Pentingnya Apersepsi dalam Proses Pembelajaran.

26 Maret 2017 Artikel Pendidikan


Apersepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah "pengamatan secara sadar (penghayatan) terhadap segala sesuatu di jiwanya (dirinya) sendiri yang menjadi dasar perbandingan serta landasan untuk menerima ide-ide baru".

Menurut Nurhasnawati. Apersepsi bertujuan untuk membentuk pemahaman. Seperti yang dikutip di dalam bukunya yang berjudul "Strategi Pengajaran Mikro" yakni, jika guru akan mengajarkan materi pelajaran yang baru perlu dihubungkan dengan hal-hal yang telah dikuasai siswa atau mengaitkannya dengan pengalaman siswa terdahulu serta sesuai dengan kebutuhan untuk mempermudah pemahaman.

Dalam sejarahnya orang yang pertama kali mengenalkan istilah teori apersepsi adalah johan friedrich herbart (1776-1841), seorang psikolog, filsuf, sekaligus guru ahli yang berasal dari jerman. Pada kenyataannya interaksi antara gusu dan siswa dalam proses pembelajaran sangat dinamis dan kompleks sehingga sulit dijelaskan secara sederhana, telah mendorong herbart untuk menemukan teori apersepsi. Namun dalam prakteknya, melakukan apersepsi tidaklah mudah. Kesulitannya, bukan hanya disebabkan oleh kurangnya penguasaan guru terhadap apersepsi, tapi juga banyak guru yang beranggapan bahwa penguasaan apersepsi hanya berpengaruh kecil terhadap proses pembelajaran. Karenanya, tidak sedikit guru yang ketika masuk kelas langsung mengajarkan materi pelajaran.

Teknik-teknik dari apersepsi yang bisa di lakukan adalah Fun Story atau cerita lucu. Fun story atau cerita lucu yang disampaikan oleh guru pada 5 menit sebelum belajar dimulai akan dapat membuat otak anak siap untuk belajar. Dengan cerita lucu anak akan merasa relaks dan senang yang ditandai dengan rona wajah yang ceria, tersenyum, bahkan tertawa. Munif Chatib menyebut kondisi tersebut sebagai Zona Alfa. Kondisi alfa adalah tahap paling iluminasi (cemerlang) proses kreatif otak seseorang. Kondisi ini dikatakan sebagai kondisi paling baik untuk belajar. Dikarenakan, sel saraf sedang berada pada suatu keseimbangan.

Fun Story bisa di ceritakan dengan berbagai cara. Bisa dari pengalaman pribadi, cerita dati pengalaman orang lain, buku-buku humor, internet dan yang lainnya. Yang terpenting ada kemauhan kuat dari guru untuk mendapatkannya.

"Anak-anak, semalam bapak mendapat kiriman e-mail dari seorang sahabat tentang cerita yang luar biasa. Dia bercerita bahwa ada seorang pemuda yang punya kuda ajaib. Ya, ajaib sebab kuda itu punya password atau kata kunci. Jika ingin membuat kuda itu mulai berjalan, passwodrnya kita ucapkan alhamdulilah. Tanpa ucapan itu, si kuda tidak akan mau jalan. Sebaliknya, jika ingin berhenti, kata kuncinya adalah bismillah.

Sang pemuda membawa kuda itu ke kota yang ramai dan bertemu dengan teman lamanya. Melihat kuda yang demikian bagus, sang teman ingin meminjam dan menaiki kuda tersebut. Awalnya, si pemilik kuda menolak, tetapi karena dipaksa, akhirnya pemuda itu rela meminjamkan kuda ajaibnya dan memberikan password-nya.

Begitu diberi tahu, sang teman menaiki kuda dan mengucapkan alhamdulillah sehingga langsung meringkik dan berlari. Karena senang is kembali mengucapkan alhamdulillah sehingga kuda berlari tambah kencang, keluar dari kota, memasuki hutan, dan menuju jurang menganga. Penunggang kuda sangat panik sampai lupa kata kunci untuk berhenti. Jurang di depan tinggal 20 meter lagi, dia masih lupa password untuk berhenti. Jurang sudah berjarak 10 meter, 5 meter, 2 meter. Pada detik terakhir, dia teringat kata kunci untuk menghentikan kuda, lalu meneriakan bismillah. Kontan si kuda berhenti di bibir jurang. Begitu melihat dirinya selamat, sang penunggang kuda mengucapkan alhamdulillah. Kalian bisa menebak sendiri bagaimana akhir seritanya". (Media Pembinaan: 2012. Hal. 46-47)".

Oleh: Muhamad Erzal
(Diolah dari berbagai sumber)