Mengatasi Si Kecil Tukang Pamer

26 September 2016 Artikel Pendidikan


Memiliki mainan baru, koleksi bonekanya bertambah, atau bahkan baru dibelikan baju baru. Kebiasaan pamer juga tak hanya dilakukan oleh orang dewasa. Melainkan juga anak-anak. Kebiasaan memamerkan barang-barangnya kepada teman juga kerap kali dilakukan untuk sekadar bisa dikagumi teman-temannya.

Nah, jika Anda mendapati si kecil berbuat seperti ini, Anda tentu harus menyikapi anak yang suka pamer dan menanganinya dengan tepat. Karena jika tidak, maka sifat seperti ini akan menetap pada dirinya.

Sebelum terlambat, berikut merupakan tips untuk para orangtua agar si anak tidak lagi jadi si tukang pamer.

Tidak Langsung Memberikan Label Sombong

Tahan dulu. Jangan langsung memberikan label kepada si kecil dengan label sombong. Karena sejatinya si anak hanya bersikap bangga apa yang dia miliki kepada teman-temannya karena ia hanya ingin mengenalkan diri. Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk mendampinginya pada masa-masa ini.

Katakan Padanya Kalau Anda Selalu Bangga Padanya

Dengan menunjukkan bahwa Anda selalu bangga apapun yang si kecil miliki, dengan begitu, anak menjadi mengerti dan tak perlu melakukan kebohongan yang kerap kali ia lakukan untuk sekadar menarik perhatian teman-temannya. Ketika anak sedang berlatih melakukan sesuatu namun belum bisa melakukannya, jangan memarahinya tapi berikan motivasi agar dia bersemangat melakukannya.

Berikan Contoh Kesedarhanaan

Kesederhanaan merupakan sikap yang perlu diajarkan sejak dini. Modal berharga ini tentu akan berguna kelak di kemudian hari. Bagi orangtua, beri contoh kesederhanaan. Anda juga bisa sesekali mengajaknya ke pantai asuhan untuk berbagi kepada anak-anak disana agar mereka bisa mensyukuri keadaannya, mengurangi hobi pamernya dan juga melatih kepekaan lingkungannya.

Katakan Kepadanya Kalau Sifat Itu Tidak Baik

Yang terakhir, tentu mengatakan kepadanya bahwa sikap pamer merupakan sikap yang tidak baik dan tidak terpuji. Namun, pastikan kalau Anda mengatakan hal tersebut dengan penuh kehati-hatian karena bisa saja anak merasa dimarahi ketika Anda mengungkapkannya. Ada baiknya jika Anda menggunakan media perantara seperti dongeng atau film yang menggambarkan kejujuran untuk memberi tahunya.

Oleh: Faqih F

(Dikutip dari berbagai sumber)