Metode Kreatif ala Sekolah Islam

2 September 2009 Artikel Pendidikan


Untuk memikat siswa sekaligus menghindari kejenuhan dalam belajar,sekolah Islam ini memiliki metode pengajaran dan pendekatan khusus pada siswa.

Seperti apa? Belajar, bukan kata yang membosankan atau bahkan menyeramkan bagi para siswa Lazuardi GIS Islamic Junior High School.Bagaimana tidak, pihak sekolah secara piawai merancang metode pembelajaran yang mampu memikat hati siswanya. Seputar Indonesia (SI) membuktikan sendiri ketika bertandang ke sekolah ini.

Sekolah yang menerapkan sistem semi-moving class ini, sangat fleksibel dalam menyelenggarakan tempat kegiatan belajar-mengajar. Seperti ketika pelajaran Bahasa Indonesia yang diadakan di ruang komputer.Pelajaran dimulai dengan Alfa Zone. Apa itu Alfa Zone? Ini adalah semacam stimulan bagi siswa agar mereka benar-benar siap untuk menerima pelajaran.

Kami memutar video yang berkaitan dengan materi maupun menampilkan gambar-gambar yang akan membuat siswa tertarik, kata Kepala Sekolah Lazuardi GIS Islamic Junior High School Susiyanti. Benar saja, sebelum pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, sang pengajar menampilkan sebuah video yang berdurasi selama lima menit mengenai berbagai kejadian menarik.

Rupanya pengajar tersebut sedang membawakan materi mengenai kegiatan jurnalistik.Video tadi mengajak siswa untuk menarik kesimpulan dan melaporkan kejadian tersebut dalam bentuk berita. Nah,lain lagi dengan pelajaran Sains. Pelajaran yang masih menjadi momok bagi sebagian siswa ini, dibawakan secara menyenangkan oleh pengajar.

Seperti yang dilakukan Meri Yulfianti selaku pengajar Lazuardi GIS. Untuk pelajaran Biologi atau Kimia, biasanya saya menyetel video atau menunjukkan gambar-gambar kepada siswa, ujar jebolan Universitas Negeri Jakarta Jurusan Kimia ini. Dengan cara ini, bukan hanya siswa menjadi lebih tertarik,mereka pun dapat mengetahui arah pembelajaran yang akan diberikan.

Meri menyadari bahwa pelajaran yang dibawakannya kurang begitu disukai siswa. Maka selain menerapkan Alfa Zone, Meri juga mengajak siswa berkenalan lebih dekat dengan dunia sains. Dia meminta siswa membawa bahan-bahan kimia yang dapat ditemui di rumah.Kemudian, di sekolah dikenalkan namanya dan bahan- bahan itu dianalisis satu per satu beserta kandungannya.

Sedangkan untuk pelajaran Biologi, tidak jarang Meri menugaskan anak didiknya untuk mencari materi dan gambar melalui internet. Pendekatan khusus pun diberikan kepada masing-masing siswa. Hal ini mudah saja dengan kelas kecil yang hanya berjumlah sekitar 20 orang. Bagi yang mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran, pada waktu istirahat Meri sengaja meluangkan waktu khusus untuk mengajar mereka.

Wanita yang mengambil master di ITB Jurusan Kimia Organik ini, mengaku sangat jarang memberikan pekerjaan rumah. Sebab, waktu di rumah digunakan untuk istirahat, mengingat rentang kegiatan sekolah yang berlangsung hingga sore hari. Serupa dengan yang dilakukan Irwan Kusnawan, pengajar Matematika Madina Islamic School.

Irwan menerapkan permainan edukatif berkaitan dengan soal hitungmenghitung, tentunya bagi siswa. Dia mengaku banyak mendapatkan referensi dari internet. Tidak jarang Irwan menggunakan alat peraga untuk menyampaikan materi kepada siswa.Jika tidak ada alat peraga, biasanya dia mengajak siswa membuat sendiri.

Misalnya ketika mengenalkan bangun ruang, kami membuat berbagai bentuk dari bahan karton, kata alumni IPB Jurusan Ilmu dan Teknologi Kelautan ini. Menurut Irwan, penerapan sistem kelas kecil memberi kemudahan bagi dirinya untuk lebih mengenal siswa dan mengetahui kesulitan yang dialami masing-masing siswa.

Penempatan bangku pun tidak sama dengan sekolah konvensional pada umumnya. Bangku-bangku ditempatkan menghadap satu arah ke papan tulis. Di sini, bangku dan meja dibentuk mengikuti huruf U sehingga guru lebih fleksibel dan mobile. Tidak jauh berbeda dengan Sekolah Islam Tugasku.

Dengan kelas kecil, segala kesulitan anak lebih bisa dipantau guru, kata Kepala Sekolah Islam Tugasku Sri Sudaryantini. Pengajaran yang diberikan pun cenderung diarahkan untuk menggali potensi diri siswa dan membangkitkan kreativitas mereka. Sebut saja pelajaran Bahasa Inggris yang bukan cuma terbatas pada teori.

Porsi praktik pun digiatkan, salah satunya dengan pemberian materi percakapan bahasa Inggris yang dapat digunakan siswa dalam keseharian mereka. Adapun guna mendorong motivasi siswa, Lazuardi menerapkan sistem student of the month. Penilaian yang diberikan tidak hanya sebatas di bidang akademik.Porsi akademik sekitar 30, dan selebihnya kami melihat akhlak siswa bersangkutan, kata Mardias Gufron, koordinator Agama Lazuardi GIS Islamic Junior Hit School.

Tidak heran, pemberian kategori dalam student of the monthbervariasi dan unik.Ada siswa dengan predikat siswa yang rajin dan serius, serta siswa yang memiliki tanggung jawab tinggi. Siswa dengan predikat ini dilihat dari performanya yang selalu mengumpulkan tugas-tugas dengan tepat waktu.

Dalam sebulan,setidaknya guru kelas menetapkan dua siswa yang pantas menyandang gelar student of the monthini. Sekolah Islam ini rata-rata tidak menerapkan sistem pembagian juara kelas. Meski demikian, Lazuardi memberikan dua rapor kepada orangtua, yakni rapor berupa angka serta rapor yang berisi penjabaran dari beberapa kompetensi dasar dari masing-masing pelajaran. (sri noviarni)

Sumber: Seputar-Indonesia.Com