Mencegah Perilaku Anarkis Sejak Dini

13 Juli 2016 Artikel Pendidikan   |    Kak Zepe


Anak-anak melakukan kenakalan-kenakalan adalah hal yang biasa. Namun kadang saya merasa prihatin bila ada seorang anak didik saya yang melakukan tindak kekerasan kepada temannya, misalnya dengan cara memukul teman lainnya. Namun kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak memang tidak asing lagi. Banyak video yang bisa kita tonton di Youtube menampilkan adegan perkelahian antar siswa SD atau penindasan (bullying) yang dilakukan oleh sekelompok anak kepada seorang anak yang dianggap lemah. Bagaimana untuk mengatasi hal ini di sekolah?

1. Mengajarkan kesabaran

Kesabaran tidak hanya ditunjukkan dengan sikap menahan emosi saat berselisih dengan orang lain, misalnya anak didik atau rekan kerja. Kesabaran juga perlu ditunjukkan dengan ketenangan saat mengerjakan sesuatu, misalnya saat mengajar, saat membantu anak didik menyelesaikan masalah, saat makan, dan saat berkegiatan sehari-hari. Bila kita sudah mulai terlihat "grusa-grusu", sebaiknya kita mencari waktu untuk menenangkan diri kita. Karena saat hati kita merasa tenang, maka hal ini juga akan memberikan efek ketenangan kepada anak-anak didik kita.

2. Mengajarkan kelemahlembutan

Sikap lemah lembut bisa kita lakukan dengan cara bersikap sopan kepada rekan sesama guru, gemar memberikan perhatian kepada anak-anak didik, bersikap hormat kepada semua orang termasuk kepada para pegawai yang memiliki tingkatan yang lebih rendah dengan kita, misalnya petugas kebersihan, petugas keamanan, tukang kebun, dan lainnya. Sikap ini juga bisa terlihat dari nada bicara kita, ekspresi saat berbicara, tingkah laku kita, dan lainnya. Terkadang kita tidak menyadari kalau kita kurang bisa bersikap lemah lembut. Agar kita menyadarinya, kita bisa sering-sering melakukan kegiatan "sharing" dengan rekan sesama guru, misalnya dengan bertanya, "Apakah aku sudah murah senyum? Apakah wajahku terlihat ramah? Apakah ada perilakuku yang kurang menyenangkan?"

3. Menjadi perantara anak-orang tua

Perilaku anak kasar atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak usia dini terkadang terjadi karena permasalahan yang terjadi di rumah anak didik. Misalnya orang tua yang kurang bisa menjadi teladan kesabaran, orang tua sering berkata atau berperilaku kasar, atau permasalahan lainnya. Peran guru sangat penting dalam hal ini. Namun kita perlu memperhatikan kata-kata kita saat menyampaikan hal ini kepada orang tua. Perlu kita hindari kata-kata yang menyudutkan orang tua. Misalnya, ada anak didik yang suka berkata kasar. Cara menyampaikan kepada orang tua adalah dengan bertanya, "Kira-kira apa ya yang menyebabkan si A suka berkata kasar? Padahal di sekolah tidak ada teman yang mengajarkan hal ini, apalagi para guru ." Walaupun si A sudah menyampaikan kepada kita, bahwa yang sering mengucapkan kata-kata kasar tersebut adalah orangtuanya sendiri.

4. Saling bermaaf-maafan adalah hal yang hebat

Ada dua anak didik saya sedang berselisih. Si A bermaksud bercanda kepada B dengan cara menujurkan lidahnya kepada si B. Si B malah tersinggung, lalu marah kepada si A dengan cara membentak. Lalu si A pun tidak terima dibentak dihadapan teman-temannya, dan akhirnya saya sendiri yang harus menyelesaikan. Dalam hal ini, memang tidak ada pihak yang salah dan benar. Bila hal ini terjadi, biasanya tidak ada pihak yang bersedia mengawali untuk minta maaf. Penyebabnya adalah karena gengsi. Mereka berpikir bahwa orang yang pertama mengulurkan tangannya (meminta maaf) adalah pihak yang salah. Untuk mencegah hal ini, kita perlu menanamkan kepada anak-anak didik kita bahwa sikap mau meminta maaf adalah suatu hal yang hebat dan merupakan suatu sikap yang menunjukkan kedewasaan seseorang. Bila memang keduanya tetap teguh pada pendirian mereka, kita bisa membantu mereka dengan mengulurkan tangan secara bersamaan dan saling bermaafan.

5. Menerima kelemahan setiap anak didik

Kadang kita menganggap bahwa anak-anak didik kita sebagai pribadi yang lucu dan menggemaskan. Namun kita kadang lupa bahwa mereka masih anak-anak yang masih suka melakukan kesalahan karena keaktifan mereka, kegemaran mereka untuk bercanda, atau perilaku "nakal" lainnya. Sebagai pendidik, kita perlu menyadari akan hal ini. Agar kita tidak terlalu "shock" dengan perilaku-perilaku anak, kita perlu memahami tahap perkembangan anak seturut dengan usianya, bukan hanya sekedar wujud fisiknya saja. Banyak anak-anak zaman sekarang yang tumbuh lebih cepat (memiiki ukuran fisik yang lebih "dewasa"), namun perilakunya tidak sesuai dengan wujud fisiknya. Kita perlu belajar membaca buku-buku perkembangan anak (atau sumber lainnya), sehingga kita bisa memahami priadi anak dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka, sehingga tau cara mendidik mereka.

(Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Pencipta Lagu Anak dalam aplikasi gratis" Lagu Anak Kak Zepe Vol 1 dan 2)