Mengenal, Mendekati, dan Memotivasi Anak Melankolis

22 Juni 2016 Artikel Pendidikan   |    Kak Zepe


Anak-anak melankolis identik dengan sifatnya yang pemurung, penyendiri, pendiam, dan sulit ditebak. Namun bagaimana pun ia sangat suka perhatian dan berteman. Sebagai pendidik kita perlu tahu siapa saja diantara anak-anak didik kita yang memiliki sifat ini, sehingga kita pun menjadi paham cara mendekati dan memotivasi mereka.

1. Memahami pribadi

Bila ada anak didik kita yang suka menyendiri, kita jangan terlalu cepat menganggap bahwa ia adalah anak yang melankolis. Anak melankolis biasanya cenderung merasa nyaman saat ia sendiri, namun ia juga mudah tersinggung bila merasa dipaksa. Saat anak-anak lain merasa di-recharge dengan bermain bermain bersama teman-temannya, ia justru merasa di-recharge saat menyendiri dan jauh dari keramaian. Berbeda dengan anak yang biasanya terlihat ceria, namun tiba-tiba terlihat pendiam dan wajahnya murung. Kita perlu pendekatan yang berbeda dengan anak ini, karena ada kemungkinan ia sedang memikirkan sesuatu yang berat atau sedang mengalami suatu masalah. Anak-anak melankolis terkadang akan terlihat "lemot" dalam berpikir. Namun sebenarnya tidaklah demikian. Ia terbiasa memikirkan segala sesuatu secara matang, lalu mengambil keputusan. Sehinga segala sesuatu yang mendadak adalah hal yang sangat tidak ia suka.

2. Lakukan pendekatan

Walaupun anak-anak dengan tipe melankolis suka menyendiri, namun sebenarnya ia juga membutuhkan suatu suasana yang berbeda. Ia tetap suka bermain, walaupun porsinya memang berbeda dengan anak-anak yang lain, terutama yang memiliki sifat sanguinis (ceria). Adakalanya saat ia sedang menyendiri kita bisa menyapanya. Misalnya saat ia sedang membaca sebuah buku, kita bisa menanyakan padanya tentang buku apa yang ia baca, mengapa suka buku tersebut, dan lainnya. Kita tidak perlu menanyakan alasan mengapa ia memilih menyendiri apalagi memaksanya bermain dengan teman-temannya. Anak-anak dengan tipe ini adalah anak pemikir serta bisa berpikir jauh ke depan, sehingga ia sudah tahu tentang apa yang ia lakukan dan apa yang ia rasa baik bagi dirinya.

3. Agar ia terbuka

Anak-anak melankolis memang cenderung tertutup. Ia lebih suka meutupi apa yang ia rasakan. Ia bisa terbuka pada orang yang ia percaya atau orang yang ia hormati. Di hadapan anak melankolis, kita harus tampil dengan penuh wibawa. Sesekali bercanda memang tidak apa-apa, namun tidak perlu berlebihan juga. Karena sering memikirkan hal-hal yang "jauh ke depan", maka anak melankolis biasanya memiliki pola pikir yang lebih dewasa daripada teman-temannya, walaupun secara emosi ia tetaplah anak-anak. Agar ia bisa terbuka, kita perlu membuka diri kita terlebih dahulu. Kita perlu menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan diri kita. Sebagai pendidik tentu kita sudah mengenalnya dan apa yang ia suka. Saat kita menceritakan sesuatu tentang diri kita, kita bisa memilih topik yang berhubungan dengan kesukaannya. Misalnya, bila ia suka berbicara tentang luar angkasa, kita bisa menceritakan film tentang luar angkasa yang pernah kita tonton. Bila ia menanggapinya secara positif, itu adalah awal yang baik agar kita bisa dekat padanya dan mau terbuka dengan diri kita.

4. Cara memotivasinya

Agar anak-anak melankolis merasa dekat dengan kita, kita bisa memupuknya dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya dengan menyapanya terlebih dahulu atau memuji hal-hal yang baik tentang dirinya. Selain itu, dengan terus menghubungkan pengalaman kita dengan hal-hal yang ia suka, maka ia pun semakin lama akan merasa dekat dengan diri kita. Kedekatan inilah yang nantinya bisa membuat segala motivasi yang kita berikan akan memberikan pengaruh yang lebih baik dan efektif. Sifatnya yang cenderung tertutup membuatnya nyaman dekat dengan satu atau sedikit kawan saja. Namun kita bisa melatihnya untuk bisa bergaul dengan lebih banyak orang misalnya pada melakukan kegiatan berkelompok. Kita bisa menempatkannya pada kelompok siswa yang belum ia kenal dekat. Dari sinilah ia akan belajar untuk bisa dekat dengan lebih banyak kawan.

5. Mengembangkan bakatnya

Anak-anak melankolis biasanya akan fokus pada apa yang dia suka. Membutuhkan usaha ekstra baginya untuk bisa menampilkan sesuatu yang tidak ia suka di depan umum. Agar kepercayaan dirinya semakin terlatih, maka kita bisa memintanya untuk menampilkan apa yang ia suka terlebih dahulu. Misalnya, ia gemar belajar tentang IPA. Maka kita bisa menjadikan bidang tersebut sebagai salah satu cara untuk melatih kepercayaan dirinya. Misalnya dengan memberikan kesempatan padanya untuk mempraktikkan sebuah eksperimen di depan kelas. Saat kepercayaan dirinya mulai tumbuh inilah kita bisa melatihnya untuk melakukan hal-hal yang lain. Sehingga ia tidak hanya percaya diri saat menampilkan apa yang dia suka, namun juga mau belajar untuk menampilkan sesuatu yang tidak ia suka. Misalnya bernyanyi, menari, bercerita, dan aktivitas menarik lainnya.

6. Hal-hal yang perlu kita hindari

Kepekaan emosi dan empati seorang anak melankolis sangatlah tinggi. Maka kita perlu menghindari kata-kata yang bersifat memaksa. Ia lebih suka dipercaya dalam melakukan sesuatu. Ia juga lebih suka dibimbing, daripada didikte. Membimbing anak melankolis haruslah disertai dengan rasa percaya bahwa sang anak bisa melakukannya. Apalagi disertai dengan kata-kata yang menyemangati, misalnya dengan mengatakan, "Saya percaya kamu bisa melakukannya." Hal ini bisa membantu mengontrol emosinya, sehingga ia bisa melakukan tugas yang kita berikan dengan lebih baik.

(Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Pencipta Lagu Anak dalam aplikasi gratis" Lagu Anak Kak Zepe Vol 1 dan 2)