Pengadaan Air Bersih di Indonesia Bermasalah?

22 Maret 2014 Artikel Pendidikan


Pada tahun 2014 ini, PBB bekerja sama dengan negara-negara anggota dan pemangku kepentingan terkait lainnya, secara kolektif mengangkat perhatian hubungan air dan energi, khususnya dalam rangka mengatasi ketidakadilan, terutama untuk masyarakat kelas rendah yang tinggal di daerah kumuh dan daerah pedesaan miskin yang bertahan hidup tanpa akses ke air minum yang aman, sanitasi yang memadai, cukup makanan dan pelayanan energi.

Hari ini, 22 Maret 2014 diperingati sebagai Hari Air Dunia (World Water Day). Dalam peringatannya di tahun 2014 ini tema yang diangkat oleh UN Water sebagai pelaksana kampanye Hari Air Sedunia adalah "Water Energy" atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi "Energi Air".

World Water Day dan sering pula disebut sebagai World Day for Water merupakan perayaan yang ditujukan untuk menarik perhatian masyarakat sedunia (internasional) akan pentingnya air bagi kehidupan serta untuk melindungi pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.

Hari Air Dunia dan Indonesia

Mengaitkan air dan Hari Air Dunia dengan Indonesia seperti menguak sebuah ironi berkepanjangan tanpa akhir. Di satu sisi Indonesia tanpa terbantahkan menjadi negara dengan sumber air paling melimpah di dunia namun di sisi yang lain belum dapat terkelola dengan baik. Indonesia kaya air tapi sering krisis air bersih.

Air kerap masih menjadi barang yang mahal dan tidak terjangkau bahkan dengan kualitas yang seminimal mungkin pun. Bahkan tidak jarang kuantitas air pun tidak mencukupi. Yang paling memprihatinkan, melimpahnya air di Indonesia malah kerap membawa bencana.

Indonesia memiliki enam persen potensi air dunia atau 21 persen potensi air di Asia Pasifik. Tapi ironisnya, setiap tahun Indonesia mengalami krisis air bersih secara kualitas maupun kuantitas. Sumber air alam semakin menyusut dan air bersih olahan semakin mahal. Sebanyak 13 sungai yang melewati ibukota Indonesia bahkan tercemar bakteri E-coli, termasuk 70 persen air tanahnya.

Mengutip data Bank Dunia pada 2006, dari 230 juta penduduk Indonesia, terdapat 108 juta penduduk atau sekitar 47 persen yang memiliki akses terhadap air bersih yang aman untuk dikonsumsi. Sementara itu, jumlah penduduk yang memiliki akses jamban yang tidak mencemari sumber air di sekitarnya diperkirakan baru mencapai sekitar 100 juta penduduk.

JENIS AIR SERTA KETERSEDIAANNYA

Saat ini berdasarkan siklus hidrologi dapat kita lihat ada beberapa jenis sumberdaya air yang dapat digunakan: Sumberdaya air itu untuk di Indonesia, dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu: sumberdaya air hujan, air permukaan dan air tanah. Untuk Jepang yang memiliki 4 musim sumberdaya air ini ditambah dengan sumberdaya air yang berasal dari salju. Indonesia hanya memiliki sumberdaya air ini di puncak Jayawijaya, Propinsi Papua yang jauh dari perkotaan. Sumberdaya air yang berasal dari salju tidak akan dibahas dalam tulisan ini.

Sumberdaya Air Hujan.

Indonesia memiliki curah hujan yang besar yaitu 1000-4000 mm/tahun atau dapat dikatakan 2 - 22 mm/hari. Angka ini merupakan suatu potensi yang sangat baik sebagai ketersediaan sumberdaya air. Permasalahan utama di Indonesia adalah hujan ini tidak turun setiap hari. Indonesia mengenal 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Rata-rata musim ini akan berlangsung selama 6 bulan untuk pulau-pulau besar di Indoensia. Untuk pulau kecil bisa mencapai 220 hari hujan dalam satu tahun (BMG 2006). Hal inilah yang menjadi penyebab utama ketidakseimbangan dalam ketersediaan air di Indonesia (water imbalance). Kita mungkin sering mendengar istilah `Banjir di kala Hujan dan Kekeringan di Kala Kemarau`.

Untuk masyarakat perkotaan Indonesia, ketersediaan air hujan sebagai salahsatu sumberdaya air seringkali terlupakan. Hujan yang turun secara intensif lebih sering dianggap sebagai bahaya banjir yang akan datang daripada sebagai sumber air yang sangat diharapkan.

Sumberdaya Air Permukaan dan Air tanah

Indonesia, sebenarnya merupakan salah satu diantara negara-negara yang kaya air setelah Brasil, Rusia, Cina, dan Kanada. Hal ini tercermin juga pada potensi ketersediaan air permukaan, terutama dari sungai, yang menurut catatan Departemen Pekerjaan Umum?(2006), memiliki debit rata-rata 15.500 meter kubik per kapita per tahun, jauh melebihi rata-rata dunia yang hanya 600 meter kubik per kapita per tahun.

Dalam sejarahnya air sungai memegang peranan penting dalam pengembangan kota-kota di Indonesia. Hampir semua kota di Indonesia terkenal dengan sungainya. Jakarta dengan Ciliwungnya Palembang dengan sungai Musinya, Samarinda dengan sungai Mahakamnya dan banyak lagi.

Permasalahan yang utama adalah debit sungai yang mengacu kepada ketersediaan curah hujan yang tetap setiap tahunnya tidak dapat mengimbangi pertumbuhan penduduk yang luar biasa. Sebagai contoh: di Pulau Jawa yang penduduknya mencapai 65 persen dari total penduduk Indonesia, hanya tersedia 4,5 persen potensi air permukaan nasional (Dep.PU, 2006). Faktanya, jumlah ketersediaan air sungai di Pulau Jawa yang mencapai 30.569,2 juta meter kubik per tahun tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air bagi seluruh penduduknya. Artinya, di pulau yang terpadat penduduknya itu selalu mengalami defisit, paling tidak hingga 2015. Ini akan terus meningkat jika tidak ada upaya konservasi dan efisiensi pemanfaatannya.

Permasalahan lainnya adalah ketersediaannya pun sangat fluktuatif antara musim hujan dan musim kemarau. Catatan Departemen PU (2006) menunjukkan, pada musim hujan debit air di Sungai Cimanuk, misalnya, mencapai 600 meter3/detik, tetapi pada musim kemarau hanya 20 meter3/detik.

Sumberdaya air laut

Untuk perkotaan di tepi laut, sumberdaya ini dapat digunakan sebagai alternatif penyediaan air baku untuk keperluan sehari-hari. Indonesia yang kaya dengan sinar matahari dapat mengembangkan potensi sumberdaya air ini sebagai salahsatu alternatif. Jepang mengembangkan teknologi ini sejak tahun 1974 di Propinsi Nagasaki. Saat ini Jepang juga telah membangun pusat desalinisasi air laut di wilayah paling Selatan dari negaranya yaitu di Okinawa, daerah kepulauan dengan iklim sub-tropis. Di pulau Okinawa (lokasi ibukota propinsi ini) telah dibangun pusat pengolahan air laut Chatan, dengan kapasitas produksi 40.000 m3/ hari dan menggunakan teknologi reverse osmosis membran yang juga telah dikenal dengan baik di Indonesia. Untuk aplikasi di Indonesia, teknologi ini telah dikembangkan untuk skala industri besar (Pupuk Bontang dll) tapi belum untuk skala perkotaan.

MANAJEMEN SUMBERDAYA AIR PERKOTAAN

Penyediaan sumberdaya air di perkotaan bukanlah hal yang mudah. Pengelolaan (manajemen sumberdaya air) yang baik memerlukan pemahaman yang detail mengenai karakteristik kebutuhan air tiap kota dan inventaris yang akurat mengenai sumberdaya air yang tersedia. Pengelolaan inipun haruslah berjalan konsisten dan tanggap terhadap masalah-masalah yang muncul untuk memperbaiki sistem ini sehingga menjadi lebih baik. Secara garis besar beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam manajemen sumberdaya air di perkotaan Indonesia adalah:

1. Pengembangan budaya penggunaan air yang baik (water use); Komsumsi air yang berlebihan dan tidak proporsional akan semakin memperparah krisis air perkotaan yang telah dan akan terjadi.

2. Pengembangan teknologi daur ulang air (recyle water); Upaya konservasi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga oleh warga perkotaan ini sendiri.

3. Pemanfaatan sumberdaya air yang lebih maksimal, efektif dan terpadu untuk semua potensi sumberdaya air yang ada baik air hujan (rain water harvesting), air permukaan (city dam), airtanah (water supplement) maupun air laut (water purification).

4. Nilai jual sumberdaya air (water pricing).

Data yang ada selama ini telah menunjukkan bahwa sebagian kota-kota di dunia, khususnya di Indonesia sedang bergerak memasuki tahapan krisis sumberdaya air. Langkah-langkah persiapan dan pencegahan permasalahan ini haruslah mulai difikirkan dan disiapkan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi krisis air bersih dan dapat dikatakan, berbicara adanya cadangan lebih baik daripada kekurangan air. Apalagi air bersih merupakan pemenuhan kebutuhan dasar dikota. Sebab, kebutuhan air bersih di kota mutlak diperlukan. Tulisan ini mencoba menggugah pembaca untuk mulai memikirkan masalah ini. Jika tidak dilakukan sejak sekarang, maka bisa berakibat krisis air di kota.

Oleh: Indra K
(Dikutip dari berbagai sumber)