Mendengar Anak adalah Kunci Jadi Orangtua yang Berhasil

21 Agustus 2017 Artikel Pendidikan


Bagi sebagian orang tua, menjadi pendengar yang baik untuk anak-anaknya mungkin bukan perkara mudah. Ada ego dalam diri pribadi yang merasa paling tahu dan paling benar, sehingga apa yang disampaikan anaknya selalu dimentahkan. Psikolog anak Efnie Indiranie mengatakan, untuk menjadi orang tua yang mendengarkan, hal terpenting yang harus dimiliki adalah self control yang baik. Tahan diri untuk tidak langsung menimpali sebelum anak selesai bercerita. Sebagai orang dewasa, kita sebetulnya punya kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Berarti kalau mau jadi pendengar yang baik untuk anak kita, cari tahu dulu apa yang disenangi mereka.

Mendengar dan didengar merupakan proses yang terjadi dalam sebuah komunikasi efektif. Kemampuan Anda berkomunikasi, tidak saja ditentukan oleh keterampilan Anda dalam menyampaikan pesan, melainkan juga kemampuan dalam mendengar. Kemampuan mendengar ini tidak datang begitu saja, karena hampir setiap orang lebih suka berada dalam posisi didengarkan daripada mendengarkan. Terlebih bila yang menjadi lawan bicara adalah buah hati kita sendiri. Di sinilah kesalahan komunikasi terjadi. Agar kita mampu menjalin komunikasi efektif dengan anak-anak, alangkah baiknya bila kita belajar menjadi pendengar yang baik.

Berikut beberapa hal agar kita menjadi pendengar yang baik bagi anak:
1. Luangkan waktu

Hal dasar untuk menjadi pendengar yang baik adalah meluangkan waktu sesibuk apapun kita, sediakanlah waktu khusus untuk mendengarkan cerita mereka dan pastikan mereka tidak merasa kekurangan waktu bersama kita.

2. Beri respon
Jangan setengah-setengah memberikan saat menjadi pendengar yang baik. Berikan respon agar anak merasa bahwa kita tertarik dengan ceritanya. Tatapan mata dan gesture bisa menjadi indikasi bahwa kita merespon ceritanya. Ketika kita mendengarkan cerita anak sambil memasak ataupun melakukan aktivitas, pastikan kita memberikan kode bahwa kita mendengarkan meskipun kita tidak menatap matanya.

3. Berikan pertanyaan
Pancing kreativitas anak dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mampu membuat mereka bercerita lebih banyak. Berikan juga pertanyaan seperti ‘bagaimana kalau’ agar mereka mampu mengembangkan pemikiran mereka ke hal-hal baru. Berikan juga pertanyaan tentang apa yang telah ia pelajari dan lakukan hari ini.

4. Koreksi ucapan yang kurang benar
Anak biasanya mengucapkan kata-kata dengan salah ataupun tidak pantas. Ketika mereka mengucapkan kata-kata dengan salah, jangan ditertawakan ataupun menirukannya, contohnya anak tidak bisa berkata ‘komputer’ melainkan ‘komputel’, kita harus segera mengoreksi ucapannya. Jangan pula menggunakan bahasa kekanakan-kanakan yang tidak jelas dengan maksud menyesuaikan gaya bicara mereka. Jika kita melakukannya, kita telah memberikan contoh bahasa yang salah kepada anak. Begitu pula bila anak mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, berikan koreksi pada mereka dan beri tahu bahwa kata-kata tersebut tidak pantas diucapkan.

5. Berikan solusi
Ketika anak menceritakan kenakalan teman-temannya, jangan mengompori mereka untuk bertindak nakal maupun membalas dendam. berikanlah solusi agar mereka dapat menyelesaikan masalah di sekolah atau taman bermain tanpa mengadu domba mereka. Katakanlah pula apa yang harus dilakukan ketika anak menghadapi sesuatu.

Ingat! orang orangtua adalah panutan bagi anak-anak. Maka, berikan contoh baik kepada mereka.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)