Pentingnya "Me Time" dalam Hidup Berkeluarga

2 November 2015 Artikel Pendidikan   |    dra. Catherine DML. Martosudarmo, M.Sc


Orang sering mengeluh tidak punya cukup waktu untuk ini dan itu. Mereka yang merasa seperti ini pada umumnya mengalami banyak tekanan dan biasanya mereka penuh stress hidupnya. Hidup di kota besar, kita menyatakan kemacetan di jalan adalah biang kerok penyebab kita kehabisan waktu. Ada yang mengatakan pekerjaan di kantor, anak-anak yang masih kecil, pekerjaan rumah tangga yang menjadi penyebab kita tidak punya waktu untuk diri sendiri.

Secara psikologis, waktu dapat diurai dalam berbagai elemen; biasanya disetarakan dengan "well being" atau kesejahteraan atau secara umum dapat diartikan sebagai kebahagiaan. Memang kunci kesejahteraan ini ada pada diri sendiri. Oleh karena itu pada kesempatan ini, saya mengajak para pembaca untuk dapat merasa sejahtera bagi diri sendiri. Secara khusus, merasa sejahtera bagi diri sendiri dalam konteks hidup berumahtangga dan tolok ukur yang dipakai adalah waktu.

Waktu untuk diri sendiri atau "me time" seringkali diabaikan ketika kita sudah berumahtangga. Seorang ibu mengeluh bahwa setelah 10 tahun dalam perkawinan, hidupnya terasa kering dan hampa. Ia cenderung mudah tersinggung dan marah oleh hal-hal sepele. Ia sedih, karena ia tahu bahwa suami dan anak-anaknya pun tidak senang dengan kondisi isteri dan ibunya yang seperti ini. Ketika ditelusuri cerita hidupnya, terlihatlah bahwa ia kecapaian. Hidupnya terus diabdikan dari hari ke hari untuk suami dan anak-anaknya. Mereka beres semua, tetapi ibu ini kehabisan energi dan tidak merasa sejahtera. Tentu saja keadaan seperti ini tidak dikehendaki oleh suami dan anak-anak mana pun. Mereka juga ingin melihat isteri dan ibu mereka bahagia, bukan?

Menurut penulis laris Spenser Johnson, orang yang bersikap lebih peduli pada dirinya sendiri, dengan melakukan hal-hal kecil bagi dirinya sendiri, menjadi orang yang berkurang amarah pada dirinya sendiri dan lebih damai. Karena tidak marah terhadap diri sendiri dan merasa damai, ia pun menjadi orang yang tidak mudah marah dan cenderung bersikap peduli pada orang lain (Johnson, S., 1985). Aneh, bukan? Bukan orang lain penyebabnya, bukan kesibukan, pekerjaan, jalanan macet, anak-anak yang rewel yang menyebabkan seseorang menjadi pemarah, tetapi diri sendiri yang tidak sejahtera lah yang menjadikan dia seorang pemarah. Jika ia seorang ibu, otomatis yang menjadi sasaran adalah anak-anak, seringkali juga suami. Karena sang ibu sering marah, apa yang dilakukan anak selalu dikritik, senantiasa dilihat salahnya, maka anak pun menjadi rewel dan uring-uringan.

Ini rumusan Spencer Johnson dalam bukunya "one minute for yourself", bahwa jika semua orang bersikap lebih peduli pada diri mereka sendiri dan itu mereka lakukan atas dasar pilihan mereka sendiri, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik. Tingkat kemarahan setiap orang pun akan sangat berkurang.

Sejak kecil kita dinasehati untuk tidak boleh egois, sehingga ketika beranjak dewasa pun kita takut menjadi egois. Apa yang kita lakukan? Secara alami kita membalikkan urutan: mementingkan orang lain lebih dahulu, baru memikirkan kepentingan diri sendiri. Spencer Johnson, menggambarkan ini seperti menaruh kereta di depan kuda. Kita adalah kudanya. Bayangkan, apakah dapat maju menuju ke suatu tempat yang merupakan tujuan kita? Jangan-jangan malah frustrasi karena berputar-putar di tempat. Jadi jika saya tidak dapat mengatur apa pun dalam hidup ini secara alami, saya tidak dapat membuat kemajuan yang berarti.

Ketika kita tidak peduli pada diri kita sendiri, apa pun yang dilakukan oleh orang lain tidak akan pernah cukup untuk membuat kita bahagia. Jadi, mulailah mencintai diri sendiri.

"Me time" maksudnya adalah kita memberi waktu kepada diri sendiri. Kebenaran yang ada secara obyektif adalah bahwa setiap orang mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam setiap hari. Akan tetapi, mengapa ada orang yang bahagia dan ada orang yang tidak bahagia? Ada yang merasa punya waktu, ada yang merasa dikejar-kejar waktu dan kehabisan waktu? Ternyata ada orang-orang yang dapat secara subyektif mempersepsikan bahwa dia punya waktu lebih. Orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang mempunyai "power" atas dirinya sendiri dan melihat dirinya sebagai orang yang mengontrol waktunya sendiri. Mereka akan merasa optimis dalam hidupnya, merasa punya waktu lebih, sehingga merasa dapat mengatur waktunya (Moon & Chen, 2014). Orang-orang semacam ini bahkan dapat bersantai dan menikmati hidup dalam kesibukan dan pekerjaan yang bertumpuk.

Bagi yang telah hidup berkeluarga, "me time" sangatlah penting dalam meraih kebahagiaan. Suami, isteri yang bahagia mempunyai "me time" yang cukup. Mengapa demikian? Menurut John Powell dan Loretta Brady (1976) yang melakukan banyak pelatihan untuk membuat individu merasa hidupnya penuh dan utuh mengatakan bahwa orang yang dapat mencintai dirinya sendiri, dia dapat mencintai orang lain dan Tuhan. Jadi, ada tiga arah tujuan cinta, yaitu; DIRI SENDIRI, ORANG LAIN dan TUHAN. Tidak mencintai diri sendiri membawa kita pada keadaan "sekarat maut". Tidak mencintai orang lain, mempersempit dunia kita. Jika Anda tidak mau keluar dari diri Anda untuk mencintai orang lain, dunia Anda hanya berpenduduk SATU orang saja, maka warisan Anda adalah kesedihan. Tidak mencintai Tuhan, sang Pencipta langit, bumi dan bintang-bintang, akan "mencuri" dariku kebahagiaan untuk melihatNya di dalam segala hal. Hasilnya pastilah kesedihan dan hidup yang merana.

Dengan demikian, jelaslah bahwa mencintai diri sendiri sangatlah penting. Membuat "me time" menjadi penting bagi suami maupun isteri. Saling memahami bahwa masing-masing membutuhkan "me time" menjadikan pasangan suami isteri berenergi dalam menatap hari-hari ke depan. Inikah yang disebut "privacy"? Menurut saya, "privacy" tidak bertentangan dengan kejujuran. Masing-masing individu dapat mempunyai "privacy" dan tetap jujur satu terhadap yang lain. Disinilah keunikan suami-isteri yang terus bertumbuh, yaitu yang didasari oleh rasa percaya tingkat tinggi.

Pertanyaannya adalah: apa yang sebaiknya dilakukan suami atau isteri di dalam "me time" nya? Saya selalu memberitahukan kuncinya kepada pasangan suami-isteri, yaitu damai sejahtera. Lakukanlah apa saja yang membuat Anda merasakan damai sejahtera. Lalu periksa, apakah pasangan Anda merasakan juga damai sejahtera. Periksa juga anak-anak tentunya, apakah mereka juga merasakan damai sejahtera seperti yang Anda alami. Kalau Anda melakukan hal-hal yang baik dan terpuji, perasaan damai di hati dengan sendirinya muncul. Mungkinkah pasangan tidak mengerti dengan apa yang kita lakukan dan terjadilah konflik? Mungkin sekali, jika Anda tidak mengajaknya mengerti. Komunikasi dan kejujuran dituntut disini. Pasangan dapat salah paham, jika tidak dibantu untuk mengerti. Mengkomunikasikan apa yang kita lakukan pada saat "me time" adalah bagian dari "memberi kepada orang lain". Ternyata, jika kita mencintai diri kita sendiri, kita akan menjadi lebih baik dalam hal memberi, melayani dan bekerjasama dengan orang lain.

Dengan demikian, berhenti, melihat dan mendengarkan diri terbaik kita akan sangat membantu kita menyadari bahwa kita perlu memberi pada diri sendiri. Semakin banyak seseorang memberi pada dirinya sendiri, maka semakin banyak dia dapat memberi kepada orang lain. Aneh tapi nyata!

Pendidikan sejak kecil menyebabkan kita sering berpikir: "memberi lebih baik daripada menerima", sehingga kita sering merasa kesulitan untuk menerima. Sekarang saatnya kita perlu menyeimbangkan antara memberi dan menerima. Karena, jika tidak ada seorang pun yang mau menerima, maka tidak ada juga orang yang dapat memberi. Kita perlu belajar untuk memberi pada diri sendiri dan untuk menerima dari diri sendiri. Kita akan merasakan kedamaian dalam diri kita. Jawabannya terletak di dalam diri kita sendiri. Akhirnya kita dapat memberikan hadiah yang terbaik bagi keluarga, yakni diri terbaik kita. Menyempatkan Diri Satu Menit untuk Diri Sendiri, sangatlah bermanfaat.

Beberapa tips untuk "me time":
  1. Terimalah fakta bahwa diri kita perlu dicintai oleh diri kita sendiri.
  2. Mencintai diri sendiri membuat kita dapat mencintai orang lain dan Tuhan.
  3. Komunikasikan topik bahwa setiap orang membutuhkan "me time" dengan pasangan dan anak-anak.
  4. Sepakati jadwal "me time" Anda dan anggota keluarga yang lain.
  5. Lakukan hanya hal-hal yang baik dan terpuji di saat "me time".
  6. Tularkan kebahagiaan Anda kepada orang lain, karena Anda telah memberi kepada diri sendiri. Orang lain pun perlu mempunyai "me time" mereka.