Mengapa Menulis Itu Sulit?

23 Januari 2017 Artikel Pendidikan   |    Giri Lumakto


Ini yang selalu saya bilang ke mahasiswa saya jika mereka kesulitan menuangkan ide ke tulisan.

"Karena jarak otak kita jauh dari tangan. Lebih mudah ngomong daripada nulis bukan?"

Dan jika ditelisik secara filosofi cocokologi hal ini saya kira benar. Jarak otak kita lebih dekat ke mulut. Sehingga segala impuls lebih reaktif dengan jarak yang lebih dekat. Lebih mudah ngobrol daripada menuangkannya ke tulisan. Karena tangan untuk menulis jauh dari kepala kita. Saraf yang berjalan ke tangan jaraknya jauh dari otak kita. Ukur saja secara sederhana. Jauh bukan jarak otak kita dengan tangan.

Ada axioma bahasa Inggris yang kiranya mendukung 'cocokologi' saya, yaitu "Better said than done". Lebih mudah berkata daripada berbuat.

Toh kita lebih senang berjanji daripada menepatinya, terkadang. Kita mungkin lebih suka lama-lama mengobrol daripada duduk diam menulis. Ada lebih banyak orang di kafe untuk nongkrong. Daripada jumlah orang yang sibuk menulis di kamar, perpustakaan, atau bahkan di kafe itu sendiri. Ngobrol 3 jam lebih tidak terasa. Daripada memandangi kertas atau layar Word untuk menuangkan ide.

Dan menyoal orang yang suka berbicara, kebetulan 'cocok' dengan peribahasa Indonesia, "Air beriak tanda tak dalam." Artinya, orang yang banyak berbicara tidak banyak ilmunya.

Namun bukan berarti semua orang yang suka berbicara tidak banyak ilmunya. Namun peribahasa ini bisa menjadi cerminan gejala yang umumnya ada di masyarakat. Banyak berbicara mungkin pun lebih mengacu kepada membual, bergosip, atau bahkan berbohong. Karena guru atau dosen misalnya, tidak berbicara di kelas malah disangsikan keilmuannya.

Kembali ke kenapa menulis itu sulit karena jarak otak kita yang jauh dari tangan, saya coba mensimbolisasikannya.

Mulut adalah sebuah simbolisasi aktifitas memerintah, mengomandoi, meminta atau memohon. Pada umumnya kita bertutur untuk memerintah anak dengan mulut atau ucapan. Aktifitas ini tidak cukup dengan lirikan mata atau jari telunjuk mungkin. Sehingga, simbolisasi ini menyiratkan kemanfaatan untuk diri (self). Kita meminta uang atau memohon maaf dengan berucap. Yang kita dapat, uang atau maaf adalah untuk diri.

Tangan adalah sebuah simbolisasi aktifitas memberi, mendorong, menarik atau meraih. Aktifitas ini semua kita lakukan dengan manfaat untuk orang lain (shared). Menulis lebih ditujukan untuk dibaca orang lain. Walau dari segi kemanfaatan relatif. Namun menulis itu berbagi dan memberi sesuatu dari kita untuk orang lain. Ada amalan, usaha, atau upaya agar untuk memberi apa yang kita fahami dengan menulis.

Sehingga analogi ini, mulut vs tangan kembali klop dengan judul diatas. Kita lebih suka apa yang bermanfaat untuk diri (dengan mulut) dibanding memberi untuk orang lain (dengan tangan). Kita lebih suka berbicara untuk berbagi beban diri daripada menulis untuk berbagi ilmu yang kita punyai.

Tidak semua orang berbakat menulis. Namun bakat menulis itu pun bukan bakat untuk beberapa orang saja. Menulis adalah talent learned, bakat yang dipelajari. Pilihan kata learn dalam bahasa Inggris mengacu untuk belajar yang casual, informal, bahkan seumur hidup. Sehingga ada istilah life-long learning, bukan life-long study. Karena study terlalu rigid, formal dan terbatas. Kita studi di SMP/SMA untuk 3 tahun, bukan untuk selamanya bukan?

Jadi, daripada terlalu banyak ngomong sehingga ngelantur kemana-mana, mulai latih tangan untuk menulis. Yakinlah, perkataan kita mudah dilupakan atau dipelintir orang lain. Namun tidak dengan tulisan kita. Pramoedya A.T di bukunya Demi Demokrasi pernah menulis:

"Sebagai pengarang, saya lebih percaya kepada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari menit, bahkan detik"

(Penulis merupakan alumnus di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan tulisan lainnya bisa dilihat di lumakto.blogspot.co.id)