Artikel Pendidikan
10 September 2009

Mendongeng,perkaya Imajinasi Anak

Mendongeng atau bercerita ternyata amat besar manfaatnya buat si kecil. Melalui dongeng yang dibacakan atau tuturkan pada anak, orangtua dapat menumbuhkan imajinasi si kecil sekaligus membangun hati nurani anak. Nasihat pun dapat disisipkan oleh orangtua dalam dongeng.

Anak juga dapat belajar merasakan empati dari apa yang dialami tokoh cerita idolanya. Biasanya, anak akan berimajinasi menjadi tokoh tersebut. Sayangnya, kesibukan ayah dan ibu seringkali merintangi aktivitas menyenangkan tersebut.

Padahal, melalui mendongeng hubungan anak dan orangtua bisa terjalin lebih erat karena terjadi interaksi yang begitu intens. Mendongeng juga dapat menumbuhkan minat baca anak. Selain itu, secara tak langsung akan membantu anak menambah perbendarahaan kata atau kosakata.

Menilik begitu banyak manfaat yang didapat anak lewat dongeng atau cerita yang dituturkan orangtua, Pengamat Pendidikan Anak sekaligus Praktisi Glenn Doman, Irene F. Mongkar menyarankan para orangtua mau meluangkan waktu untuk bercerita atau mendongeng untuk anak.

Tidak perlu harus selalu di malam hari. Pada siang atau sore pun, bisa. Tentu saja, pilih waktu yang tepat.

"Waktu yang paling tepat memang biasanya menjelang tidur. orangtua meluangkan waktu untuk bercerita kepada anak, cukup 10-15 menit saja setiap hari atau minimal dua kali seminggu," tegas Irene.

Mengenai banyaknya dongeng atau cerita untuk anak melalui VCD, Irene menuturkan, manfaat yang diperoleh tidak akan sama dengan orangtua yang mendongeng secara langsung.

Hal itu juga dipengaruhi oleh ekspresi orangtua ketika sedang bercerita atau mendongeng. Anak-anak sangat menikmati ekspresi orangtuanya ketika itu.

Jika orangtua menikmati bercerita maka ekspresinya akan ditangkap oleh anak. Hal ini yang akan mendekatkan hubungan antara orangtua dan anak, ujar Irene.

Memilih cerita merupakan faktor penting yang mesti dipertimbangkan orangtua. Sebab, pemahaman anak berbeda-beda sesuai usianya. Carilah cerita yang kira-kira dapat dipahami anak dan cocok dengan kadar emosional serta pengalaman mereka.

Anak usia 0-2 tahun, umumnya belum bisa berfantasi. Jika orangtua memilih bercerita dengan bantuan buku, cari buku dengan sedikit teks, tapi sarat gambar agar mereka tak bosan dan akhirnya berkurang minatnya.

Sedangkan, untuk anak usia 2-4 tahun, merupakan usia pembentukan. Banyak sekali konsep-konsep baru yang harus si kecil pelajari di masa ini. Anak amat suka mempelajari manusia dan kehidupan. Itulah sebabnya mereka suka sekali meniru tingkah laku orang dewasa. Misalnya, diungkapkan lewat main tamu-tamuan, dokter-dokteran, dan lainnya.

Bagi umat muslim, Anda bisa memperkenalkan konsep sholat atau berpuasa kepada si kecil. Sisipkan juga doa-doa pendek yang dapat dihapalkan anak dengan mudah. Jika perlu, masukkan ke dalam dongeng yang Anda ceritakan.

Fantasi si kecil mencapai puncaknya saat mereka berusia 4 tahun. Begitu tingginya daya imajinasi anak pada usia ini, kadang dia tidak bisa membedakan antara kenyataan dan fantasi. Hal itu yang menyebabkan ana usia 2-4 tahun amat takut pada kegelapan atau sesuatu yang menakutkan.

Berlanjut untuk anak usia 4-7 tahun, maka si kecil sudah bisa diperkenalkan pada dongeng-dongeng yang lebih kompleks. Mereka juga sudah mulai menyukai cerita-cerita tentang terjadinya suatu benda dan bagaimana cara kerja sesuatu. Inilah kesempatan orangtua untuk mendorong minat anak.

Pada usia tersebut, anak sudah bisa diperkenalkan mengenai cerita yang lebih ilmiah misalnya mengenai asal mula buah dari pohon di depan rumah. Pada usia tersebut, Anda juga bisa menceritakan kisah nabi dan berbagai keagungan ciptaan Allah SWT.

Saat anak duduk di bangku SD pun, dongeng masih efektif untuk diberikan. Tidak ada batasan kapan mendongeng sebaiknya dihentikan. Selama anak dan orangtua merasa senang dan bisa mengambil manfaatnya, maka selama itu pula dongeng bisa dilakukan bersama. (ri)

Tips Praktis Mendongeng

Bila Anda sudah berniat mulai mendongeng untuk si kecil, jangan takut. Beberapa tips teknis yang akan mempermudah penyampaian pesan Anda, antara lain:
Bisa membacakan cerita atau menceritakan kembali isi cerita. Caranya bisa orang tua berhadapan dengan anak atauorang tua di samping anak membaca bersama-sama.Cerita bisa dibuat sendiri. Ada yang dibuat sampai jadi lalu diceritakan, bisa juga mengarang sambil mendongeng sehingga anak boleh mengusulkan saat pendongeng bercerita. Pendongeng yang membuat cerita sendiri ini membutuhkan kemampuan dan pengalaman supaya dongengnya tidakmacet di tengah jalan. Harus ada konsistensi, tokoh-tokohnya jangan sampai lupa.Perhatikan durasi dan waktu. Cerita sebelum tidur itu cukup baik. Hanya lebih baik lagi kalau disampaikan pada waktu yang tepat misalnya setelah belajar. Cerita menjelang tidur sebaiknya pendek saja, 15-20 menit sudah cukup, terutama bila anak sudah mengantuk. Yang penting ada kesepakatan tentang frekuensi dalam seminggu. Anda kadang memberikan cerita sebagai hadiah itu baik, karena menjadi kejutan bagi anak.Hindari cerita mengandung konflik bertingkat. Maksudnya, cerita di mana pemerannya kalah dulu,kemudian akhirnya menang. Sebab, jangan-jangan ketika pemerannya kalah, anak sudah tertidur. Bagaimana pun cerita yangmenarik itu ada unsur konfliknya, tetapi harus disesuaikan kemampuan si anak menangkap cerita. Anak TK membutuhkan cerita yang sederhana.Setelah mendongeng, diskusikan dengan anak. Sebagai usaha untukmenginternalisasikan nilai cerita pada anak. Misalnya, Adik pernah membantu menolong ibu menyiram tanaman seperti tokoh Lila tadi kan?. Hal itu mendorong anak untuk berbuat baik seperti yang dilakukan tokoh cerita dalam dongeng. Selamat mendongeng! (ri)Sumber: Republika Online (republika.co.id)

Artikel Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Karir Iklan Baris