Artikel Pendidikan
13 Agustus 2012

Mendidik Anak Sendiri

oleh: Mr.Urip

Setiap anak adalah titipan atau amanah Tuhan kepada orang tua. Meskipun orang tidak mesti secara langsung mengajarinya tentang semua hal. Orang tua berkewajiban memfasilitasinya untuk bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Oleh karena itu orang tua menitipkannya ke lembaga pendidikan yang dipercayainya dengan harapan anaknya bisa berkembang kemampuannya agar kelak bisa lebih baik keadaannya dan siap menghadapi tantangan kehidupan.

Secara kebetulan ada orang tua yang berprofesi guru, kalau pun ia mempunyai anak kecil kemungkinan ia sanggup mendidiknya sendirian. Tetap ia akan meminta bantuan lembaga pendidikan agar anaknya memperoleh pengajaran yang lengkap. Kodrat manusia kemampuannya tidak ada yang sempurna, untuk itulah ada lembaga pendidikan. Meskipun demikian tanggap jawab orang tua tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada lembaga pendidikan, lebih-lebih orang tua dengan profesi guru.

Sebagai orang tua yang punya profesi guru, saya berpendapat bahwa kita punya kewajiban lebih, setidaknya dengan bidang yang kita ajarkan di sekolah. Misalnya jika orang tua berprofesi guru matematika maka ada semacam keharusan yang tak tertulis bahwa anak guru tersebut harus bisa matematika. Keharusan ini tentu tergantung juga kepiawaian orang tua mengondisikan anak agar akrab dengan bidang pekerjaan orang tuanya yaitu mengajar dan belajar matematika. Akan terjadi otomatisasi di sana. Ada perasaan yang mengatakan apa kata orang jika orang tua guru matematika namun anaknya tidak punya kemampuan lebih di bidang matematika.

Sedikit pengalaman saya terhadap anak saya.

Sementara ini anak saya kedua baru lulus SD, saya mengajar kimia di jenjang SMA, dan istri saya guru matematika di jenjang SMP. Jika selama SD matematika di bawah bimbingan ibunya, kini saya coba untuk ambil alih sebagai bapaknya (kebetulan anak saya laki-laki). Setidaknya menjaga hubungan dekat antara saya dengan anak saya.

Prestasi anak saya selama SD terbilang biasa-biasa saja di sekolahnya. Tidak pernah mendapatkan peringat terbaik di sekolahnya dan kami enjoy saja dan tetap menyemangati bahwa peringkat atau ranking itu tidak ada gunanya kalau nilainya tidak bagus apalagi tidak bisa mempertahankannya. Secercah kemampuan lebih di bidang MIPA sempat kami lihat, kami mengamatinya begitu. Niat kami adalah bagaimana bisa mengoptimalkan kemampuan dan minat anak tadi. Kami tau itu saja tidak akan mendongkrak peringkat di sekolah, dan memang bukan itu tujuannya. Pasti ada sisi positifnya agar ia mencontoh temannya yang hebat baik di sekolahnya atau di sekolah lain. Ada hasilnya juga ternyata.

Sejak kelas 3 hingga kelas 5 ia meminati MIPA terutama matematika. Beberapa kali ia mengikuti lomba bidang MIPA di skala kabupaten, hebatnya ia selalu mendapatkan peringkat 1 walau sekedar harapan . Ya masih belum begitu banyak yang ia bisa kuasai dibanding rekannya dalam level kabupaten, hanya juara harapan 1. Sampai akhirnya ia sampai juga di peringkat 2 level propinsi dalam ajang seleksi OSN (olimpiade sain nasional) dan punya kesempatan mewakili propinsi pada ajang OSN di Manado 2011 lalu. Alhasil dia tidak mendapatkan satu medali pun. Tapi dia menikmati sekali karena bisa jalan-jalan gratis .

Meski kadang ia harus diingatkan untuk belajar, terbersit ada motivasi tersendiri dalam dirinya dengan keadaannya yang belum banyak menguasai materi pelajaran, matematika utamanya. Bersyukur punya anak penurut, walau tidak jenius. Karena tidak jenius maka konsekuensinya ia harus rajin. Itu selalu kami tekankan. Sebab orang yang rajin akan berhasil kelak.

Setelah UN maka kami programkan agar ia melahap materi matematika SMP hingga tuntas sebelum ia masuk SMP. Ini adalah program untuk menuruti kemaunnya agar bisa jalan-jalan gratis lagi, tentu saja kalau bisa mewakili provinsi di ajang OSN tahun depan. Berbagai jenis buku matematika tersedia di meja dan lemari buku. Meskipun tidak rutin ia belajar tapi tiap hari ada target yang harus ia kuasai. Sadar bahwa rival-nya untuk lolos tingkat kabupaten dan provinsi adalah kakak kelasnya ia tetap optimis.

Demikian pengalaman yang belum menunjukkan hasil namun dengan logika kalau ia rajin dan tekun maka peluang untuk mencapai cita-citanya semoga tercapai.

Sembari browsing (berselancar) di internet ketika saya mendapatkan artikel bagus saya selalu tunjukkan ke anak saya, setidaknya agar ia tahu cerita bagaimana keberhasilan orang itu ia capai. Sebenarnya kami tidak memaksakan agar ia selalu berprestasi tapi ia sendiri punya keinginan mencapai targetnya, maka kami hanya mendampingi dan membimbingnya. Kalaupun ia tidak mencapainya setidaknya ia punya pondasi yang kokoh dalam bidang yang ia gemari sekarang.

Keberhasilan mendidik anak sendiri tentu tidak mesti berupa angka-angka mati tanpa makna. Penyiapan diri akan masa depan dengan penuh tantangan adalah yang utama, dengan jalan penanaman tekad teguh, selalu ulet, dan rajin untuk menyelesaikan masalahnya sendiri adalah jauh lebih utama. Semoga kita orang tua yang sekaligus jadi guru lebih tahu bagaimana membawa anak kita ke jalur yang kita kehendaki.

Bagaimana dengan anak saudara?

Penulis adalah Guru Kimia dan IT di Kalimantan Tengah

Artikel Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Lowongan Iklan Baris