Penerapan Pembelajaran Siswa Aktif di Era Modern

22 Agustus 2016 Artikel Pendidikan   |    Kak Zepe


Masih teringat saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Saya diajar oleh guru-guru dengan metode yang monoton. Salah satunya adalah dengan metode mencatat dengan cara dikte atau mengkopi tulisan di papan tulis, mengerjakan soal-soal yang diberikan guru, dan sesekali berdiskusi untuk mengerjakan soal secara berkelompok. Metode-metode di atas memang tidak buruk. Saya juga tidak menyalahkan guru-guru saya di masa sekolah. Namun teknologi berkembang dengan pesat. Muncul banyak ide-ide baru dalam hal metode mengajar dari berbagai belahan dunia. Kecepatan penyampaian informasi membuat semua pendidik juga cepat berbenah. Melalui artikel ini, saya hendak memberikan beberapa metode menarik dalam mengajarkan materi pelajaran di sekolah.

1. Mengurutkan Gambar

Dalam metode ini guru menyiapkan beberapa gambar tentang cara menggunakan sesuatu. Misalnya cara menanak nasi dengan menggunakan magic jar. Ada gambar orang sedang mencolokkan kabel ke saklar, ada gambar orang menekan tombol on pada magic jar, ada gambar orang sedang memasukkan air ke dalam baskom magic jar, dan gambar lainnya. Siswa diminta untuk mengurutkan gambar dan menulis narasi sesuai dengan gambar. Melalui aktivitas seperti ini, siswa belajar untuk berpikir sistematis dan logis.

2. Menganalisa Masalah Secara Individu atau Kelompok

Metode ini mengajak siswa menganalisa suatu pokok permasalahan. Tidak banyak teori yang diberikan dalam pembelajaran ini, karena setiap siswa berhak menganalisa suatu masalah dan menyimpulkannya sendiri. Bahkan akan lebih menarik bila siswa bisa memilih topicnya sendiri, dengan catatan, topic yang dipilih siswa tidak menyimpang dari topic pembelajaran. Misalnya saat belajar tentang pelestarian tanaman. Siswa bisa menganalisa tentang, "Mengapa tumbuhan membutuhkan air?" Dalam pembelajaran ini, siswa bisa mendapatkan informasi dari berbagai sumber, misalnya dari buku ensiklopedia, internet, dan lainnya. Aktivitas ini bisa dilakukan secara individu maupun berkelompok. Tujuan utama aktivitas ini adalah melatih siswa untuk berpikir kritis.

3. Acak Angka atau Nomor

Biasanya ada beberapa anak yang kurang bisa berdiskusi secara serius dalam suatu aktivitas diskuis kelompok. Namun dengan metode ini, anak didik akan lebih terpacu untuk bisa berdiskusi secara serius dan kompak. Caranya adalah dengan memberikan nomor yang berbeda kepada setiap siswa. Setelah itu, siswa berdiskusi dalam kelompok. Bila diskusi telah usai, guru akan meminta salah satu atau beberapa siswa untuk melaporkan hasil diskusinya di depan kelas. Siswa pelapor ditunjuk secara acak oleh guru secara acak (biasanya dengan menggunakan metode mengambil lotere) oleh guru dengan menyebutkan nomor.

4. Metode Bermain Peran (Drama)

Aktivitas ini biasanya akan disukai anak-anak yang berbakat dalam bidang seni. Dalam metode ini, guru menyampaikan materi secara singkat dan padat. Misalnya adalah tentang pelestarian tanaman. Salah satu materi yang telah dijelaskan guru tentang cara melestarikan alam adalah dengan menyirami tanaman secara teratur. Dalam metode ini, siswa diminta untuk menampilkan sebab-sebab tanaman menjadi layu atau akibat yang ditimbulkan bila tanaman yang tidak pernah disiram. Metode menyenangkan ini akan memacu siswa untuk berpikir kreatif, selain itu siswa akan lebih mudah menangkap materi pelajaran melalui visualisasi drama.

5. Metode Debat

Metode debat biasanya dilakukan secara berkelompok dan mengacu pada suatu pokok permasalahan yang menarik untuk dijadikan "pro-kontra". Misalnya manfaat bermain game, manfaat facebook, dan lainnya. Dalam metode ini siswa akan diajak untuk mempertahankan pemikirannya. Selain untuk melatih mental dan kepercayaan diri anak, metode ini juga bermanfaat untuk menstimulasi daya berpikir kritis anak, dan melatih ketrampilan berbicara anak.

6. Metode Presentasi

Setelah anak selesai mengerjakan suatu karya, guru bisa memberikan tugas selanjutnya kepada anak didiknya, salah satunya adalah dengan melakukan presentasi. Presentasi yang dilakukan oleh anak usia dini tidaklah sulit, guru bisa memancingnya dengan pertanyaan berpedoman pada 5W + 1H. Misalnya, apa saja bahan yang dibutuhkan untuk membuatnya, bagaimana caranya, dan lainnya.

Setiap metode di atas bisa dikombinasi satu sama lain. Misalnya metode debat yang diawali dengan metode menganalisa masalah secara individu maupun berkelompok, berdebat tentang suatu drama yang diperagakan, dan lainnya. Biasnaya metode-metode di atas sangat disarankan untuk anak-anak usia sekolah dasar. Semoga dengan metode-metode di atas, anak-anak Indonesia mampu berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.

(Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Pencipta Lagu Anak dalam aplikasi gratis" Lagu Anak Kak Zepe Vol 1 dan 2)