Pengaruh Pola Asuh Otoriter Terhadap Perkembangan Anak

2 April 2014 Artikel Pendidikan


Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial. Dalam keluarga umumnya anak ada dalam hubungan interaksi yang intim. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan anak. Pengaruh pola asuh otoriter terhadap perkembangan anak wajib diketahui oleh orang tua. Mendidik anak memang bukan perkara yang mudah.

Orang tua mempunyai kewajiban untuk mendidik, mengasuh dan merawat anak dengan baik. Oleh karena itu orang tua juga harus banyak belajar tentang cara mengasuh anak agar anak memiliki kepribadian yang baik. Terkadang sebagai orang tua banyak menuntut kepada anak untuk melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan kemampuan anak bahkan dibumbui dengan ancaman apabila anak tidak mau melakukan sesuai kemauan orang tua. Sikap ini disebut dengan pola asuh otoriter.

Sebenarnya pola asuh yang otoriter tidak baik untuk perkembangan dan pertumbuhan anak terutama dari segi psikologis. Anak yang hidup di dalam keluarga dengan pola asuh otoriter akan membentuk kepribadian yang keras, mudah tersinggung, cemas dan ketakutan. Di jaman sekarang ini orang tua banyak memberikan tuntutan kepada anak dan mengabaikan komunikasi dua arah sehingga saat ini banyak anak yang suka tawuran, berkelahi atau tindakan negatif lainnya. Lantas, apa saja fenomena pola asuh otoriter terhadap perkembangan anak?

Berikut beberapa fenomena yang mungkin terjadi pada pengasuhan anak secara otoriter.
1.Menuntut nilai.

Orang tua merasa telah memberikan biaya yang besar untuk sekolah anaknya di tempat terbaik menuntut agar nilai anak selalu sempurna tanpa melihat kemampuan dan keadaan anak. Misalnya ketika anak sedang dalam keadaan sakit tetap dituntut untuk memperoleh nilai yang sempurna. Anak juga akan diberikan bermacam-macam les agar anak menjadi yang terpintar di kelasnya tanpa memberikan kesempatan untuk bermain.

2.Menuntut prestasi.
Saat anak mengikuti perlombaan dituntut untuk menang dan terkadang orang tua akan memarahi anak apabila tidak memenangkan perlombaan. Anak juga dituntut untuk memperoleh prestasi atau ranking di kelasnya.

3.Menuntut yang terbaik.
Orang tua sering menuntut anak untuk melakukan dan menjadi yang terbaik tanpa memahami kemampuan anak. Segala macam les dan kursus diberikan kepada anak agar menjadi yang terbaik di sekolah dan di keluarga. Hal ini sering membuat anak menjadi depresi karena anak tidak memperoleh kesempatan untuk bermain dengan teman sebayanya. Orang tua yang mengatur semua jadwal anak sehingga anak akan jenuh dengan rutinitasnya.

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan yang dipakai orang tua dalam pengasuhan sangat memberi dampak pada perkembangan anak.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)