseorang dalam menghadapi rintangan dengan orang lain. Jadi, kehadiran orang lain di dalam hidup seseorang sangatlah penting.

Lingkungan positif dan kondusif akan membentuk citra diri yang sehat. Kemampuan mengelola interaksi dengan orang lain merupakan kemampuan yang perlu kita semua miliki. Sepanjang hidup, kita berelasi dengan orang lain. Jika selama ini kita tidak memiliki hubungan yang baik dengan seseorang atau sekelompok orang, kita selalu dapat mengevaluasi dan memperbaikinya. Kita perlu mengembangkan kemampuan evaluasi diri yang bersifat aktif dan kreatif, bukan yang pasif dan menunggu saja. Salah satu cara yang cukup manjur dalam hal ini adalah bergabung dalam kelompok-kelompok yang bersifat membangun dan positif yang bergerak dalam aktivitas-aktivitas yang sesuai dengan prinsip dan pandangan hidup kita. Dalam kelompok seperti inilah kita dapat mengalami pembangunan citra diri ke arah yang positif dan sehat. Intinya, kelompok yang memperjuangkan dan membela kemanusiaan dan membangun harkat hidup orang lain, biasanya sangat baik dan menimbulkan banyak "insight" untuk pembentukan citra diri yang positif.

Banyak ketakutan dialami oleh orang yang mempunyai citra diri yang lemah dan rentan ("fragile"). Pendampingan orangtua atau orang dewasa lain tentu akan sangat membantu untuk memperbaikinya. Ternyata, 95% ketakutan kita tidak akan terjadi. Semua itu adalah ketakutan tanpa alasan yang kuat yang disebut kecemasan. Hati-hati dengan pikiran-pikiran seperti ini, karena akan sangat menghambat tindakan kita untuk maju. Orang bijak mengatakan "action cures fear", tindakan mengalahkan ketakutan. Bertindaklah, maka ketakutan itu akan hilang dengan sendirinya. Jika Anda takut untuk bergabung dalam kelompok tertentu, bergabunglah. Jika Anda takut untuk berenang, berenanglah, dan seterusnya.

Sebagai kesimpulan, ada beberapa tips yang dapat digunakan untuk membangun citra diri yang sehat:

  1. Citra diri selalu berkaitan dengan kehadiran orang lain dalam hidup kita. Oleh karena itu, pilihlah orang-orang dengan siapa Anda bergaul. Jika mereka hanya menghancurkan citra diri Anda, lepaskan mereka dan cari orang lain yang lebih positif dan berorientasi membangun citra diri yang sehat dan kuat.
  2. Membandingkan kelemahan diri sendiri dengan kelebihan orang lain hanya akan meruntuhkan citra diri. Anda tidak adil terhadap diri sendiri, jika demikian. Oleh karena itu, stop untuk membandingkan. Untuk membangun citra diri yang sehat pada anak-anak kita, berhentilah membandingkan dengan siapa pun. Juara sejati adalah orang yang bertumbuh setiap hari menjadi orang yang lebih baik.
  3. Banyak ketakutan kita tidak beralasan dan 95% tidak akan pernah terjadi dalam hidup kita. Bertindaklah untuk mengobati ketakutan itu sendiri.
  4. Berilah kesempatan kepada diri Anda dan anak-anak Anda menjadi pahlawan bagi orang lain. Setiap orang ingin berguna dan bermanfaat bagi orang lain, sekecil apa pun. Penghargaan terhadap tingkah laku ini perlu dilakukan sebagai penguatan, agar Anda dan anak-anak Anda mau dan berani melakukannya lagi.
  5. Ciptakan lingkungan yang kondusif untuk terbentuknya citra diri yang sehat. "Bullying" atau pun ejekan yang terlalu sering dan berlebihan akan menjadi gambaran diri yang menetap dan meruntuhkan citra diri. Oleh karena itu, "stop bullying". Jika anak terlibat dalam konflik, berikanlah kesempatan anak untuk membereskannya, sehingga ia dapat mencoba kemampuannya dalam bersosialisasi.