Mengupayakan Guru Kreatif yang Rekreatif

11 November 2009 Artikel Pendidikan


Guru kreatif tidak pernah puas dengan apa yang ada pada dirinya. Dia terus belajar dan belajar sampai ajal menjemputnya. Baginya, menemukan sesuatu yang baru dalam pembelajaran adalah sesuatu hal yang harus dicari dan kemudian dibagikan kepada teman-teman guru lainnya. Tak mudah memang, tetapi di sinilah tantangannya bila kita mau terus introspeksi diri dalam pembelajaran yang kita lakukan di sekolah.

Begitulah sepenggal kutipan dari tulisan sahabat edukatif saya di Kompasiana, Wijaya Kusumah atau sering disebut Omjay. Sangat sepakat bahwa kreativitas tidak boleh pergi dari kehidupan seorang guru dalam dedikasinya mendampingi dan mendidik anak-anak bangsa. Kecintaan akan dunia pendidikan akan menjadi spirit yang dahsyat dalam berkreasi dalam proses pembelajaran bersama anak-anak dan pengembangan profesionalisme guru.

Kreativitas dan cinta benar-benar seperti bunga yang harus dipelihara sehingga tumbuh subur dan berbunga bagi kesegaran dan kebugaran dunia pendidikan. Dan ketika pendidikan ditempatkan layaknya tamasya atau rekreasi maka antusiasme dan kebahagiaan menjalaninya akan tergambar dalam kehidupan guru dan juga anak didik. Sebuah semangat kreatif dan rekreatif dalam pendidikan benar-benar menjadi sebuah ciri khas akan sebuah pendidikan yang berorientasi proses sebagai pembelajaran bersama.

Learning by doing menjadi sebuah model pembelajaran bersama antara guru dan anak-anak dalam bergelut dengan berbagai informasi, material, aktivitas, dan tujuan yang ada. Pembelajaran tidak akan diselimuti kebosanan oleh "bualan" guru yang tidak jelas arah dan tujuannya. Atau sebaliknya, guru tidak dibuat muak dengan tingkah laku aneh anak-anak sehingga terjebak pada aksi intimidasi dan penghakiman. Pembelajaran akan begitu indah dan menyenangkan serasa bertamasya di pantai dengan hamparan pasir yang menggelitik kaki indah kita dan bentangan samudra yang menyegarkan mata hati kita.

Anak-anak memiliki kesempatan melakukan sebuah kegiatan dalam proses pembelajaran sehingga mereka mampu menerapkan ilmu itu dalam tataran praktis. Uji coba, pentas, simulasi, dinamika kelas, desain aplikasi, debat, roleplay, dan penelitian adalah bentuk-bentuk pembelajaran dengan melakukan sesuatu.

Learning by teaching. Ini pun menjadi sebuah model pembelajaran bersama antara guru dan anak didik serta antar-anak didik itu sendiri. Guru bukanlah satu-satunya sumber pembelajaran tetapi siapa pun bisa menjadi sumber pembelajaran yang baik dan menarik. Pembelajaran dalam kelompok kecil atau besar akan menjadi sebuah model pembelajaran yang menarik untuk saling berbagi pengalaman dan ilmu. Perbedaan dalam kelompok adalah sebuah keragaman untuk saling melengkapi sehingga perbedaan bukan sebuah alasan untuk dipertentangkan.

Guru yang baik

Kadang kala anak-anak bisa menjadi guru yang baik bagi rekan sebayanya dengan bahasa dan pemahaman seumuran mereka. Bahkan, kreativitas dan inovasi itu dengan cepat dan luas muncul dalam pengajaran dengan sesama. Model Jigsaw dalam membedah sebuah buku di sebuah kelompok akan membuat mekansime pembelajaran itu efisien dan efektif. Lima topik dalam buku dibagi untuk lima anggota kelompok dan masing-masing bertanggung jawab atas bagiannya. Lalu, pada kesempatan berikutnya masing-masing orang akan menyampaikan apa yang dipahaminya untuk semua anggota kelompok.

Learning by assessing menjadi sebuah kekuatan tersendiri dalam sebuah pembelajaran untuk saling mengembangkan satu sama lain. Inti dari assessment bukanlah untuk sebuah penghakiman dengan mencari titik lemahnya namun justru untuk proses pengembangan dengan melihat kekurangan dan kelebihannya. Assessment yang baik dari guru juga akan menentukan arah pembelajaran itu. Bagaimana guru memberikan feedback adalah sebuah bentuk dari bagaimana guru itu benar-benar peduli akan proses pembelajaran anak didik. Feedback (baik lisan maupun tertulis) untuk setiap aktivitas anak didik sangat penting untuk mendampingi anak didik mencapai tujuan pembelajaran.

Bahkan dalam assessment antar-anak didik pun menjadi sebuah dinamika yang menarik di mana mereka bisa saling memberikan masukan atas hasil kerja atas pembelajaran tertentu. Menilai orang lain secara obyektif kadang sangat sulit. Begitu pula dengan anak didik sehingga mereka pun perlu diberi kesempatan untuk saling menilai satu sama lain.

Learning by reflecting adalah sebuah pembelajaran yang mengerucutkan semua pengalaman itu pada sebuah pemaknaan atas semua hal yang sudah dialami. Banyak acara darma wisata yang dilakukan sekolah-sekolah hanya menjadi sebuah rutinitas tahunan belaka. Sebuah proses untuk memaknai semua itu terabaikan sehingga selesai darma wisata berarti selesai sudah semuanya. Ketika refleksi dihadirkan dalam kegiatan darma wisata itu, ada sebuah peluang bagi anak-anak untuk bercerita dan mencurahkan pengalaman dan perasaan. Bahkan lebih dari itu, anak-anak bersama guru berusaha memaknai darma wisata itu sebagai bagian pengalaman hidup yang berharga untuk pribadi, kelompok kelas, dan sekolah. Begitu mengharukan sekali jika itu terjadi.

Sama halnya dengan proses pembelajaran, ketika tidak ada ruang dan waktu bagi anak-anak untuk memaknai semua pengalaman dalam pembelajaran maka hanya akan menjadi tumpukan pengalaman belaka di "gudang" kehidupan setiap anak. Refleksi dalam bentuk sharing kelompok kecil maupun besar, tulisan, atau simbol dalam gambar adalah sebuah aspek penting untuk menjadikan pembelajaran itu benar-benar menjadi pembelajaran sepanjang hayat lewat nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Akhirnya, guru kreatif yang rekreatif mampu mengimajinasikan pembelajaran sebagai sebuah tamasya ke pantai bersama anak-anak. Kegembiraan dan kebahagiaan mengawali perjalanan tamasya itu dan akhirnya pun diakhiri dengan sebuah kegembiraan dan kebahagiaan kembali dalam sebuah pemaknaan akan hidup ini yang merupakan sebuah pembelajaran yang tak ada hentinya. Lalu, kita akan tamasya ke mana lagi? Tampaknya mendaki gunung akan memberi pengalaman dan nuansa yang berbeda dengan pergi ke pantai. Mari! Pendidikan bukanlah sebuah tempat yang menyeramkan, tapi justru menyenangkan dan menggairahkan.

FX ArisWahyu Prasetyo Pendidik di SMA Kolese Loyola, Semarang

Sumber: Kompas Cetak (kompas.com)