Menjadikan Mertua Sahabatku (Be Friends Forever)

19 September 2014 Artikel Pendidikan   |    dra. Catherine DML. Martosudarmo, M.Sc


Di suatu perjumpaan reuni teman-teman wanita dari sebuah SMA, ada seseorang yang membagi cerita bahwa setiap malam ia berdoa demikian, "Tuhan, berikanlah aku seorang suami, namun tolong agar suamiku nanti adalah seseorang yang sudah tidak punya orangtua lagi." Hebohlah teman-temannya dan bertanya mengapa ia berdoa demikian. Wanita itu menjawab, "Karena saya sering menjumpai banyak saudarayang mertuanya menjadi malapetaka dalam perkawinan mereka. Mertua bukannya menjadi penolong, tetapi jadi perongrong bagi perkawinan."

Menurut hasil penelitian dari para ahli, keluarga besar (orangtua, adik, kakak, mertua, ipar, paman, bibi, kakek, nenek) yang paling sering menyebabkan konflik dalam perkawinan adalah ibu mertua (46,7%). Konflik yang paling sering terjadi adalah antara ibu mertua dengan menantu wanita (Landis, 1973). Konflik yang paling jarang adalah antara ayah mertua dengan menantunya.

Mengapa demikian? Menurut Weiss (1985), seorang ibu biasanya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan anak laki-lakinya. Seorang ibu merasa tetap menjadi ibu sampai kapan pun, walaupun anaknya sudah dewasa. Oleh karena itu, sang ibu seringkali menangis di dalam hatinya jika, menantu perempuannya kurang memberi perhatian terhadap anak laki-lakinya. Ikatan yang serupa sebenarnya ada pada hubungan ibu dengan anak perempuannya. Akan tetapi, secara naluriah ia lebih mudah melihat dirinya pada diri menantu perempuan karena kesamaan jender. Secara tidak sadar, banyak ibu mertua menuntut menantu perempuan mencerminkan dirinya. Hal ini lebih banyak terjadi dalam aspek kerumahtanggaan, yaitu dalam hal merawat rumah dan melayani suami.

Seperti kita ketahui, bahwa pekerjaan rumah tangga itu tiada habisnya. Setiap hari selalu ada saja yang harus dibereskan. Seorang anak laki-laki yang mempunyai ibu yang tidak bekerja, secara tidak disadari ia akan mempunyai model wanita seperti ibunya pada aspek kerumahtanggaan. Apalagi jika ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang cekatan; suatu hari ia berharap isterinya secanggih ibunya dalam urusan rumah tangga.

Sejalan dengan hal itu, banyak suami berharap isterinya menyayangi ibunya. Ia bahkan merasa dikasihi oleh isterinya, jika isterinya mengasihi ibunya. Anak laki-laki akan merasa sangat terbantu dalam mengasihi ibunya terutama ketika sang ibu memasuki masa senja.

Mengasihi mertua, tidaklah sulit, jika menantu memposisikan mertua sebagai orangtuanya sendiri. Akan tetapi dalam kenyataannya, hal ini tidak selalu terjadi demikian, karena berbagai situasi yang terjadi. Apalagi, anggapan bahwa mertua adalah orangtuanya sendiri baru terjadi di alam pikiran, belum meresap di hati. Demikian pula sebaliknya, mengasihi menantu tidaklah sulit, jika mertua menganggap menantu adalah anaknya sendiri.

Seringkali para menantu berpikir bagaimana caranya membuat sang mertua bersikap baik kepada mereka; bagaimana agar mertua mempunyai persepsi yang positif terhadap menantunya. Di sisi lain, jangan lupa, para mertua pun memiliki kerinduan yang sama, yaitu bagaimana membuat sang menantu menghormati, menghargai dan menyayangi mereka.

Orang bijak berkata, sebenarnya untuk menjadikan sang mertua atau sang menantu bersikap baik terhadap kita akan banyak bergantung pada sikap kita sendiri. Benarlah pepatah yang mengatakan demikian, "Sebelum engkau dapat mengubah sikap orang lain kepadamu, ubahlah lebih dahulu sikapmu sendiri kepada orang lain."

Peneliti lain, Purnomo, (1994) mengatakan: "Seorang menantu dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan mertua daripada sebaliknya." Mengapa demikian? Sikap negatif menantu seringkali disebabkan persepsi negatif sang menantu. Ia tidak dapat melihat mertua sebagai orangtuanya sendiri, terutama pada awal perkawinan. Selain lebih muda usianya, sehingga masih lebih fleksibel untuk berubah, menantu perlulah mengambil keputusan dan menetapkan pilihan. Jika keputusan sudah diambil, tindakan pun akan mengikuti, hati pun akan sejalan. Untuk orang-orang yang rasional, mulailah dengan pikiran. Pikiran yang positif akan membuat tindakan kita positif juga.

Beberapa kaidah yang dapat menjadi pegangan bagi para menantu dalam kaitannya dengan perkawinan dan mertua:

  • Penyesuaian hubungan mertua-menantu perlu proses. Hubungan yang baik dibangun dari perjumpaan-perjumpaan yang meninggalkan memori yang baik. Hubungan yang baik terjadi karena adanya proses yang membentuk suatu relasi. Perjumpaan di awal memegang peranan yang cukup besar dalam mengawali sebuah proses yang panjang. Oleh karena itu, persiapkan diri dengan baik, agar perjumpaan yang pertama menjadi perjumpaan yang berkesan baik bagi calon mertua. Pasangan perlu saling membantu dengan memberikan informasi yang memadai, sehingga tidak terjadi salah persepsi. Walaupun dari hasil penelitian, ibu mertua lah yang paling banyak berkonflik dengan menantu perempuan, sangatlah baik untuk memperhatikan relasi dengan ayah mertua.
  • Hubungan mertua dan menantu menjadi ikatan yang intim karena adanya perkawinan. Perkawinan lah yang menjadikan adanya hubungan mertua-menantu. Jika Anda menganggap relasi perkawinan Anda serius dan agung, demikian pula lah Anda perlu serius dalam menangani relasi dengan mertua.
  • Hubungan dalam perkawinan (suami - isteri) sangat berhubungan dengan keharmonisan relasi dengan keluarga asal. Maksudnya, jika hubungan dengan keluarga asal terganggu, maka relasi perkawinan Anda pun terganggu. Oleh karena itu, bagi para pria maupun wanita, persiapkan pasangan Anda untuk perjumpaan yang baik dengan orang tua Anda, karena suami atau isteri yang mempunyai hubungan yang baik dengan orang tua akan membantu Anda dalam membangun relasi perkawinan Anda.


Seorang ahli terapi perkawinan dan keluarga yang bernama Minuchin (1984) mengatakan, "Ketrampilan berelasi antara suami - isteri akan menjadi optimal, jika relasi suami-isteri tersebut terbebas dari intervensi pihak lain (orang tua, mertua, anak, anggota keluarga lain)." Disini dimaksudkan agar setiap pasangan membangun identitas perkawinannya sendiri. Intervensi orang lain akan mempengaruhi relasi perkawinannya. Perkawinan seperti apa yang akan dibangun, sangatlah tergantung dari nilai-nilai yang diemban setiap orang yang memasuki sebuah perkawinan. Nilai-nilai hidup dibawa seseorang sebagian besar berasal dari keluarga asalnya. Oleh karena itu, jika ingin mengetahui nilai-nilai apa yang ada pada pasangan Anda, kenalilah keluarga asalnya, kenalilah mertua Anda.

TIPS menjadikan mertua sahabat Anda:

  1. Miliki persepsi positif terhadap mertua. Persepsi positif adalah pilihan dan keputusan. Anda yang memilih dan memutuskan untuk mempunyai persepsi yang positif atau negatif terhadap mertua.
  2. Kenali pasangan dengan mengenal orang tuanya lebih baik, karena relasi yang baik antara individu dengan orangtua/mertua akan mempengaruhi relasi perkawinannya sendiri.
  3. Fokus 100% pada satu hal positif dari mertua. Jika mertua Anda mempunyai banyak kejelekan, misalnya: cerewet, suka ikut campur urusan orang lain, materialistis, penuh curiga dll, tetapi punya satu hal positif yaitu pintar memasak, maka Anda fokus 100% hanya pada soal masak-memasak. Bicaralah dengannya soal masakan, pujilah dia soal masakannya. Karena memang itu keahliannya, mertua akan merasa tersanjung karena menantunya sangat menghargainya.
  4. Tidak menempatkan pasangan di posisi terjepit antara Anda dan mertua. Posisi terjepit ini adalah posisi yang sangat tidak enak bagi pasangan kita. Di satu sisi adalah orangtua, di sisi yang lain adalah pasangan hidup yang sudah dipilihnya sendiri untuk sehidup semati. Banyak individu melepaskan perkawinannya jika menghadapi posisi ini, karena tidak tahan dan tidak mau menjadi anak durhaka. Ada ungkapan yang mengatakan "tidak ada bekas orangtua, tidak ada bekas anak", karena ikatan orangtua dan anak adalah ikatan biologis emosional yang tidak mungkin diputuskan. Jika Anda mempunyai hubungan yang baik dengan mertua, Anda membebaskan pasangan Anda dari posisi terjepit ini.
  5. Kenali bahasa kasih mertua, sehingga dapat memberikan kasih yang tepat untuk mereka. Apa yang paling disukai dan membuat mertua Anda merasa dikasihi, itulah bahasa kasihnya. Jika bahasa kasih mertua Anda adalah pujian, maka memberikan hadiah-hadiah akan dianggap biasa saja oleh mertua. Akan tetapi jika ia dipuji akan sesuatu yang baik yang ia lakukan, maka ia akan merasa sungguh dikasihi. Itulah bahasa kasih. Dengan memberikan bahasa kasihnya, Anda akan mempunyai mertua yang menjadi sahabat Anda.


Selamat berjuang!

Oleh: dra. Catherine DML. Martosudarmo, M.Sc
Psikolog, Terapis Perkawinan dan Keluarga