Menjawab Pertanyaan Anak Soal Seks

20 Januari 2010 Artikel Pendidikan


Pernahkah Anda mengabaikan pertanyaan si kecil yang menyangkut soal seks? atau Anda merasa risih dengan si buyung yang tiba-tiba bertanya tentang seks dan membuat Anda gusar? Sebaiknya, berikan penjelasan kepada mereka sejak awal sesuai dengan usia dan porsi pendidikan seks yang mereka wajib dapatkan dari Anda. Jangan menjadi gusar, membentak, atau melarang mereka bertanya-tanya tentang seks.

"Misalnya, Anda mendapat pertanyaan, 'Mama, apa beda anak laki-laki dan perempuan? Kok anak laki-laki pipisnya berdiri?' Jawab, 'Anak perempuan punya payudara dan vagina, dan anak laki-laki punya penis. Kalau anak perempuan pipisnya jongkok, kalau laki-laki berdiri'. Cukup sampai di sana jika anak yang bertanya berusia 5-6 tahun,'' ujar Ratih Ibrahim, MM, psikolog yang berkecimpung di bidang perkembangan remaja.

Namun, jawaban itu bisa berkembang lagi jika anak yang bertanya duduk di bangku SD. ''Tambahkan bahwa anak perempuan akan mengalami mens, dan payudaranya akan tumbuh. Jelaskan juga bahwa laki-laki akan mengalami akil balik,'' tambahnya.

Pada jenjang selanjutnya, pertanyaan anak akan semakin berkembang karena saat itu mereka sudah mendapatkan pendidikan biologi di sekolahnya. Mereka harus diberi pengetahuan yang lebih luas, misalnya tentang cara memilih bra yang baik, membersihkan darah mens, dan hal-hal yang baru baginya.

''Katakan kalau saat itu payudara sedang tumbuh. Jadi, jangan biarkan laki-laki untuk menyentuh atau berbuat kasar,'' ucap Ratih. Intinya, pendidikan seks diberikan sesuai dengan porsi si anak.

Pendidikan seks juga merupakan pembentukan identitas diri. Anak laki-laki, misalnya, akan paham bagaimana ia harus berjalan, yaitu tidak lemah gemulai seperti perempuan. Ia akan paham bahwa ia tidak bermain boneka, tetapi bermain bola. Ia juga akan mencukur kumis, bukan pergi ke salon.

''Hal-hal inilah yang merupakan pembentukan identitas si anak, termasuk cara ia memperlakukan dan bergaul dengan sesama atau lawan jenis mereka,'' ungkapnya.

Berhasil-tidaknya hal ini akan bergantung dari perlakuan orangtua. Semakin Anda tertutup, anak akan semakin salah paham mengenai tubuh mereka dan tubuh lawan jenis mereka. ''Termasuk cara mereka bersikap dengan lawan jenis,'' imbuh Ratih.

Jika mereka telah menempatkan diri sebagai teman untuk Anda dalam berbicara seks, maka ia tidak akan memerlukan media seperti internet untuk mencari tahu kebingungan-kebingungan mereka.

''Coba tempatkan diri Anda sebagai teman. Sebab, usia mereka sedang merasa nyaman berbicara dan terbuka dengan teman usia sebayanya,'' ulasnya.

Tidak ada salahnya juga melihat Facebook dan Twitter mereka, mungkin ada hal-hal yang bisa dijadikan topik diskusi bersama. Intinya, persiapkan diri Anda secara lebih dalam untuk menjawab berbagai pertanyaan seks dari mereka.

Penulis: C2-10/Editor: din

Sumber: Kompas.Com